Menu

Jumat, 17 Januari 2014

Kepemimpinan


Di bawah ini merupakan sepeggal kisah yang saya petik dari buku berjudul "kisah-kisah Rasulullah" karangan Abbas Ali al-Musawi
 *****
Kisah Sedekah dan Al-Wilayah (Kepemimpinan)


Sebentar lagi masuk waktu Shalat Zuhur. Muslimin menghentikan pekerjaan mereka dan bersiap-siap untuk shalat, yang diwajibkan kepada mereka.
Sang muazin mengumandangkan azan. Seruannya menembus keberadaan dan semua maujud pun mengulangi seruannya. Itu adalah himne ilahiah. Lagu samawi yang menyeru menusia kepada perjumpaan dengan Allah, tawajuh dengan beribadah, dan khusyuk kepada-Nya. Itulah suara untuk segenap kaum muslimin, yang memanggil agar mendirikan shalat. Maka, secepat mungkin mereka datang menyambut seruan itu.
Muslimin berangkat, digerakkan oleh satu orang. Mereka lalu mengambil wudlu sesuai yang diajarkan, syarat-syarat dan batasan-batasannya, lengkap dengan sunnah-sunnahnya. Mereka dalam kerinduan yang dalam untuk dapat berdiri menghadap Allah. Terlebih, shalat mereka diimami oleh Rasulullah saw, sang duta langit.
Betapa indah posisi mulia di belakang Rasulullah saw. Betapa agung keberkahannya. Inilah lukkisan rabbaniyah tatkala terbimbing ke arahnya, dari imam ke makmum. Para makmum mengikuti di belakang imam dalam rukuk, sujud, dan sebagainya. Jika lukisan itu ditampilkan, maka yang ada hanyalah perasaan kagum terhadapnya, bertasbih kepada Sang Pencipta, dan bershalawat kepada Nabi saw sebagai imam kaum muslimin salam shalat mereka.
Muslimin berkumpul di masjid Nabi saw. Mereka berbaris di belakang Rasulullah saw dalam shaf yang rapat, yang di antara para mushalli (orang yang shalat) tiada celah yang dapat dimasuki setan. Dalam bentuk sebuah barisan yang sama seperti barisan geligi sisir. Bahu-bahu paralel. Suara takbir Nabi saw tinggi, maka semua makmum ikut bertakbir dan memperhatikan imam. Beliau membaca dan muslimin diam memperhatikan. Shalat terpimpin hingga akhir.
Shalat belum selesai, saat mereka rukuk, terdengar suara yang menyentuh. Suara seorang lelaki yang sangat membutuhkan bantuan, lemah lantaran kefakiran, sehingga terpaksa tengadahkan tangan, mengemis kepada hamba-hamba Allah.
Suaranya, memohon bantuan kepada kaum muslimin agar membantunya dengan sedikit harta Allah. Dengan begitu akan ringan kesulitan yang dialaminya. Itu adalah suara yang takkan meninggi kecuali dalam kebutuhan mendesak. Jika demekian, berarti dia dalam keperihan dan penderitaan.
Cukup keras suara peminta itu memohon bantuan kepada kaum muslimin. Namun dia tidak mendapati seorang pun yang memberinya. Keadaan memang sedang krisis. Muslimin dalam kesulitan. Setiap orang beralasan tak punya.
Saking sulitnya dan sangat membuthkan pertolongan, dia menjerit sekeras-kerasnya kepada Tuhannya-barangkali ini juga dapat menyentuh perasaan sebagian orang, “Ya Allah, saksikanlah! Aku mengemis di masjid Rasulullah saw dan tak seorang pun yang memberiku!”
Ini adalah kata-kata yang keluar dari lisan yang menderita, yang menjadikan Allah sebagai saksi bahwa dia telah meminta, tapi tak ada yang memberinya, walau hal itu didengan oleh kaum muslimin. Nyaring suaranya di telinga mereka dan menyentuh. Mata melihat, namun tangan tak sampai. Siapa yang kikir, sesungguhnya dia kikir pada dirinya sendiri.
Si pengemis tidak menemukan orang yang memberinya. Tetapi dia tak berputus asa. Pandangannya menyapu semua orang. Tiba-tiba, ada suatu tangan yang pemiliknya sedang rubuk, mengisyaratkan padanya. Isyarat mudah dipahami. Maka, si fakir itu maju. Entah cincin di tangan itu jatuh atau dia mengambilnya sebagaimana yang diisyaratkannya. Kini si peminta ini dapat bernafas lega, karena tangan dermawan itu, yang mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadinya. Satu-satunya tangan yang bersedekah. Memberi dan maju tanpa ragu. Tangan itu terbiasa dan selalu unggul dengan kebaikan. Satu kali pun, tak pernah tercemar tangan itu oleh kata “tak mampu dan tak punya”.
Itulah tangan suci yang menjulur, membantu orang fakir tatkala semua tangan tak memberi. Entah karena tak mampu atau kikir atau sebab lainnya. Tangan itu menjulur, disaksikan para mushalli dan dalah kehadiran Nabi saw. Semua yang hadir terkesan oleh kemurahannya. Hal ini melahirkan peristiwa tentang jiwa yang baik, yang berderma. Nabi saw merasakan kepekaan yang mendorong Ali untuk memberi. Di mata beliau, inilah keimanan, ketulusan, dan kelembutan hati, serta kejernihan jiwa.
Maka, beliau mengangkat tangan seraya berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya saudaraku Musa memohon kepada-Mu, ‘Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku. Mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku. Supaya mereka mengerti perkataanku.
Karuniakanlah kepadaku seorang wakil dari keluargaku. Harun saudaraku! Kokohkan dayaku dengannya dan gabungkanlah dia dalam urusanku. ‘Lalu, turunlah wahyu kepada Musa yang mengatakan: Kami (Allah) akan membantumu dengan saudaramu, dan kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu.
Ya Allah, aku Muhamad, nabi-Mu dan kekasih-Mu! Ya Allah, lapangkanlah untukku dadaku. Mudahkanlah untukku urusanku. Karuniakanlah kepadaku seorang wakil, yaitu Ali dari keluargaku. Tegakkan punggungku dengannya.”
Usai berdoa, turunlah firman Allah:
Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).
            Dengan ayat ini, al-wilayah (kepemimpinan) dikhususkan hanya untuk Allah, Rasulullah, dan Imam Ali. Dan ayat ini, khilafah (kepemimpinan) sesudah Rasulullah saw adalah hak Imam Ali.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar