Di bawah ini merupakan sepeggal kisah yang saya petik dari buku berjudul "kisah-kisah Rasulullah" karangan Abbas Ali al-Musawi
*****
Kisah Sedekah dan Al-Wilayah (Kepemimpinan)
Sebentar lagi masuk waktu Shalat
Zuhur. Muslimin menghentikan pekerjaan mereka dan bersiap-siap untuk
shalat, yang diwajibkan kepada mereka.
Sang muazin mengumandangkan azan. Seruannya
menembus keberadaan dan semua maujud pun mengulangi seruannya. Itu adalah himne
ilahiah. Lagu samawi yang menyeru menusia kepada perjumpaan dengan Allah, tawajuh
dengan beribadah, dan khusyuk kepada-Nya. Itulah suara untuk segenap kaum
muslimin, yang memanggil agar mendirikan shalat. Maka, secepat mungkin mereka
datang menyambut seruan itu.
Muslimin berangkat, digerakkan oleh
satu orang. Mereka lalu mengambil wudlu sesuai yang diajarkan, syarat-syarat
dan batasan-batasannya, lengkap dengan sunnah-sunnahnya. Mereka dalam kerinduan
yang dalam untuk dapat berdiri menghadap Allah. Terlebih, shalat mereka diimami
oleh Rasulullah saw, sang duta langit.
Betapa indah posisi mulia di belakang
Rasulullah saw. Betapa agung keberkahannya. Inilah lukkisan rabbaniyah tatkala
terbimbing ke arahnya, dari imam ke makmum. Para makmum mengikuti di belakang
imam dalam rukuk, sujud, dan sebagainya. Jika lukisan itu ditampilkan, maka
yang ada hanyalah perasaan kagum terhadapnya, bertasbih kepada Sang Pencipta,
dan bershalawat kepada Nabi saw sebagai imam kaum muslimin salam shalat mereka.
Muslimin berkumpul di masjid Nabi
saw. Mereka berbaris di belakang Rasulullah saw dalam shaf yang rapat, yang di
antara para mushalli (orang yang shalat) tiada celah yang dapat dimasuki setan.
Dalam bentuk sebuah barisan yang sama seperti barisan geligi sisir. Bahu-bahu
paralel. Suara takbir Nabi saw tinggi, maka semua makmum ikut bertakbir dan memperhatikan
imam. Beliau membaca dan muslimin diam memperhatikan. Shalat terpimpin hingga
akhir.
Shalat belum selesai, saat mereka
rukuk, terdengar suara yang menyentuh. Suara seorang lelaki yang sangat
membutuhkan bantuan, lemah lantaran kefakiran, sehingga terpaksa tengadahkan
tangan, mengemis kepada hamba-hamba Allah.
Suaranya, memohon bantuan kepada kaum
muslimin agar membantunya dengan sedikit harta Allah. Dengan begitu akan ringan
kesulitan yang dialaminya. Itu adalah suara yang takkan meninggi kecuali dalam
kebutuhan mendesak. Jika demekian, berarti dia dalam keperihan dan penderitaan.
Cukup keras suara peminta itu memohon
bantuan kepada kaum muslimin. Namun dia tidak mendapati seorang pun yang
memberinya. Keadaan memang sedang krisis. Muslimin dalam kesulitan. Setiap orang
beralasan tak punya.
Saking sulitnya dan sangat membuthkan
pertolongan, dia menjerit sekeras-kerasnya kepada Tuhannya-barangkali ini juga
dapat menyentuh perasaan sebagian orang, “Ya Allah, saksikanlah! Aku mengemis
di masjid Rasulullah saw dan tak seorang pun yang memberiku!”
Ini adalah kata-kata yang keluar dari
lisan yang menderita, yang menjadikan Allah sebagai saksi bahwa dia telah
meminta, tapi tak ada yang memberinya, walau hal itu didengan oleh kaum
muslimin. Nyaring suaranya di telinga mereka dan menyentuh. Mata melihat, namun
tangan tak sampai. Siapa yang kikir, sesungguhnya dia kikir pada dirinya
sendiri.
Si pengemis tidak menemukan orang
yang memberinya. Tetapi dia tak berputus asa. Pandangannya menyapu semua orang.
Tiba-tiba, ada suatu tangan yang pemiliknya sedang rubuk, mengisyaratkan
padanya. Isyarat mudah dipahami. Maka, si fakir itu maju. Entah cincin di
tangan itu jatuh atau dia mengambilnya sebagaimana yang diisyaratkannya. Kini si
peminta ini dapat bernafas lega, karena tangan dermawan itu, yang mendahulukan
kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadinya. Satu-satunya tangan yang
bersedekah. Memberi dan maju tanpa ragu. Tangan itu terbiasa dan selalu unggul
dengan kebaikan. Satu kali pun, tak pernah tercemar tangan itu oleh kata “tak
mampu dan tak punya”.
Itulah tangan suci yang menjulur,
membantu orang fakir tatkala semua tangan tak memberi. Entah karena tak mampu atau
kikir atau sebab lainnya. Tangan itu menjulur, disaksikan para mushalli dan dalah kehadiran Nabi saw. Semua
yang hadir terkesan oleh kemurahannya. Hal ini melahirkan peristiwa tentang
jiwa yang baik, yang berderma. Nabi saw merasakan kepekaan yang mendorong Ali
untuk memberi. Di mata beliau, inilah keimanan, ketulusan, dan kelembutan hati,
serta kejernihan jiwa.
Maka, beliau mengangkat tangan seraya
berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya saudaraku Musa memohon kepada-Mu, ‘Ya Tuhanku,
lapangkanlah untukku dadaku. Mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah
kekakuan dari lidahku. Supaya mereka mengerti perkataanku.
Karuniakanlah kepadaku seorang wakil
dari keluargaku. Harun saudaraku! Kokohkan dayaku dengannya dan gabungkanlah
dia dalam urusanku. ‘Lalu, turunlah wahyu kepada Musa yang mengatakan: Kami
(Allah) akan membantumu dengan saudaramu, dan kami berikan kepadamu berdua
kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu.
Ya Allah, aku Muhamad,
nabi-Mu dan kekasih-Mu! Ya Allah, lapangkanlah untukku dadaku. Mudahkanlah untukku
urusanku. Karuniakanlah kepadaku seorang wakil, yaitu Ali dari keluargaku. Tegakkan
punggungku dengannya.”
Usai berdoa, turunlah firman Allah:
Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan
orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya
mereka tunduk (kepada Allah).
Dengan ayat
ini, al-wilayah (kepemimpinan) dikhususkan hanya untuk Allah, Rasulullah, dan Imam
Ali. Dan ayat ini, khilafah (kepemimpinan) sesudah Rasulullah saw adalah hak
Imam Ali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar