Ernest Mandel
Pengenalan Kepada Teori Ekonomi Marxis
Versi Online: Marxists
Internet Archive, 2006.
Alih bahasa: Nestor Paz Zamora, 2006
Alih bahasa: Nestor Paz Zamora, 2006
I. Teori Nilai dan
Nilai Lebih
Dalam analisa terakhir, setiap langkah maju dalam sejarah peradaban telah
terjadi karena peningkatan produktivitas kerja. Selama sekelompok manusia
tertentu dengan susah payah memproduksi dengan cukup untuk mempertahankan hidup
mereka sendiri, selama tidak ada surplus diatas produk kebutuhan tersebut,
adalah tidak mungkin terjadi pembagian kerja dan kemunculan pekerja tangah
ahli, artis atau kaum terpelajar. Dibawah kondisi tersebut, prasyarat untuk
spesialisasi semacam itu tidak didapatkan.
I.1 Produk Surplus Sosial
Selama produktivitas kerja tetap pada tingkat dimana satu orang hanya dapat
menghasilkan cukup untuk kebutuhan hidupnya sendiri, pembagian sosial tidak
terjadi dan diferensiasi sosial apapun didalam masyarakat adalah tidak mungkin.
Dibawah kondisi tersebut, semua orang adalah produsen dan mereka semua ada pada
tingkat ekonomi yang sama.
Setiap peningkatan dalam produktivitas kerja melewati titik rendah tersebut
membuat surplus kecil menjadi mungkin, dan seketika terdapat surplus produk,
seketika dua tangan manusia dapat memproduksi lebih dari yang dia butuhkan untuk
kebutuhan hidupnya sendiri, kemudian kondisi telah dibentuk untuk sebuah
perjuangan bagaimana surplus tersebut akan dibagikan.
Sejak saat ini, pengeluarkan total kelompok sosial tidak lagi terdiri hanya
dari kerja kebutuhan untuk keberlangsungan hidup produsennya. Beberapa dari
hasil kerja tersebut sekarang dapat digunakan untuk melepaskan sebuah seksi
masyarakat dari kewajiban untuk berkerja demi keberlangsungan hidupnya sendiri.
Kapan saja situasi tersebut muncul, sebuah seksi masyarakat dapat menjadi
klas berkuasa, yang karakteristik luar biasanya adalah emansipasinya dari
kebutuhan untuk bekerja demi keberlangsungan hidupnya sendiri.
Sejak saat itu, kerja produsen dapat dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian
dari kerja tersebut terus digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup si produsen
itu sendiri dan kita menyebut bagian ini sebagai kerja kebutuhan, bagian yang
lainnya digunakan untuk menjaga klas berkuasa dan kita memberikannya nama
surplus kerja.
Mari kita mengilustrasikan hal tersebut dengan contoh yang sangat jelas
dalam perbudakan perkebunan, seperti yang terjadi di daerah-daerah tertentu dan
periode Kekaisaran Romawi, atau seperti yang kita temukan di Barat India dan
pulau Afrika Portugis dimulai pada abad keenembelas, dalam perkebunan sangat
luas yang didirikan disana. Di area tropis tersebut, bahkan makanan budak
secara umum tidak disediakan oleh tuannya, para budak harus menghasilkannya
sendiri dengan bekerja pada sebidang kecil tanah pada hari minggu dan produk
dari kerja tersebut membangun simpanan makanan dia. Selama enam hari dalam
seminggu para budak bekerja di perkebunan dan tidak menerima apapun dari produk
kerja dia. Hal tersebut adalah kerja yang menciptakan produk surplus sosial,
diserahkan oleh para budak seketika dihasilkan dan menjadi milik tunggal
pemilik budak
Kerja seminggu, yang dalam kasus ini adalah tujuh hari, dapat dibagi
menjadi dua bagian: kerja satu hari, Minggu, yang menyusun kerja kebutuhan,
kerja tersebut yang menyediakan produk untuk kebutuhan hidup para budak dan keluarganya;
kerja enam hari yang lain adalah kerja surplus dan semua produknya menjadi
kepunyaan pemilik budak, digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya dan juga
memperkaya dirinya sendiri.
Wilayah besar dari awal Abad Pertengahan memberikan kita gambaran yang
lainnya. Tanah di wilayah tersebut dibagi menjadi tiga bagian: tanah komunal
terdiri dari hutan, padang rumput, rawa-rawa, dsb; tanah yang dikerjakan oleh
petani hamba untuk kebutuhan hidupnya sendiri dan keluarganya; dan terakhir,
tanah yang dikerjakan oleh petani hamba dalam rangka untuk menopang tuan
feodal. Kerja seminggu selama periode tersebut biasanya enam hari, bukan tujuh.
Kerja seminggu tersebut dibagi menjadi dua bagian yang sama: petani hamba
bekerja tiga hari di tanah dimana hasilnya menjadi milik dia; tiga hari yang
lainnya dia bekerja di tanah tuan feodal, tanpa bayaran, memberikan kerja
gratis bagi klas berkuasa.
Produk dari setiap tipe kerja yang sangat berbeda dapat didefinisikan dalam
dua ungkapan yang berbeda. Ketika produsen melakukan kerja kebutuhan, dia
menghasilkan produk kebutuhan. Ketika dia melakukan kerja surplus, dia
menghasilkan produk surplus sosial.
Demikian, produk surplus sosial adalah bagian dari produksi sosial yang
dihasilkan oleh klas yang bekerja tetapi diambil oleh klas berkuasa, terlepas
dari bentuk yang diambil oleh produk surplus sosial, entah hal tersebut produk
alami, atau komoditi untuk dijual, atau uang.
Nilai lebih sederhananya adalah bentuk moneter dari produk surplus sosial.
Ketika klas berkuasa mengambil bagian produksi masyarakat yang sebelumnya
disebut sebagai “produk surplus” secara eksklusif dalam bentuk moneter,
kemudian kita menggunakan istilan “nilai lebih” ketimbang “produk surplus”
Seperti yang akan kita lihat nanti, bagaimanapun, hal tersebut diatas hanya
menyusun pendekatan awal bagi definisi nilai lebih.
Bagaimana produk surplus sosial menjadi ada? Hal tersebut muncul sebagai
konsekwensi dari sebuah pengambilalihan gratis, hal tersebut adalah, sebuah
pengambil alihan tanpa kompensasi, oleh klas berkuasa dari bagian produksi klas
yang berproduksi. Ketika para budak bekerja enam hari seminggu di perkebunan
dan produk total kerjanya diambil oleh pemilik budak tanpa kompensasi apapun
bagi para budak, asal usul produk surplus sosial disini adalah kerja gratis,
kerja tanpa bayaran, yang disediakan oleh para budak bagi pemilik budak. Ketika
petani hamba bekerja tiga hari seminggu di tanah milik tuan tanah, asal usul
dari pemasukan tersebut, dari produk surplus sosial, juga dapat ditemukan dalam
kerja tanpa bayaran, kerja gratis, dihasilkan oleh petani hamba.
Kita akan melihat lebih jauh dalam asal usul nilai lebih kapitalis, itu
untuk mengatakan, pendapatan klas borjuasi dalam masyarakat kapitalis, adalah
hal yang sama: hal tersebut adalah kerja tanpa bayaran, kerja gratis, dimana
proletar, pekerja upahan, memberi para kapitalis tanpa menerima nilai apapun
sebagai pertukaran.
I.2 Komoditi, Nilai Guna dan Nilai Tukar
Kita sekarang telah mengembangkan beberapa definisi dasar yang akan
digunakan sepanjang penjelasan selanjutnya. Beberapa yang lainnya harus
ditambahkan pada poin tersebut.
Setiap produk dari kerja manusia normalnya memiliki kegunaan, dia harus
bisa memuaskan kebutuhan manusia. Kita oleh karena itu dapat mengatakan bahwa
setiap produk kerja manusia memiliki nilai guna. Istilah “nilai guna” akan,
bagaimanapun juga, digunakan dalam dua makna yang berbeda. Kita akan berbicara
nilai guna sebuah komoditas; kita juga akan berbicara tentang nilai guna, saat
kita merujuk, sebagai contoh, pada sebuah masyarakat dimana hanya nilai guna
yang dihasilkan, itu untuk mengatakan, dimana produk diciptakan untuk konsumsi
langsung baik oleh produsen itu sendiri atau oleh klas berkuasa yang mengambil
alihnya.
Bersama dengan nilai guna tersebut, sebuah produk kerja manusia dapat juga
memiliki nilai yang lain, sebuah nilai tukar. Hal tersebut dapat dihasilkan
untuk pertukaran di pasar, dengan tujuan untuk dijual, ketimbang konsumsi
langsung oleh produsen atau klas yang kaya. Sebuah produk massal yang telah
diciptakan untuk tujuan dijual tidak dapat lagi dianggap sebagai produksi dari
nilai guna yang sederhana; hal tersebut sekarang adalah sebuah produksi
komoditas.
Komoditas, oleh karena itu, adalah produk yang diciptakan untuk
dipertukarkan di pasar, bertentangan dengan produk yang dibuat untuk konsumsi
langsung. Setiap komoditas harus memiliki baik nilai guna dan nilai tukar.
Komoditas harus memiliki nilai guna atau tidak ada orang yang akan
membelinya, karena pembeli pada akhirnya memikirkan konsumsi, dengan memuaskan
beberapa kekurangannya dengan pembelian tersebut. Sebuah komoditas tanpa nilai
guna bagi siapapun akan berakibat tidak dapat dijual, akan menyusun sebuah
produksi tak berguna, tidak akan memiliki nilai tukar karena dia tidak memiliki
nilai guna.
Disisi yang lain, setiap produk yang memiliki nilai guna tidak serta merta
memiliki nilai tukar. Dia memiliki nilai tukar hanya pada tingkatan bahwa
masyarakat itu sendiri, dimana komoditas dihasilkan, didasarkan pada
pertukaran, adalah sebuah masyarakat dimana pertukaran merupakan praktek yang
umum.
Adakah masyarakat dimana produk tidak memiliki nilai tukar? Dasar bagi
nilai tukar, dan benteng bagi perdagangan dan pasar, disusun oleh tingkatan
perkembangan pembagian kerja tertentu. Dalam rangka agar produk tidak secara
langsung dikonsumsi oleh produsennya, adalah esensiil bahwa setiap orang tidak
terlibat dalam menghasilkan sesuatu yang sama. Jika komonitas tertentu tidak
memiliki pembagian kerja, atau hanya bentuk dasarnya saja, kemudian adalah
jelas bahwa tidak ada alasan bagi keberadaan pertukaran. Normalnya, petani
gandum tidak memiliki sesuatu untuk dipertukarkan dengan petani gandum lainnya.
Tetapi seiring pembagian kerja terjadi, seiring ada kontak antara
kelompok-kelompok sosial yang memproduksi nilai guna berbeda, kemudian
pertukaran datang, awalnya atas dasar kadang kala, kemudian atas dasar yang
permanen. Dengan jalan tersebut, sedikit demi sedikit, produk yang dibuat untuk
dipertukarkan, komoditas, membuat kemunculan mereka disamping produk tersebut yang
hanya dibuat untuk konsumsi langsung produsen mereka.
Dalam masyarakat kapitalis, produksi komoditas, produksi nilai tukar, telah
mencapai perkembangan terbesarnya. Hal tersebut adalah masyarakat pertama dalam
sejarah manusia dimana bagian besar produksi terdiri dari komoditas. Adalah
tidak benar, bagaimanapun juga, bahwa semua produksi dibawah kapitalisme adalah
produksi komoditas. Dua kelas dari produk tetapi masih nilai guna.
Kelompok pertama terdiri dari semua hal yang diproduksi oleh petani untuk konsumsinya
sendiri, semuanya dikonsumsi secara langsung di lahan pertanian dimana produk
tersebut dihasilkan. Produksi untuk konsumsi-sendiri semacam itu oleh petani
terdapat bahwa di negeri-negeri kapitalis maju seperti Amerika Serikat,
meskipun hal tersebut hanya menyusun bagian kecil dari keseluruhan produksi
pertanian. Secara umum, semakin terbelakang pertanian sebuah negeri, semakin
besar bagian produksi pertanian yang menuju konsumsi-sendiri. Faktor tersebut
membuatnya sangat sulit untuk menghitung dengan tepat pendapatan nasional
negeri semacam itu.
Kelompok kedua produk dalam masyarakat kapitalis bukanlah komoditas tetapi
tetap hanya nilai guna yang terdiri dari semua hal yang dihasilkan dirumah.
Meskipun fakta bahwa cukup banyak kerja manusia terlibat dalam tipe produksi
rumah tangga seperti itu, hal tersebut masih tetap merupakan sebuah produksi
nilai guna dan bukan komoditas. Setiap saat ketika semangkuk sup dibuat atau
sebuah kancing dijahit oleh seorang penjahit, hal tersebut menyusun produksi, tetapi
bukanlah produksi untuk pasar.
Kemunculan produksi komoditi dan kemudian regularisasi dan jeneralisasinya
telah secara radikal merubah cara kerja manusia dan bagaimana mereka
mengorganisir masyarakat.
I.3 Teori Alienasi Marxis
Tidak dapat diragukan anda telah mendengar teori alienasi Marxis.
Kemunculan regularisasi dan jeneralisasi produksi komoditas berhubungan secara
langsung dengan karakter yang meluas dari fenomena alienasi tersebut
Kita tidak dapat bergulat dengan aspek pertanyaan tersebut tetapi adalah
sangat penting untuk memberikan perhatian untuknya, karena sejarah perdagangan
meliputi lebih dari era kapitalis. Hal tersebut juga termasuk produksi
komoditas skala kecil, yang akan kita diskusikan nanti. Juga terdapat sebuah
masyarakat paska kapitalis yang berdasarkan atas komoditas, masyarakat
transisional antara kapitalisme dan sosialisme, seperti masyarakat Soviet hari
ini, karena Soviet masih bergantung dalam tingkatan yang besar pada pondasi
produksi nilai tukar. Saat kita sudah memahami karakteristik pokok tertentu
dari masyarkat berdasarkan komoditas, kita dapat dengan siap melihat kenapa
tidak mungkin untuk menaklukan fenomena tertentu dari alienasi dalam periode
transisi antara kapitalisme dan sosialisme, seperti dalam masyarakat Soviet,
sebagai contoh
Jelas sekali fenomena alienasi tersebut tidak terjadi – setidaknya dalam
bentuk yang sama – dalam sebuah masyarkat dimana produksi komoditi tidak
diketahui dan dimana hidup individu dan aktivitas sosialnya disatuakn dalam
bentuk yang masih dasar. Manusia bekerja, tetapi secara umum tidak sendirian,
seringkali dia menjadi bagian dari kelompok kolektif yang memiliki struktur
yang sedikit banyak organik. Kerja dia adalah transformasi langsung terhadap
benda material. Semua ini bermakna bahwa aktivitas kerja, tindakan produksi,
tindakan konsumsi, dan hubungan antara individu dan masyarakatnya diatur oleh
kondisi keseimbangan yang memiliki stabilitas dan tingkat permanen yang
relatif.
Kita seharusnya tidak, tentu saja, menggambarkan dengan indah masyarakat
primitif, yang tunduk pada tekanan dan bencana periodik karena kemiskinan
ekstrimnya. Keseimbangannya terus menerus dirongrong oleh kekurangan,
kelaparan, bencana alam, dsb. Tetapi periode antara bencana, terutama sekali
setelah pertanian telah mencapai perkembangan tertentu dan ketika kondisi iklim
menguntungan, masyarkat semacam itu memberikan seuam aktivitas manusia tingkat
yang besar dalam kesatuan, harmoni dan stabilitas.
Konsekwensi malapetaka dari pembagian kerja seperti penghilangan semua
aktivitas estetis, inspirasi artistik dan aktivitas kreatif dari tindakan
produksi dan penggantiannya dengan tugas yang murni mekanis dan berulang-ulang
tidak terdapat dalam masyrakat primitif. Bertentangan dengannya, sebagian besar
seni, musik, pahatan, lukisan, tarian, mulanya berhubungan dengan produksi,
dengan kerja. Hasrat untuk memberikan bentuk menarik untuk produk yang akan
digunakan entah oleh individu, keluarganya, atau kelompok sedarah yang lebih
besar, menemukan ekspresi normal, harmonis dan organik didalam kerangka kerja
sehari-hari.
Kerja tidak dilihat sebagai kewajiban yang dibebankan dari luar, pertama
kali karena kerja jauh lebih tidak keras, jauh lebih tidak melelahkan dibanding
di bawah kapitalisme hari ini. Hal tersebut menyesuaikan diri lebih dekat pada
irama organisme manusia seperti halnya kepada irama alam. Banyaknya hari kerja
setiap tahun jarang melewati 150 sampai 200, sedangkan di bawah kapitalisme
jumlahnya secara berbahaya mendekati 300 dan kadang kala bahkan lebih besar
lagi. Lebih dari itu, ada sebuah kesatuan antara produsen, produknya dan
konsumsinya, karena secara umum dia memproduksi untuk penggunaan dirinya
sendiri atau untuk mereka yang dekat dengannya, sehingga pekerjaannya memiliki
aspek fungsional secara langsung. Alienasi modern pada dasarnya berasal dari
perpecahan antara produsen dan produknya, menghasilkan kedua-duanya dari
pembagian kerja dan produksi komoditas. Dengan kata lain, adalah konsekwensi
dari bekerja untuk pasar, untuk konsumen yang tak dikenal, sebagai ganti
konsumsi oleh produsen itu sendiri.
Sisi lain dari gambaran tersebut adalah bahwa masyarakat yang hanya
menghasilkan nilai guna, yang itu adalah, barang-barang yang akan dikonsumsi
secara langsung oleh produsennya, selalu di masa lampai merupakan masyarakat
miskin. tidak hanya karena dia tunduk kepada resiko alam tetapi dia juga harus
membentuk batasan yang sangat sempit bagi keinginan manusia, karena hal
tersebut harus menyesuaikan dengan tepat pada derajat kemiskinan dan variasi
terbatas dari produk. Tidak semua keinginan manusia adalah bawaan alami bagi
manusia. Ada interaksi tetap antara produksi dan keinginan, antara perkembangan
tenaga produktif dan kenaikan keinginan yang baru. Hanya dalam masyarakat di
mana produktivitas kerja akan dikembangkan ke titik yang paling tingginya, di
mana suatu variasi tanpa batas dari produk akan tersedia, maka akan menjadi
mungkin bagi manusia untuk mengalami ekspansi terus menerus dari keinginannya,
sebuah perkembangan potensi tidak terbatas dirinya sendiri. Sebuah perkembangan
terintegrasi dari umat manusia.
I.4 Hukum Nilai
Salah satu konsekwensi dari kemunculan dan jeneralisasi progresif dari
produksi komoditas adalah bahwa kerja itu sendiri mulai untuk mengambil
karakteristik reguler dan dapat diukur; dengan kata lain, kerja berhenti
menjadi sebuah aktivitas yang terikat pada irama alam dan sesuai dengan irama
fisiologis manusia itu sendiri.
Hingga abad kesembilanbelas dan mungkin bahkan ke dalam abad keduapuluh,
petani di berbagai daerah Eropa Barat tidak bekerja dengan reguler, yaitu,
mereka tidak bekerja dengan intensitas yang sama tiap bulan dalam setahun. Ada
periode dalam tahun bekerja ketika mereka bekerja keras dan ada periode lain,
terutama sepanjang musim dingin, ketika semua aktivitas sama sekali berhenti.
Hal tersebut terdapat pada area pertanian paling terbelakang dari kebanyakan
negeri-negeri kapitalis yang masyarakat kapitalis, selama pengembangannya,
menemukan sebuah sumber yang paling menarik dari cadangan tenaga manusia, di
sini suatu tenaga kerja tersedia untuk empat hingga enam bulan setahun pada
gaji yang jauh lebih rendah, mengingat fakta bahwa bagian dari penghidupannya
disediakan oleh aktivitas pertaniannya.
Ketika kita melihat pertanian yang lebih perkembang dan makmur, yang
membatasi kota-kota besar, sebagai contoh, dan yang pada dasarnya berada di
jalan menjadi terindustrialisasi, kita melihat pekerjaan tersebut jauh lebih
reguler dan jumlah kerja yang dijalankan jauh lebih besar, didistribusikan
dengan cara reguler sepanjang tahun, dengan musim tidak menanam semakin
dihapuskan. Hal ini benar tidak hanya untuk jaman kita tetapi bahkan sangat
awal seperi pada Abad Pertengahan, setidaknya sejak abad keduabelas kedepan.
Semakin dekat kita pada kota, yaitu, pada pasar, semakin kerja petani menjadi
kerja untuk pasar, yaitu, produksi komoditi, dan semakin diatur dan sedikit
banyak kerja dia menjadi stabil, sama seperti jika dia bekerja didalam
perusahaan industri.
Diekspresikan dengan cara yang lain, semakin produksi komoditi menjadi
dijeneralisi, semakin besar regulasi kerja dan semakin masyarakat menjadi
terorganisir pada dasar sebuah sistem perhitungan yang didirikan atas kerja.
Ketika kita meneliti pembagian kerja yang cukup maju didalam sebuah komune
pada permulaan perkembangan perdagangan dan kerajinan tangan pada Abad
Pertengahan, atau kolektif dalam peradaban seperti Byzantium, Arab, Hindu, Cina
dan Jepang, faktor umum tertentu muncul. Kita terkejut oleh fakta bahwa
integrasi sangat maju dari pertanian dan berbagai macam teknik kerajinan tangan
terjadi dan regularitas kerja terjadi di pedesaan seperti halnya kota, sehingga
suatu sistem penghitungan dalam makna kerja, dalam jam-kerja, telah menjadi
kekuatan yang mengatur semua aktivitas dan bahkan struktur kolektif. Dalam bab
mengenai hukum nilai dalam Teori Ekonomi Marxis saya , saya memberi serangkaian
contoh sistem perhitangan tersebut dalam jam-kerja. Terdapat desa India dimana
kasta tertentu memegang monopoli kerajinan tangan pandai besi tetapi terus
bekerja pada waktu yang sama dalam rangka memberi makan dirinya sendiri. Aturan
yang dibentuk adalah sebagai berikut: ketika pandai besi bekerja untuk membuat
alat atau senjata untuk pertanian, klien menyediakan bahan baku dan juga bekerja
di tanah si pandai besi selama seluruh periode dimana si pandai besih bekerja
membuat alat atau senjata tersebut. Ini adalah sebuah jalan yang sangat jelas
untuk menyatakan bahwa pertukaran diatur oleh keseimbangan dalam jam-kerja.
Di pedesaan Jepang pada Abad Pertengahan, sebuah sistem perhitungan dalam
jam-kerja, dalam makna harafiah dari istilah tersebut, terjadi didalam
masyarakat desa. Akuntan desa menyimpan semacam buku besar dimana dia memasukan
jumlah jam kerja yang dilakukan masing-masing penduduk desa pada lahan penduduk
yang lainnya, karena pertanian sebagian besar masih didasarkan pada kerja
bersama, dengan pemanenan, konstruksi pertanian dan peternakan dilaksanakan
bersama-sama. Jumlah jam-kerja yang dikerjakan oleh anggota satu rumah tangga
untuk anggota rumah tangga yang lainnya dihitung sangat hati-hati. Pada akhir
tahun, pertukaran harus seimbang, itu adalah, anggota rumah tangga B diharuskan
untuk memberikan rumah tangga A jumlah jam-kerja yang sama yang telah diberikan
oleh rumah tangga A untuk rumah tangga B selama sepanjang tahun. Orang Jepang
bahkan melihat hingga titik - hampir seribu tahun yang lalu! - di mana mereka
memperhitungkan bahwa anak-anak memberikan kuantitas kerja yang lebih kecil
dibanding orang dewasa, sehingga satu jam kerja anak-anak "berharga"
hanya setengah jam kerja orang dewasa. Keseluruhan sistem perhitungan didirikan
sepanjang garis tersebut.
Ada contoh lainnya yang memberikan ktia pengertian yang mendalam untuk
sistem perhituangan berdasarkan waktu-kerja tersebut: perubahan sewa feodal
dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya. Dalam masyarakat feodal, produksi
surplus pertanian dapat mengambil tiga bentuk yang berbeda: sewa dalam bentuk
kerja (corvée), sewa yang setimpal, dan uang sewa.
Ketika perubahan dibuat dari sewa dalam bentuk kerja menjadi sewa yang
setimpal, jelas sekali bahwa sebuah proses perubahan terjadi. Ketimbang
memberikan tuan tanah tiga hari kerja setiap minggu, petani sekarang memberikan
dia kuantitas gandum, ternak, dsb tertentu, atas dasar musiman. Sebuah
perubahan kedua terjadi dalam perubahan dari sewa yang setimpal menjadi uang
sewa.
Dua perubahan tersebut harus didasarkan oleh perhitungan cukup tepat dalam
jam-kerja jika satu diantara dua kelompok tersebut tidak peduli untuk mengalami
kerugian dalam proses tersebut. Sebagai contoh, jika pada waktu perubahan
pertama berlangsung, petani memberikan tuan tanah jumlah gandum yang hanya
membutuhkan 75 hari kerja, sementara sebelumnya dia memberikan pada tuan tanah
150 hari kerja dalam tahun yang sama, kemudian perubahan sewa dalam bentuk
kerja menjadi sewa yang setimpal akan menghasilkan pemiskinan tiba-tiba bagi
tuan tanah dan pengayaan cepat bagi para petani hamba.
Tuan tanah – kau dapat mengandalkan mereka! – berhati-hati dalam memastikan
terjadinya perubahan sehingga bentuk sewa yang berbeda mendekati keseimbangan.
Tentu saja perubahan pada akhirnya dapat menjadi buruk bagi satu klas-klas yang
berpartisipasi, sebagai contoh, terhadap tuan tanah, jika kenaikan tajam dalam
harga pertanian terjadi setelah sewa dirubah dari sewa yang setimpal menjadi
uang sewa, tetapi hasil semacam itu menjadi historis dalam karakter dan bukan
merupakan akibat secara langsung dari pertukaran secara intrinsik.
Asal usul ekonomi berdasarkan perhitungan waktu-kerja tersebut juga jelas
muncul dalam pembagian kerja didalam pedesaan seperti yang terjadi antara
perganian dan kerajinan tangan. Untuk jangka waktu yang lama pembagian cukup
belum sempurna. Sebuah seksi petani terus menghasilkan sebagian sandangnya
sendiri untuk periode sejarah yang panjang, dimana di Eropa Barat berlangsung
hampir selama seribu tahun;, itu adalah, sejak permulaan kota-kota Abad
Pertengahan hingga abad kesembilanbelas. Teknik pembuatan pakaian tentu saja
bukan merupakan misteri bagi para penanam.
Sejak saat sistem pertukaran reguler antara petani dan pengerajin tekstil
didirikan, keseimbangan standar juga didirikan – sebagai contoh, satu ell
pakaian (sebuah ukuran yang berkisar antara 27 hingga 48 inci) akan ditukarkan
dengan 10 pon mentega, tidak untuk 100 pon. Tentu saja petani mengetahui, dari
dasar pengalaman mereka sendiri, waktu-kerja kebutuhan untuk menghasilkan
kuantitas pakaian tertentu. Jika tidak ada keseimbangan yang sedikit banyak
tepat antara waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan pakaian dan waktu yang
dibutuhkan untuk menghasilkan mentega yang kemudian dipertukarkan, akan terjadi
kenaikan cepat dalam pembagian kerja. Jika produksi pakaian lebih
menguntungakan ketimbang produksi mentega, produsen mentega akan mengganti
produksinya menjadi pakatian. Karena masyarakat diatas hanya pada permulaan
pembagian kerja yang ekstrim, yaitu, masyarakat masih pada titik dimana batasan
antara teknik-teknik berbeda belum ditandai dengan jelas, jalan dari satu
aktivitas ekonomi menuju yang lainnya masih dimungkinkan, terutama sekali
ketika capaian material yang cukup dimungkinkan oleh cara perubahan semacam
itu.
Dalam kota-kota Abad Pertengahan juga, terdapat keseimbangan perhitungan
yang cukup cermat atara berbagai macam kerajinan tangan dan ditulis dalam
piagam yang menspesifikasikan hampir hingga menit jumlah waktu-kerja kebutuhan
untuk produksi berbagai macam barang. Tidak dapat dipahami bahwa dibawah
kondisi semacam itu seorang pembuat sepatu atau pandai besi mendapatkan jumlah
uang yang sama untuk produk yang menghabiskan setengah waktu-kerja yang mana
seorang penenun atau pekerja tangan ahli butuhkan dalam rangka untuk
mendapatkan jumlah uang yang sama untuk produk mereka.
Disini kembali kita melihat dengan jelas mekanisme sistem perhitungan dalam
jam-kerja, sebuah masyarakat yang berfungsi pada dasar ekonomi waktu-kerja,
yang secara umum menjadi karakteristik seluruh tahapan yang kita sebut dengan
produksi komoditas skala-kecil. Hal tersebut adalah tahapan yang terjadi antara
ekonomi yang sepenuhnya alami, dimana hanya nilai guna dihasilkan, dan
masyarakat kapitalis, dimana produksi komoditi meluas tanpa batasan.
I.5 Penentuan Nilai Tukar Komoditas
Setelah kita telah menentukan bahwa produksi dan pertukaran komoditas
menjadi reguler dan dijeneralisir dalam masyarakat yang berdasarkan
waktu-kerja, pada sebuah sistem perhitungan jam-kerja, kita telah siap untuk
memahami kenapa pertukaran komoditi, dalam asal usul dan sifat inherennya,
bersandar pada dasar pokok sistem perhitungan dalam jam-kerja dan sebagai
konsekuensi mengikuti hukum umum ini: nilai tukar sebuah komoditi ditentukan
oleh kuantitas kerja kebutuhan untuk menghasilkannya. Kuantitas kerja dihitung
oleh lama waktu yang diambil untuk menghasilkan komoditi tersebut.
Definisi umum dari teori nilai kerja adalah dasar bagi baik ekonomi politik
borjuis klasik sejak abad ketujuhbelas hingga awal abad kesembilanbelas, sejak
William Petty hingga Ricardo; dan teori ekonomi Marxis, yang mengambil teori
nilai kerja dan menyempunakannya. Bagaimanapun, definisi umum harus
dikualifikasikan dalam beberapa hal.
Pada pokoknya, tidak semua manusia diberikan kapasitas kerja yang sama,
dengan kekuatan yang sama atau tingkat keahlian yang sama. Jika pertukaran
nilai komoditi bergantung hanya pada kuantitas kerja yang dilakukan secara
individualis, itu adalah, pada kuantitas kerja yang dilakukan oleh setiap
individu dalam produksi komoditi, kita akan tiba pada keabsurdan berikut ini:
produsen yang lebih malas atau tidak ahli, dan semakin besar jumlah jam yang dia
lakukan untuk membuat sepasang sepat, semakin besar nilai sepatu tersebut!
Itu tentu saja tidak mungkin karena nilai tukar bukanlah penghargaan moral
untuk kemauan suka rela untuk bekerja belaka tetapi sebuah ikatan objektif yang
dibentuk antara produsen yang independen dalam rangka untuk menyeimbangkan
berbagai macam kerajinan tangan dalam masyarakat berdasarkan baik atas
pembagian kerja dan sebuah ekonomi waktu-kerja. Dalam masyarakat seperti itu
menyia-nyiakan kerja tidak mendapatkan kompensasi, bertentangan dengannya, hal
tersebut secara otomatis dihukum. Siapapun yang memberikan waktu lebih banyak
dalam memproduksi sepasang sepatu dari pada jam rata-rata yang
dibutuhkan-sebuah rata-rata yang ditentukan oleh rata-rata produktivitas kerja
dan direkam dalam Piagam Guild, sebagai contoh! – orang semacam itu telah
menyia-nyiakan kerja manusia, bekerja tanpa hasil untuk jumlah jam. Ia tidak
akan menerima apapun sebagai ganti jam yang disia-siakan tersebut.
Diekspresikan dengan jalan yang lain, nilai tukar komoditi tidak ditentukan
oleh kuantitas kerja yang dihabiskan oleh tiap individu produsen yang terlibat
dalam produksi komoditi tersebut tetapi oleh kuantitas kerja yang secara sosial
dibutuhkan untuk memproduksinya. Ekspresi “secara sosial dibutuhkan” bermakna:
kuantitas kerja kebutuhan dibawah kondisi rata-rata produktivitas kerja yang
ada dalam negeri dan waktu tertentu.
Kualifikasi diatas memiliki penerapan yang sangat penting ketika kita
meneliti berfungsinya masyarakat kapitalis lebih dekat.
Pernyataan penjelasan yang lain harus ditambahkan disini. Apa yang kita
maksud dengan “kuantitas kerja”? Pekerja berbeda dalam kualifikasi mereka.
Apakah ada keseimbangan total antara kerja satu jam seseorang dengan kerja
orang lain, tanpa mempertimbangkan perbedaan semacam itu dalam keahllian?
Sekali lagi pertanyaan bukanlah mengenai moral tetapi berkaitan dengan logika
internal dari sebuah masyarakat yang berdasarkan keseimbangan antara keahlian,
sebuah keseimbangan dalam pasar, dan dimana gangguan apapun dari keseimbangan
tersebut akan segera menghancurkan keseimbangan sosial.
Apa yang akan terjadi, sebagai contoh, jika kerja satu jam oleh pekerja
yang tidak ahli berharga sebanyak kerja satu jam pengerajin tangan yang ahli,
yang telah melakukan empat hingga enam tahun sebagai pekerja magang untuk
mendapatkan keahliannya? Tentu saja, tidak ada yang mau menjadi tenaga ahli.
Jam kerja yang dilakukan dalam mempelajari kerajinan tangan akan menjadi jam
yang terbuang sia-sia karena pengerajin tangan tidak akan mendapatkan
kompensasi untuk hal tersebut setelah memiliki ijasah keahlian.
Dalam sebuah ekonomi yang didirikan atas dasar sistem penghitungan
jam-kerja, orang yang lebih muda akan berkeinginan untuk menjadi ahli hanya
jika waktu yang hilang selama periode pelatihannya kemudian diberikan bayaran.
Definisi kita tentang nilai tukar komoditi oleh karena itu harus dilengkapi
sebagai berikut: “Satu jam kerja oleh pekerja hali harus dianggap sebagai kerja
kompleks, sebagai kerja melipatgandakan, sebagai perkalian dari satu jam kerja
tidak ahli; koefisien dari perkalian tentu saja tidak bisa serampangan tetapi
harus didasarkan atas biaya mendapatkan keahlian tersebut.“ Harus ditegaskan,
untuk melewatinya, bahwa selalu ada kekaburan dalam penjelasan umum tentang
kerja melipatgandakan dalam Uni Soviet dibawah Stalin yang telah berlangsung
hingga hari ini. Dinyatakan bahwa kompensasi untuk kerja seharunya berdasarkan
atas kuatitas dan kualitas kerja, tetapi konsep kualitas tidak lagi dipahami
dalam pengertian ungkapan Marxis, yaitu, sebagai kualitas yang dapat diukur
secara kuantitatif dengan cara koefisien khusus dari pelipatgandaan.
Bertentangan dengannya, ide kualitas digunakan dalam makna ideologi borjuis,
menurut yang mana kualitas kerja dianggap ditentukan oleh kegunaan sosialnya,
dan hal tersebut digunakan untuk membenarkan pendapatan para pemimpin, penari
balet dan para manajer industri, yang sepuluh kali lebih tinggi dari pendapatan
pekerja tidak ahli. Teori semacam itu berasal dari wilayah pembenaran
(apologetics) meskipun perluasannya digunakan untuk membenarkan perbedaan besar
dalam pemasukan yang terjadi dibawah Stalin dan terus terjadi di Uni Soviet
hari ini, meskipun dalam tingkatan yang lebih kurang.
Nilai pertukaran komoditi, kemudian, ditentukan oleh kuatitas kerja yang
secara sosial dibutuhkan untuk produksinya, dengan kerja ahli dilihat sebagai
perkalian kerja sederhana dan koefisien penggandaan menjadi kuantitas yang
dapat diukur secara masuk akal.
Ini adalah inti dari teori nilai Marxis dan dasar semua teori ekonomi
Marxis secara umum. Serupa, teori produk surplus sosial dan kerja surplus, yang
kita diskusikan pada bagian awal tulisan ini , menyusun dasar semua sosiologi
Marxis dan hal tersebut adalah jembatan yang menghubungkan analisis sosiologi
dan sejarah Marxis, teori klas-klasnya dan perkembangan masyarakat secara umum,
untuk teori ekonomi Marxis, dan lebih tepat, untuk analisis Marxis terhadap
karakter semua masyarakat produksi-komoditi pra kapitalis, kapitalis dan paska
kapitalis.
I.6 Apakah Kerja Kebutuhan Secara Sosial?
Beberapa saat yang lalu saya menyatakan bahwa definisi khusus dari kuatitas
kerja yang dibutuhkan secara sosial untuk menghasilkan komoditi memiliki
aplikasi yang sangat khusus dan penting dalam analisa masyarakat kapitalis.
Menurut saya akan lebih berguna untuk berurusan dengan hal tersebut saat ini
meskipun secara logika hal tersebut menjadi milik seksi berikutnya dari
presentasi ini.
Keseluruhan komoditi yang diproduksi dalam sebuah negeri pada waktu
tertentu telah dihasilkan untuk memuaskan keinginan seluruh anggota masyarakat
tersebut. Barang apapun yang tidak memuaskan kebutuhan seseorang, yang tidak
memiliki nilai guna untuk siapapun, akan tidak terjual, akan tidak memiliki nilai
tukar, tidak akan menjadi sebuah komoditi tetapi hanya sebuah produk tindakan
sia-sia dan lelucon beberapa produsen. Dari sudut yang lain, jumlah total daya
beli yang terdapat dalam masyarakat dan waktu tertentu dan yang tidak untuk
ditimbun tetapi untuk dibelanjakan dipasar, harus digunakan untuk membeli
jumlah total komoditi yang dihasilkan, jika ingin terjadi keseimbangan ekonomi.
Keseimbangan tersebut oleh karenanya menyaratkan jumlah total produksi sosial,
tenaga produktif yang tersedia dalam masyarakat tersebut, jam-kerja yang
tersedia, didistribusikan diantara berbagai macam sektor industri dalam
proporsi yang sama seperti konsumen mendistribusikan daya beli mereka dalam
memuaskan berbagai macam keinginan mereka. Ketika distribusi tenaga produktif
tidak lagi berhubungan dengan pembagian keinginan tersebut, keseimbangan
ekonomi hancur dan baik overproduksi dan kekurangan produksi muncul
berdampingan.
Mari kita memberikan contoh yang umum: menuju akhir abad kesembilanbelas
dan awal abad keduapuluh, kota seperti Paris industri perakitan kereta yang
bersama dengan perdagangan menggunakannya memperkerjakan ribuan bahkan puluhan
ribu pekerja.
Dalam periode yang sama industri otomotif muncul dan meskipun cukup kecil,
industri tersebut telah memiliki beberapa pabrik yang memperkerjakan beberapa
ribu pekerja.
Sekarang apa proses yang terjadi selama periode tersebut? Disatu sisi,
jumlah kereta mulai menurun dan disisi yang lainnya, jumlah mobil mulai
meningkat. Produksi kereta dan peralatan kereta oleh karena itu menunjukan
kecenderungan menuju melebihi kebutuhan sosial, seperti yang ditunjukan dalam
sikap dimana penduduk Paris membagi daya beli mereka; disisi yang lainnya,
produksi mobil dibawah kebutuhan sosial, sejak saat industri dibuka hingga
kemunculan produksi massal, sebuah iklim kekurangan terjadi dalam industri
tersebut. Penawaran mobil dipasar tidak seimbang dengan permintaannya.
Bagaimana kita menjelaskan fenomena tersebut dalam pengertia teori nilai
kerja? Kita dapat mengatakan bahwa dalam industri kereta lebih banyak kerja
dilakukan ketimbang yang dibutuhkan secara sosial, bahwa sebagian kerja yang
dilakukan oleh jumlah total perusahaan dalam industri kereta adalah kerja yang
secara sosial sia-sia, yang itdak lagi menemukan keseimbangan dalam pasar dan
akibatnya menghasilkan barang-barang yang tidak dapat dijual. Dalam masyarakat
kapitalis, ketika barang-barang tidak terjual itu berarti bahwa investasi kerja
manusia telah dibuat dalam cabang industri khusus yang ternyata menjadi kerja
yang secara sosial tidak dibutuhkan, yaitu, hal tersebut adalah kerja yang
tidak menemukan keseimbangan dalam daya beli dipasar. Kerja yang secara sosial
tidak dibutuhkan adalah kerja sis-sia; hal tersebut adalah kerja yang tidak
menghasilkan nilai. Kita dapat melihat dari hal tersebut bahwa konsep kerja
kebutuhan secara sosial mencakup keseluruhan rangakaian fenomena.
Bagi produk dari industri kereta, penawaran melebihi permintaan, harga
jatuh dan barang-barang menjadi tidak terjual. Kebalikannya adalah benar dalam
industri otomotif dimana permintaan melebihi penawaran, mengakibatkan harga
naik dan kekurangan produksi terjadi. Untuk puas hanya pada hal biasa mengenai
penawaran dan permintaan. Bagaimanapun, berarti berhenti pada aspek psikologi
dan individu dari persoalannya. Disisi yang lain, jika kita meneliti lebih
dalam pada sisi sosial dan kolektif dari persoalan, kita mulai untuk memahami
apa yang terdapat dibawah permukaan dalam sebuah masyarakat yang diorganisir
atas dasar ekonomi waktu-kerja.
Makna penawaran melebihi permintaan adalah bahwa produksi kapitalis, yang
bersifat anarkis, tidak terencana dan tidak terorganisir, telah secara anarkis
menginvestasikan atau mengeluarkan lebih banyak jam kerja dalam sebuah cabang
industri ketimbang yang dibutuhkan secara sosial, sehingga seluruh segmen
jam-kerja menjadi sepenuhnya hilang, banyak kerja manusia yang dibuang sia-sia
yang tetap tidak dibalas oleh masyarakat. Sebaliknya, sebuah sektor industri
dimana permintaan tetap terus lebih besar dibanding penawaran dapat dianggap
sebagai sebuah sektor kurang berkembang dalam pengertian kebutuhan sosial, oleh
karena itu sebuah sektor yang mengeluarkan lebih sedikit jam kerja ketimbang
yang dibutuhkan secara sosial dan sektor tersebut menerima bonus dari
masyarakat dalam rangka untuk menstimulus peningkatan dalam produksi dan
mendapatkan keseimbangan dengan kebutuhan sosial.
Ini adalah satu aspek dari persoalan kerja kebutuhan secara sosial dalam
masyarakat kapitalis. Aspek yang lain lebih berhubungan secara langsung dengan
perubahan dalam produktivitas kerja. Hal tersebut adalah sama tetapi membuat
sebuah abstraksi dari kebutuhan sosial, aspek “nilai guna” dari produksi.
Dalam masyarakat kapitalis produktivitas kerja berubah terus menerus.
Berbicara secara umum, selalu terdapat tiga tipe perusahaan (atau sektor
industri): yang secara teknologi tepat pada rata-rata sosial; yang terbelakang,
usang, di tingkat dasar, dibawah rata-rata sosial; dan yang secara teknologi
maju dan diatas rata-rata dalam produktivitas.
Apa maksud kita ketika kita berbicara sebuah sektor atau sebuah perusahaan
secara teknologi terbelakang dan memiliki produktivitas kerja dibawah
rata-rata? Cabang atau perusahaan semacam itu dapat disamakan dengan pembuat
sepatu yang malas yang telah kita ungkapkan sebelumnya, itu adalah, perusahaan
tersebut termasuk dalam mereka yang menghabiskan lima jam untuk menghasilkan
kuantitas tertentu barang-barang dalam sebuah periode ketika produktivitas
sosial rata-rata menuntut hal tersebut dilakukan dalam tiga jam. Dua jam lebihnya
dari kerja yang dikeluarkan adalah sepenuhnya hilang, kerja sosial yang
sia-sia. Bagian jumlah total kerja yang tersedia bagi masyarakat telah
disia-siakan oleh perusahaan, perusahaan tersebut tidak akan menerima apapun
dari masyarakat untuk menggantinya. Secara kongkret hal tersebut bermakna bahwa
harga penjualan dalam industri atau perusahaan tersebut, yang beroperasi
dibawah produktivitas rata-rata, mendekati biaya produksinya atau bahkan jatuh
dibawahnya, yaitu, perusahaan tersebut beroperasi pada angka keuntungan yang
sangat rendah atau bahkan merugi.
Disisi yang lain, sebuah perusahaan atau sektor industri dengan sebuah
tingkat produktivitas diatas rata-rata (seperti pembuat sepatu yang dapat
menghasilkan dua pasang sepatu dalam tiga jam ketika rata-rata sosial adalah
satu pasang tiap tiga jam) ekonomis dalam pengeluaran kerja sosial dan oleh
karena itu membuat keuntungan surplus, yaitu, perbedaan antara biaya dan harga
jualnya lebih besar dari keuntungan rata-rata.
Pengejaran keuntungan surplus tersebut, tentu saja merupakan tenaga
penggerak dibelakang keseluruhan ekonomi kapitalis. Setiap perusahaan kapitalis
dipaksa oleh persaingan agar mencoba mendapatkan keuntungan lebih besar, karena
hal tersebut adalah satu-satunya jalan perusahaan tersebut dapat terus menerus
memperbaiki produktivitas kerja dan teknologi. Akibatnya semua perusahaan
dipaksa untuk mengambil arah yang sama tersebut, dan jalan tersebut
mengakibatkan bahwa apa yang sebelumnya adalah sebuah produktivitas diatas
rata-rata lenyap menjadi produktivitas rata-rata, dimana keuntungan surplus
menghilang. Semua strategi industri kapitalis berasal dari keinginan dari
setiap perusahaan untuk mencapai angka produktivitas lebih besar dari rata-rata
nasional dan oleh karena itu menghasilkan keuntungan surplus, dan hal tersebut
kemudian memancing gerakan yang menyebabkan keuntungan surplus untuk
menghilang, berdasarkan atas kecenderungan angka produktivitas kerja rata-rata
untuk naik terus menerus. Ini adalah mekanisme dalam tendensi bagi angka keuntungan
untuk diseimbangkan
I.7 Asal Usul dan Sifat Nilai Lebih
Dan sekarang, apakah nilai lebih? Ketika kita mempertimbangkan hal tersebut
dari sudut pandang teori nilai Marxis, jawabannya telah ditemukan. Nilai lebih
adalah bentuk moneter dari produk surplus sosial¸yaitu, hal tersebut adalah
bentuk moneter dari bagian produksi pekerja yang dia serahkan pada pemilik alat
produksi tanpa menerima apapun sebagai gantinya.
Bagaimana penyerahan tersebut dapat dilaksanakan dalam praktek pada
masyarakat kapitalis? Kejadian tersebut mengambil tempat melalui proses
pertukaran, seperti semua operasi penting dalam masyarakat kapitalis, yang
selalu merupakan hubungan pertukaran. Kapitalis membeli tenaga kerja dari
pekerja, dan sebagai tukar dari upah tersebut, kapitalis mengambil alih seluruh
produksi dari pekerja tersebut, semua nilai yang baru dihasilkan yang telah
dimasukan kedalam nilai produksi tersebut.
Kita oleh karena itu dapat mengatakan sejak saat ini bahwa nilai lebih
adalah perbedaan antara nilai yang dihasilkan oleh pekerja dan nilai tenaga
kerjanya sendiri. Apakah nilai tenaga kerja? Dalam masyarakat kapitalis, tenaga
kerja adalah sebuah komoditi, dan seperti nilai komoditas yang lainnya,
nilainya tergantung dari kuantitas kerja kebutuhan secara sosial untuk
memproduksi dan mereproduksi tenaga kerja, yaitu, biaya hidup pekerja dalam
makna luas. Konsep upah minimum atau sebuah upah rata-rata tidaklah secara
fisiologi rigid tetapi memasukan keinginan yang berubah seiring kemajuan dalam
produktivitas kerjar. Keinginan tersebut cenderung meningkat paralel dengan
kemajuan dalam teknik dan hal tersebut karenanya tidak dapat dibandingkan
dengan tingkatan keakuratan apapun, dalam periode yang berbeda. Upah minimum
tahun 1830 tidak dapat dibandingkan secara kuantitatif dengan pada tahun 1960,
seperti teoritikus partai Komunis Perancis telah memahaminya pada
penderitaannya. Tidak ada cara valid untuk membandingkan harga sepeda motor
pada tahun 1960 dengan harga sejumlah kilogram daging di tahun 1830 dalam
rangka untuk mendapatkan kesimpulan bahwa motor “berharga” kurang dibanding
daging.
Setelah memahami hal tersebut, kita sekarang dapat mengulangi bahwa biaya
hidup tenaga kerja menyusun nilainya dan bahwa nilai lebih adalah perbedaan
antara biaya hidup tersebut dan nilai yang diciptakan oleh tenaga kerja
tersebut.
Nilai yang dihasilkan oleh tenaga kerja dapat dihitung dengan cara
sederhana melalui lamanya waktu yang digunakan. Jika pekerja bekerja sepuluh
jam, dia menghasilkan nilai sepuluh jam kerja. Jika biaya hidup pekerja, yaitu,
sama dengan upahnya, juga sepuluh jam kerja, maka tidak ada nilai lebih yang
dihasilkan. Hal ini adalah hanya kasus khusus dari aturan yang lebih umum:
ketika jumlah total dari produk kerja sama dengan produk yang dibutuhkan untuk
memberi makan dan menjaga produsen, tidak ada produk surplus sosial.
Tetapi dalam masyarakat kapitalis, tingkat produktivitas kerja membuat
biaya hidup pekerja selalu kurang dari kuantitas nilai baru yang diciptakan.
Hal ini berarti bahwa seorang pekerja yang bekerja selama sepuluh jam tidak
membutuhkan sama dengan sepuluh jam untuk menopang dirinya sendiri agar sesuai
dengan rata-rata kebutuhan dari waktu tersebut. Upah seimbang dia selalu hanya
sebuah pecahan dari kerja harian dia; semua hal melewati pecahan tersebut
adalah nilai lebih, kerja gratis yang diberikan oleh pekerja dan diambil alih
oleh kapitalis tanpa sebuah ganti rugi yang seimbang. Jika perbedaan tersebut
tidak ada, tentu saja, kemudian tidak ada majikan yang akan menyewa pekerja
manapun, karena pembelian tenaga kerja semacam itu tidak akan membawa
keuntungan bagi pembelinya.
I.8 Validitas Teori Nilai Kerja
Untuk menyimpulkan, kita menghadirkan tiga bukti tradisional dari teori
nilai kerja.
Yang pertama adalah bukti analitis, yang memulai dengan memerinci harga
sebuah komoditi kedalam elemen-elemen penyusunnya dan menunjukan bahwa jika
proses dilihat cukup jauh, hanya kerja yang akan ditemukan.
Harga setiap komoditi dapat direduksi menjadi sejumlah komponen: penyisihan
uang untuk mesin dan bangunan, yang kita sebut dengan pembaharuan dari kapital
tetap; harga bahan baku dan produk tambahan; upah; dan akhirnya, semua hal yang
merupakan nilai lebih, seperti keuntungan, sewa, pajak, dsb.
Selama dua komponen terakhir diperhatikan, upah dan nilai lebih, telah
ditunjukan bahwa kedua hal tersebut adalah sederhana dan murni kerja. Mengenai
bahan baku, kebanyakan dari harga bahan baku tersebut sebagian besar dapat
direduksi pada kerja; sebagai contoh, lebih dari 60 persen biaya penambangan
batu bara merupakan upah. Jika kita mulai dengan memerinci biaya manufaktur
rata-rata komoditi menjadi 40% untuk upah, 20% nilai lebih, 30% untuk bahan
baku dan 10% dalam kapital tetap; dan jika kita berasumsi bahwa 60% biaya bahan
baku dapat direduksi menjadi kerja, maka kita telah memiliki 78% total biaya
direduksi menjadi kerja. Sisa biaya bahan baku diperinci menjadi biaya bahan
baku lainnya – dapat direduksi karena 60% kerja – ditambah biaya penyisihan
untuk mesin.
Harga mesin dalam bagian besarnya terdiri dari kerja (sebagai contoh, 40%)
dan bahan baku (sebagai contoh, 40% juga). Bagian kerja dalam biaya rata-rata
semua komoditas berturut-turut melewati hingga 83%, 87%, 89,5%, dsb. Jelas
bahwa semakin jauh pemerincian tersebut dijalankan, semakin keseluruhan biaya
cenderung dapat direduksi menjadi kerja, dan hanya kerja.
Bukti kedua adalah bukti logika, dan ini merupakan yang ditulis dalam
permulaan Kapital-nya Marx. Buku tersebut telah membingungkan cukup banyak
pembaca, karena buku tersebut tentu saja bukanlah pendekatan pedagogis paling
sederhana pada pertanyaan tersebut.
Marx mengajukan pertanyaan tersebut dengan cara demikian. Jumlah komoditi
adalah sangat besar. Hal tersebut dapat dipertukarkan, yang berarti bahwa
komoditi tersebut harus memiliki kualitas yang sama, karena semua hal yang
dapat dipertukarkan dapat diperbandingkan dan semua hal yang dapat
diperbandingkan harus memiliki setidaknya satu kesamaan kualitas. Benda-benda
yang tidak memiliki kesamaan kualitas adalah, dengan definisi, tidak dapat saling
dibandingkan.
Mari kita menyelidiki setiap komoditi tersebut. Kualitas apa yang mereka
miliki? Pertama sekali, mereka memiliki kumpulan tak terhingga dari kualitas
alami: berat, panjangnya, kepadatan, warna, ukuran, sifat molekular;
singkatnya, semua kualitas fisik, kimia dan kualitas alami mereka yang lainnya.
Apakah ada salah satu dari kualitas fisik yang dapat menjadi dasar untuk
membandingkan mereka sebagai komoditi, berfungsi sebagai ukuran umum dari nilai
tukar mereka? Mungkinkah itu berat? Tentu saja tidak, karena satu pon mentega
tidak memiliki nilai yang sama dengan satu pon emas. Apakah itu volume atau
panjangnya? Contoh-contoh akan segera menunjukan bahwa semua kualitas fisik
tersebut tidak dapat menjadi ukuran umum dari nilai tukar. Singkatnya, semua
hal tersebut yang menyusun kualitas alami komoditi, semua hal yang merupakan
kualitas fisik atau kimia dari komoditi tersebut, tentu saja menentukan nilai
gunanya, kegunaan relatifnya, tetapi bukan nilai tukarnya. Nilai tukar harus
sebagai akibatnya diringkas dari semua hal yang menyusun kualitas fisik alami
dalam komoditas tersebut.
Kualitas umum harus ditemukan dalam semua komoditi tersebut yang bukan
fisik. Kesimpulan Marx adalah bahwa satu-satunya kualitas umum dalam komoditi
tersebut yang bukan fisik adalah kualitas komoditi tersebut karena merupakan
produksi dari kerja manusia, dari kerja abstrak manusia.
Kerja manusia dapat dilihat dalam dua jalan yang berbeda. Kerja manusia
dapat dianggap sebagai kerja kongkret khusus, seperti kerja pembuat roti,
pemotong daging, pembuat sepatu, penenun, pandai besi, dsb. Tetapi selama hal
tersebut dilihat sebagai kerja kongkret khusus, hal tersebut dilihat dalam
aspek kerja yang menghasilkan hanya nilai guna.
Dibawah kondisi tersebut kita memperhatikan hanya kualitas fisik dari
komoditi dan hal tersebut merupakan kualitas yang tidak dapat dibandingkan.
Satu-satunya hal yang komoditi miliki dalam kesamaan dari titik pandang untuk
menukarkan mereka adalah bahwa semua hal tersebut dihasilkan oleh kerja abstrak
manusia, yaitu, oleh produsen yang berhubungan satu sama lainnya atas dasar
keseimbangan sebagai hasil dari fakta bahwa mereka semua menghasilkan
barang-barang untuk pertukaran. Kualitas umum komoditi, sebagai akibatnya,
berdampingan dalam fakta bahwa semua komoditas tersebut merupakan produk kerja
abstrak manusia dan adalah hal tersebut yang menyediakan ukuran bagi nilai
tukar mereka, dari kemampuan tukar mereka. Itu adalah, sebagai akibat, kualitas
kerja kebutuhan secara sosial dalam produksi komoditi yang menentukan nilai
tukar mereka.
Mari kita segera menambahkan bahwa rasionalisasi Marx disini adalah baik
abstrak dan sulit dan setidaknya masih dapat dipertanyakan, sebuah titik yang
banyak diambil oleh lawan Marxisme dan digunakan untuk menyerang, bagaimanapun
tanpa sukses.
Apakah fakta bahwa semua komoditas dihasilkan oleh kerja abstrak manusia
benar-benar satu-satunya kualitas yang mereka miliki secara umum, terlepas dari
kualitas alami mereka? Tidak sediki penulis yang berpikir mereka telah
menemukan yang lainnya. Secara umum, bagaimanapun juga, hal tersebut selalu
direduksi entah pada kualitas fisik atau pada fakta bahwa mereka adalah produk
kerja abstrak.
Bukti ketiga dan terakhir dari ketepatan teori nilai kerja adalah bukti
oleh reduksi pada ke-absurd-an. Hal tersebut, lebih lagi, merupakan bukti yang
paling bagus dan paling “modern”.
Bayangkan sesaat sebuah masyarakat dimana kerja hidup manusia sepenuhnya
hilang, yaitu, sebuah masyarakat dimana semua produksi telah 100 persen
otomatis. Tentu saja, selama kita tetap dalam tahap transisi saat ini, dimana
beberapa kerja telah sepenuhnya otomatis, yaitu, sebuah tahapan dimana
pabrik-pabrik tidak menggunakan pekerja berdiri seiring pabrik lainnya dimana
kerja manusia masih dimanfaatkan, tidak ada persoalah teoritis khusus, karena
hal tersebut hanya merupakan pertanyaan mengenai transfer nilai lebih dari satu
perusahaan ke perusahaan yang lainnya. Hal tersebut adalah sebuah ilustrasi
hukum penyeimbangan angka keuntungan, yang akan kita teliti nanti.
Tetapi mari kita bayangkan bahwa perkembangan tersebut telah didorong pada
tingkat ekstrimnya dan kerja manusia telah sepenuhnya dihilangkan dari semua
bentuk produksi dan layanan jasa. Dapatkan nilai terus ada dibawah kondisi
tersebut? Dapatkah ada sebuah masyarkat dimana tidak ada yang memiliki
pemasukan tetapi komoditi terus memiliki nilai dan dijual? Tentu saja situasi
semacam itu adalah absurd. Produksi massal besar akan diproduksi tanpa produksi
tersebut menciptakan pemasukan apapun, karena tidak ada manusia yang terlibat
dalam produksi tersebut. Tetapi seseorang ingin “menjual” produk tersebut
dimana tidak ada lagi pembeli!
Adalah jelas bahwa distribusi produk dalam masyarakat semacam itu tidak
akan efektif lagi dalam bentuk penjualan komoditas dan sesungguhnya menjual
akan menjadi semakin absurd karena kelimpahan produksi oleh otomatisasi umum.
Diekspresikan dengan cara yang lain, sebuah masyarakat dimana kerja manusia
akan secara total dihilangkan dari produksi, dalam makna ungkapan yang paling
umum, termasuk juga layanan, akan menjadi sebuah masyarakat dimana nilai tukar
juga akan dihilangkan. Hal ini membuktikan validitas teori tersebut, sementara
kerja manusia hilang dari produksi, nilai juga hilang mengikutinya.
II. Kapital dan
Kapitalisme
II.1 Kapital dalam Masyarakat Pra Kapitalis
Antara masyarakat primitif yang didirikan atas ekonomi alami dimana
produksi terbatas pada nilai guna yang digunakan untuk konsumsi sendiri oleh
para produsennya, dan masyarakat kapitalis, disitu terbentang periode panjang
dalam sejarah manusia, melingkupi secara esensiil semua peradaban manusia, yang
berhenti sebelum mencapai garis depan kapitalisme. Marxisme mendefinisikan
mereka sebagai masyarakat dimana produksi komoditi skala-kecil berlaku umum.
Sebuah masyarakat jenis tersebut telah akrab dengan produksi komoditi,
barang-barang yang dibuat untuk pertukaran dipasar dan bukan untuk konsumsi
langsung oleh produsennya, tetapi produksi komoditi semacam itu belum
dijeneralisir, seperti dalam masyarakat kapitalis.
Dalam sebuah masyarakat yang didirikan atas produksi komoditi skala kecil,
dua jenis operasi ekonomi berjalan. Petani dan pekerja tangan ahli yang membawa
produk mereka ke pasar ingin menjual barang-barang yang nilai gunanya tidak
dapat mereka gunakan dalam rangka untuk mendapatkan uang, alat tukar, untuk
mendapatkan barang-barang yang lain, yang nilai gunanya dibutuhkan oleh mereka
atau dianggap memiliki nilai guna yang lebih penting dari barang-barang yang
mereka miliki.
Petani membawa gandum ke pasar yang dia jual untuk mendapatkan uang, dengan
uang tersebut dia membeli, kita sebut saja, pakaian. Pekerja tangan ahli
membawa pakaian mereka ke pasar, dimana dia jual untuk uang, dengan uang
tersebut dia membeli, kita sebut saja, gandum.
Apa yang kita dapatkan disini, kemudian adalah operasi: menjual untuk
membeli. Komoditi – Uang – Komoditi (Commodity – Money – Commodity), C – M – C
yang memiliki karakter esensiil sebagai berikut: nilai kedua perbedaan yang
besar dalam formula tersebut adalah, dengan definisi, tepat sama.
Tetapi didalam produksi komoditi skala-kecil muncul, disamping pekerja
tangan ahli dan petani kecil, orang yang lain, yang melangsungkan jenis operasi
ekonomi yang berbeda. Ketimbang menjual untuk membeli, dia membeli untuk
menjual. Jenis orang tersebut pergi ke pasar tanpa komoditi apapun; dia adalah
pemilik uang. Uang tidak dapat dijual; tetapi uang dapat digunakan untuk
membeli, dan itu adalah yang dia lakukan: membeli untuk menjual, untuk menjual
ulang: M – C – M’.
Ada perbedaan pokok antara dua jensi operasi tersebut. Operasi yang kedua
tidak masuk akal jika pada akhirnya kita berhadapan dengan nilai yang tepat
sama seperti yang kita miliki pada mulanya. Tidak ada orang yang membeli
komoditi untuk dijual agar mendapatkan nilai yang sama dengan yang telah dia
bayarkan. Operasi “membeli untuk menjual” masuk akal hanya jika penjual
tersebut membawa nilai tambah, sebuah nilai lebih. Itulah mengapa kita
menyatakan disini, dengan definisi. M’ lebih besar dari M dan tersusun dari
M+m; m merupakan nilai lebih, jumlah peningkatan dalam nilai M.
Kita sekarang mendefinisikan kapital sebagai nilai yang ditingkatkan oleh
nilai lebih, entah hal tersebut terjadi dalam proses sirkulasi komoditas,
seperti dalam contoh yang telah diberikan, atau dalam produksi, seperti dalam
sistem kapitalis. Kapital oleh karena itu adalah setiap nilai yang diperbesar
oleh nilai lebih, hal tersebut oleh karena itu terdapat tidak hanya dalam
masyarakat kapitalis tetapi juga dalam semua masyarakat yang didirikan atas
produksi komoditi kecil. Untuk alasan tersebut dibutuhkan untuk membedakan
dengan jelas antara hidup kapital dan hidup corak produksi kapitalis,
masyarakat kapitalis. Kapital jauh lebih tua dibanding corak produksi
kapitalis. Kapital kemungkinan telah ada 3.000 tahun yang lalu, sedangkan corak
produksi kapitalis hanya berumur 200 tahun.
Bentuk apa yang diambil oleh kapital dalam masyarakat pra kapitalis? Pada
dasarnya adalah kapital riba dan kapital perdagangan atau komersial. Jalan dari
masyakakat pra kapitalis menuju masyarakat kapitalis dikarakterkan oleh
penetrasi kapital kedalam bidang produksi. Corak produksi kapitalis adalah
corak produksi pertama, bentuk organisasi sosial pertama, dimana kapital tidak
terbatas pada peran tunggal sebagai perantara dan pengeksploitasi terhadap
bentuk produksi non-kapitalis, terhadap produksi komoditas skala kecil. Dalam
corak produksi kapitalis, kapital mengambil alat produksi dan mempenetrasi
secara langsung kedalam produksi itu sendiri.
II.2 Asal Usul Corak Produksi Kapitalis
Apa asal usul corak produksi kapitalis? Apa asal usul masyarakat kapitalis
seperti yang telah berkembang selama 200 tahun terakhir?
Pertama kali terdapat pada pemisahan produsen dari alat produksi tersebut.
Kemudian, adalah pendirian alat produksi tersebut sebagai monopoli didalam
tangan satu klas sosial, borjuasi. Dan akhirnya, adalah kemunculan klas sosial
lainnya yang telah dipisahkan dari alat produksinya dan oleh karena itu tidak
memiliki sumber lainnya untuk bertahan hidup selain menjual tenaga kerjanya pada
klas yang telah memonopoli alat produksi.
Mari kita melihat tiap asal usul corak produksi kapitalis tersebut, yang
pada saat yang sama karakteristik pokok dari sistem kapitalis juga.
Karakteristik pertama: pemisahan produsen dari alat produksinya. Hal tersebut
adalah kondisi pokok dari keberadaan sistem kapitalis tetapi hal tersebut juga
merupakan yang secara umum paling lemah dipahami. Mari kita menggunakan sebuah
contoh yang terlihat bersifat paradoks karena diambil dari awal Abad
Pertengahan, yang dikarakterkan oleh perhambaan.
Kita mengetahui bahwa massa produsen-petani merupakan hamba yang terikat
pada tanah. Tetapi ketika kita mengatakan bahwa hamba tersebut terikat pada
tanah, kita menyatakan secara tidak langsung bahwa tanah juga “terikat” pada
hamba, itu adalah, tanah merupakan milik klas sosial yang selalu memiliki dasar
untuk menyediakan kebutuhannya, tanah yang cukup untuk bekerja sehingga
individu hamba dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga bahkan ketika dia bekerja
dengan alat yang paling primitif. Kita tidak melihat rakyat ditakdirkan untuk
mati karena kelaparan jika mereka tidak menjual tenaga kerja mereka. Dalam
masyarakat semacam itu, tidak ada pemaksaan ekonomi untuk menyewa seseorang,
untuk menjual tenaga kerja seseorang pada kapitalis.
Hal tersebut dengan kata lain dapat kita katakan dengan menyatakan bahwa
sistem kapitalis tidak dapat berkembang dalam masyarakat semacam itu. Kebenaran
umum tersebut juga memiliki penerapan modern dalam jalan kolonialis mengenalkan
kapitalisme pada negeri-negeri Afrika selama abad kesembilanbelas dan awal abad
duapuluh.
Mari kita melihat kondisi kehidupan penghuni di semua negeri-negeri Afrika.
Mereka adalah peternak dan penanam tanah, atas dasar yang sedikit banyak
primitif, tergantung pada karakter daerah tersebut, tetapi selalu dibawah
kondisi kelimpahan tanah relatif. Tidak hanya bahwa tidak ada kekurangan tanah
di Afrika, tetapi dalam istilah rasio populasi dengan jumlah tanah yang
tersedia, dapat dikatakan bahwa cadangan tanah sebenarnya tidak terbatas.
Adalah benar, tentu saja, bahwa hasil panen dari tanah tersebut sedang-sedang
saja karena alat pertanian masih kasar dan standar kehidupan sangat rendah,
dsb, tetapi tidak ada kekuatan material yang mendorong populasi tersebut untuk
bekerja di pertambangan, pada pertanian atau di pabrik milik kolonialis kulit
putih. Tanpa transformasi dalam administrasi tanah di Afrika Daerah
Katulistiwa, di Afrika Hitam, tidak ada kemungkinan untuk mengenalkan corak
produksi kaptialis. Untuk itu, tekanan karakter non-ekonomi harus digunakan,
pemisahan sempurna dan brutal dari massa kulit hitam dari kebutuhan hidup
normal mereka harus dilaksanakan. Sebagaian besar tanah harus dirubah
secepatnya menjadi daerah nasional, dimiliki oleh negeri kolonial, atau menjadi
milik pribadi dari perusahaan kapitalis. Populasi kulit hitam harus mencari
daerah menetap baru, atau di penampungan, seperti sebutan mereka secara sinis,
di area tanah yang tidak cukup untuk mempertanahkan semua penghuninya. Sebagai
tambahan, pajak kepala, yaitu, pajak uang untuk tiap penghuni, dibebankan
sebagai pengangkat yang lain, karena pertanian primitif tidak memanen
pendapatan uang.
Oleh berbagai macam tekanan ekstra-ekonomi tersebut, kolonialis menciptakan
kebutuhan bagi rakyat Afrika agar bekerja untuk mendapatkan upah selama mungkin
dua atau tiga bulan setahun, dalam rangka agar mendapatkan uang untuk membayar
pajaknya dan membeli tambahan kecil makanan yang dibutuhkan untuk
keberlangsungan hidupnya, karena tanah yang dapat dia gunakan tidak lagi cukup
untuk mata pencahariannya.
Di negeri seperti Afrika Utara, Rhode, dan bagian bekas Kongo Belgia,
dimana corak produksi kapitalis diperkenalkan dalam skala besar, metode
tersebut diterapkan dalam skala yang sama, dan sebagaian besar populasi kulit
hitam dicabut, diusir, dan dipaksa keluar dari keberadaan dan model bekerja
tradisionalnya.
Mari kita sebutkan, sepintas, kemunafikan ideologis yang menemani gerakan
tersebut, keluhan perusahaan kapitalis bahwa kulit hitam malas karena mereka
tidak mau bekerja bahkan ketika mereka memiliki kesempatan untuk membuat
sepuluh kali lebih banyak di tambang dan pabrik ketimbang dari kerja
tradisional mereka di tanah. Keluhan yang sama telah dibuat bagi pekerja India,
Cina dan Arab 50 hingga 70 tahun lebih awal. Mereka juga membuat – merupakan
bukti yang cukup baik dari keadilan dasar dari semua ras yang menyusun umat
manusia – keluhan tersebut terhadap pekerja Eropa, Perancis, Belgia, Inggris,
Jerman, pada abad ketujuhbelas atau delapanbelas. Hal tersebut adalah fungsi
dari fakta terus menerus, sebagai berikut: secara normal, karena susunan fisik
dan sarafnya, tidak ada manusia yang mau terkurung selama 8, 9, 10, atau 12 jam
sehari di pabrik, pemintalan atau tambang; sangat dibutuhkan kekuatan atau
tekanan yang sangat tidak normal dan tidak biasa untuk membuat manusia
menjalankan kerja hukuman semacam itu ketika dia belum terbiasa dengannya.
Asal usul dan karakteristik kedua dari corak produksi kapitalis adalah
konsentrasi alat produksi dalam bentuk monopoli dan berada ditangan satu klas
sosial, borjuasi. Konsentrasi tersebut sebenarnya tidak mungkin kecuali
revolusi terus menerus terjadi pada alat produksi, dimana alat produksi menjadi
semakin kompleks dan semakin mahal, setidaknya berkaitan dengan alat produksi
minimum yang dibutuhkan untuk membuka bisnis besar (awal pengeluaran kapital).
Di Gilda dan perdagangan Abad Pertengahan, terdapat stabilitas besar dalam
alat produksi; alat tenun diturunkan dari ayah ke anak, dari generasi ke
generasi. Nilai alat tenun tersebut relatif kecil, yaitu, setiap pengerajin
dapat mengharapkan mendapatkan kembali hasil nilai dari alat tersebut setelah
sejumlah kerja tertentu. Kemungkinan untuk membangun monopoli muncul saat
revolusi industri, yang melepaskan pembangunan tidak teriterupsi dalam mekanisme
yang semakin kompleks dan beriringan, dan kebutuhan untuk jumlhan kapital yang
lebih besar untuk memulai sebuah perusahaan baru.
Sejak saat ini dapat dikatakan bahwa akses kepada kepemilikan alat produksi
menjadi tidak mungkin bagi mayoritas besar pekerja upahan, dan kepemilikan
semacam itu menjadi monopoli ditangan satu klas sosial, klas yang memiliki
kapital dan cadangan kapital dan mampu mendapatkan kapital tambahan berdasarkan
atas fakta tunggal bahwa dia telah memiliki sebelumnya. Dan berdasarkan atas
fakta yang sama, klas tanpa kapital ditakdirkan untuk tetap seterusnya dalam
kondisi tidak memiliki hak dan akibatnya dibawah tekanan terus menerus agar
bekerja untuk orang lain.
Asal usul dan karakter kapitalisme yang ketiga: kemunculan klas sosial yang
tidak memiliki apapun ditangannya dan tidak memiliki cara untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya selain menjual tenaga kerjanya, tetapi pada waktu yang sama,
bebas untuk menjual tenaga kerja tersebut dan demikian juga bagi kapitalis
pemilik alat produksi. Ini merupakan kemunculan proletariat modern.
Kita memiliki tiga elemen yang saling mengkombinasikan. Proletariat adalah
pekerja bebas; dia menyusun sebuah langkah maju maupun langkah mundur,
dibandingkan dengan petani hamba Abad Pertengahan: sebuah langkah maju karena
petani hamba tersebut tidaklah bebas (petani hamba itu sendiri merupakan sebuah
langkah maju dibandingkan budak) dan tidak dapat bergerak dengan bebas; sebuah
langkah mundur karena, bertentangan dengan petani hamba, proletariat telah “dibebaskan”
dari, yaitu, dicabut dari, semua akses kepada alat produksi.
II. 3 Asal Usul dan Definisi Proletariat Modern
Diantara nenek moyang langsung proletariat modern kita harus memasukan
populasi dari Abad Pertengahan yang tidak lagi terikat dengan kepemilikan tanah
atau terlibat dalam perdagangan, perusahaan dan gilda-gilda di kota-kota bebas,
dan akibatnya menjadi populasi yang mengembara, tidak memiliki kepemilikan,
yang telah mulai menjual kerjanya harian atau bahkan perjam. Sangat sedikit
kota pada masa Abad Pertengahan, sebut saja Florence, Venice dan Bruges,
merupakan sebuah “pasar buruh” yang muncul sejak abad ketigabelas, empatbelas,
atau limabelas. Kota-kota tersebut memiliki tempat dimana orang miskin yang
tidak terlibat dalam gilda, bukanlah pengerajin dalam gilda dan tidak memiliki
alat bertahan hidup, berkumpul dan menunggu untuk disewa oleh para pedagang
atau pengusaha selama satu jam, setengah hari, satu hari penuh, dsb.
Asal usul lain dari proletariat modern, lebih dekat secara waktu dengan
kita, terdapat dalam apa yang disebut dengan sisa-sisa tatanan feodal yang
runtuh. Oleh karena itu berkaitan dengan penurunan panjang dan pelan dalam
kebangsawanan feodal, yang terjadi pada abad ketigabelas dan empatbelas dan
dituntaskan dengan revolusi borjuis di Prancis pada akhir abad kedelapanbelas.
Pada Abad Pertengahan, terdapat kadang lima puluh, enam puluh hingga lebih dari
seratus rumah tangga hidup langsung dari tuan feodal. Jumlah individu yang ada
didalamnya mulai berkurang, terutama sekali selama abad keenambelas, yang
ditandai oleh kenaikan harga-harga dengan tajam, dan sebagai konsekwensinya,
terjadi pemiskinan besar terhadap semua klas-klas sosial yang memiliki
pendapatan uang tetap. Tuan-tuan feodal Eropa Barat juga terkena pukulan hebat karena
kebanyakan dari mereka telah merubah sewa yang setimpal menjadi sewa dengan
uang. Salah satu hasil dari proses pemiskinan tersebut adalah pemecatan masif
terhadap seksi penting dari rombongan feodal. Dengan jalan tersebut ribuan
mantan pelayan pria, hamba, dan juru tulis para bangsawan menjadi pengembara,
pengemis, dsb.
Asal usul ketiga proletariat modern berasal dari penyingkiran sebagian dari
petani dari tanahnya yan diakibatkan oleh perubahan tanah pertanian tersebut
menjadi padang rumput. Sosialis Utopis Inggris yang terkenal Thomas More
menunjukan rumus hebat tersebut sejak abad keenambelas. “Domba telah memakan
manusia”, dengan kata lain, perubahan tanah pertanian menjadi padang rumput
untuk menggembalakan domba, sebagai akibat dari perkembangan industri wool,
menyingkirkan beribu-ribu petani Inggris dari tanah mereka dan menakdirkan
mereka untuk menjadi kelaparan.
Masih terdapat asal usul keempat proletariat modern, yang memainkan peran
lebih kecil di Eropa Barat tetapi memainkan peran yang besar di Eropa Tengah
dan Timur, Asia, Amerika Latin dan Afrika Utara: asal usul tersebut adalah
hancurnya bekas-bekas pekerja tangan yang ahli karena perjuangan persaingan
antara pengerajin tangan dan industri modern yang masuk kedalam negeri-negeri
kurang berkembang tersebut dari luar.
Singkatnya, corak produksi kapitalis adalah sebuah rejim dimana alat
produksi telah menjadi monopoli ditangan klas sosial dan dimana produsen,
terpisah dari alat produksi tersebut, mereka dalam kondisi bebas tetapi
tercabut dari semua cara untuk memenuhi kebutuhan hidup dan akibatnya harus
menjual tenaga kerja mereka pada pemilik alat produksi tersebut untuk bertahan
hidup.
Apa yang menjadi karakter dari proletariat oleh karena itu bukanlah tingkat
upahnya, entah itu tinggi ataupun rendah, tetapi terutama sekali fakta bahwa
dia telah dipotong dari alat produksinya, atau bahwa pendapatan mereka tidak
cukup untuk dia bekerja sendiri.
Dalam rangka untuk menganalisa apakah kondisi proletar berada dalam jalan
untuk menghilang atau apakah, berkebalikan dengannya, berada dalam jalan
ekspansi, tidaklah sesederhana kita meneliti rata-rata upah pekerja atau
rata-rata gaji pelayan, tetapi upah atau gaji tersebut dibandingkan dengan
konsumsi rata-ratanya; dengan kata lain, kita harus melihat pada kemungkinannya
untuk menabung dan membandingkan hal tersebut dengan pengeluaran untuk
mendirikan sebuah perusahaan sendiri. Jika kita menentukan bahwa setiap
pekerja, setiap pelayan, dapat, setelah sepuluh tahun kerja, menyisihkan
tabungan yang memungkinkannya untuk membeli sebuah toko atau bengkel kerja
kecil, kemudian kita dapat mengatakan bahwa proletar semakin berkurang dan
bahwa kita hidup dalam masyarakat dimana kepemilikan dalam alat produksi
semakin menyebar dan menjadi umum.
Jika kita menemukan, bagaimanapun, bahwa mayoritas besar buruh, manual,
kerah putih dan pemerintahan, tetap merupakan orang miskin yang sama dengan
sebelumnya, setelah bekerja seumur hidup, dengan kata lain tanpa memiliki
tabungan atau tidak memiliki cukup kapital untuk membeli alat produksi, kita
dapa tmenyimpulkan bahwa kondisi proletar telah menjadi umum ketimbang semakin
kecil, dan hal tersebut jauh lebih jelas saat ini ketimbang lima puluh tahun
yang lalu. Ketika kita meneliti statistik pada struktur sosial Amerika Serikat,
sebagai contoh, kita dapat melihat bahwa selama enam puluh tahun terakhir,
terdapat penurunan tidak terhambat setiap lima tahun dalam persentase populasi
aktif Amerka yang bekerja dengan usahanya sendiri dan diklasifikasikan sebagai
pengusaha atau bekerja dalam bisnis keluarga, sementara persentase dari
populasi yang sama tersebut yang didorong untuk menjual tenaga kerjanya telah
meningkat secara terus menerus.
Lebih lagi, jika kita meneliti distribusi kekayaan pribadi, kita menemukan
bahwa mayoritas besar pekerja, kita dapat mengatakan 95 persen, dan mayoritas
besar pekerja kerah putih (80 atau 85 persen) bahkan tidak mampu untuk
mengumpulkan sejumlah kecil kapital; dengan kata lain, kelompok tersebut
menghabiskan seluruh pendapatan mereka. Kekayaan dalam kenyataannya terbatas
pada bagian yang sangat kecil dari populasi. Dalam kebanyakan negeri kapitalis,
1 persen, 2 persen , 2,5 persen, 3,5 persen atau 5 persen dari populasi
memiliki 40 persen, 50 persen, 60 persen dari kekayaan negeri tersebut, jumlah
yang sama berada ditangan 20 persen atau 25 persen dari populasi yang sama.
Kategori pertama dari kaum pemilik adalah borjuasi besar; kategori kedua adalah
borjuasi menengah dan kecil. Dan semua yang diluar kedua kategori tersebut
tidak memiliki apapun kecuali barang-barang konsumsi (terkadang termasuk rumah
mereka).
Jika secara jujur disusun, statistik mengenai pajak kepemilikan dan pajak
warisan sangat mengungkapkan hal tersebut.
Penelitian khusus yang dilakukan oleh Brookings Institute (sebuah sumber
yang bebas dari semua kecurigaan sebagai sumber Marxisme) terhadap Bursa Efek
New York mengungkapkan bahwa hanya satu atau dua persen pekerja memiliki saham
dan lebih jauh lagi bahwa “kepemilikan” tersebut rata-rata bernilai $ 1.000.
Sebetulnya semua kapital oleh karena itu berada ditangan borjuasi dan hal
ini mengungkapkan karakter reproduktif sendiri (self-reproductive) sistem
kapitalis: mereka yang memiliki kapital terus mengakumulasikan semakin banyak;
mereka yang tidak memilikinya jarang sekali dapat mendapatkannya. Dengan jalan
ini pembagian masyarakat diabadikan dalam keadaan adanya klas bermilik dan klas
yang dipaksa untuk menjual tenaga kerjanya. Harga untuk tenaga kerja tersebut,
upah, sebenarnya habis dikonsumsi terus menerus, sementara klas bermilik memilik
kapital yang secara terus menerus meningkat dari nilai lebih. Penyejahteraan
masyarakat dalam kapital oleh karena itu terjadi, boleh dikatakan, bagi
keuntungan eksklusif satu klas sosial, yaitu, klas kapitalis.
II.4 Mekanisme Pokok Ekonomi Kapitalis
Dan sekarang apakah dasar berfungsinya masyarakat kapitalis tersebut?
Jika kau akan pergi ke Printed Cottons Exchange dihari tertentu, kau tidak
akan mengetahui apakah terdapat jumlah pakaian yang tepat, atau terlalu sedikit
atau terlalu banyak, dihitung dari jumlah kebutuhan yang ada di Perancis saat
itu. Kau hanya dapat menemukan kemucian setelah jangka waktu tertentu: yaitu,
jika terjadi overproduksi dan sebagian produksi tidak dapat dijual, kau akan
melihat harga jatuh. Jika terdapat, sebaliknya, kekurangan, kau akan melihat
harga naik. Gerakan harga adalah sebuah alat ukur yang mengatakan kepada kita
apakah terdapat kekurangan atau kelebihan. Dan karena hanya setelah kejadian
hal tersebut dapat dilihat apakah kuantitas kerja yang digunakan di cabang
industri telah dikeluarkan dalam jalan yang secara sosial sesuai kebutuhan atau
apakah bagian darinya telah dibuang sia-sia, hanya setelah kejadian tersebut
kita mampu untuk menentukan nilai dengan tepat sebuah komoditi tertentu. Nilai
tersebut, oleh karenanya, adalah, jika kau ingin menyebutnya, sebuah abstraksi;
tetapi nilai tersebut adalah benar-benar konstan dimana fluktuasi harga
mengikutinya.
Apa yang menyebabkan gerakan dalam harga-harga tersebut dan akibatnya,
dalam jangka panjang, gerakan dalam nilai-nilai tersebut, dalam produktivitas
kerja tersebut, dalam produksi tersebut dan dalam keseluruhan kehidupan
ekonomi?
Apa yang membuat Amerika berjalan? Apa yang membuat masyarakat kapitalis
bergerak? Persaingan. Tanpa persaingan tidak ada masyarakat kapitalis. Sebuah
masyarakat dimana persaingan secara radikal atau sepenuhnya dihilangkan tidak
akan lagi menjadi kapitalis pada tingkatan bahwa tidak akan ada lagi motivasi
ekonomi utama untuk mengakumulasikan kapital dan akibatnya tidak ada lagi motivasi
ekoomi untuk menjalankan sembilan persepuluh operasi ekonomi yang dijalankan
para kapitalis.
Dan apakah dasar persaingan ? Dua ide adalah dasar baginya tetapi keduanya
tidak saling melengkapi. Pertama ide mengenai sebuah pasar yang tidak terbatas,
pasar tanpa halangan, tanpa batasan tepat. Kemucian ide mengenai keserba
ragaman pusat pembuat keputusan, terutama dalam hal investasi dan produksi.
Jika semua produksi dalam sektor industri tertentu terkonsentrasikan
ditangan satu fima kapitalis, persaingan belum dihilangkan, karena sebuah pasar
tidak terbatas masih ada dan akan masih ada perjuangan persaingan antara sektor
industri tersebut dan sektor yang lainnya untuk mendapatkan sebanyak mungkin
pasar tersebut. Lebih jauh lagi, akan selalu ada kemungkinan bahwa pesaing
asing masuk dalam keadaan tersebut dan menghasilkan persaingan baru tepat di
sektor yang sama.
Kebalikannya juga benar. Jika kita dapat menyusun sebuah pasar yang
sepenuhnya terbatas, tetapi yang dimana sejumlah besar perusahaan berusaha
untuk mendapatkan bagian dari pasar yang terbatas tersebut, maka persaingan
tentu saja masih ada.
Oleh karena itu hanya jika kedua fenomena tersebut mampu untuk terus
menerus ditekan, yaitu, jika hanya terdapat satu produsen untuk semua komoditi
dan pasar menjadi sepenuhnya stabil, beku dan tanpa kapasitas apapun untuk
ekspansi, maka persaingan menjadi hilang sepenuhnya.
Kemunculan pasar yang tidak terbatas menunjukan semua hal pentingnya jika
dibandingkan dengan periode produksi komoditas skala kecil. Sebuah gilda di
Abad Pertengahan umumnya bekerja untuk sebuah pasar yang terbatas di kota dan
daerah pinggiran kotanya, dan sesuai dengan teknik kerja tetap dan khusus.
Perjalanan sejarah pasar terbatas menjadi tidak terbatas diilustrasikan
oleh contoh “pembuat pakaian baru” di daerah luar kota yang menggantikan
pembuat pakaian yang lama di kota pada abad kelimabelas. Sekarang terdapat
manufaktur pakaian tanpa regulasi gilda, tanpa batasan produksi, oleh karen itu
tanpa batasan pasar, yang mencoba untuk melakukan infiltrasi dimana-mana,
mencari pelanggan dimana-mana, dan tidak hanya melebihi daerah dekat pusat
produksi mereka, tetapi bahkan mencoba untuk mengorganisir perdagangan ekspor
ke negeri-negeri yang jauh. Disisi yang lainnya, revolusi komersial yang besar
pada abad keenambelas menstimulasi pengurangan relatif dalam harga-harga
keseluruhan produk yang sebelumnya dianggap kemewahan besar pada Abad
Pertengahan dan hanya didalam jangkauan daya beli sebagian kecil populasi.
Produk tersebut tiba-tiba menjadi jauh lebih murah, dan bahkan menjadi berada
didalam jangkauan bagian besar dari populasi. Contoh yang paling jelas
kecenderungan tersebut adalah gula, yang telah menjadi sebuah produk umum hari
ini dan tidak dapat diragukan lagi dapat ditemukan disetiap rumah tangga klas
pekerja di Perancis atau di Eropa; pada abad kelimabelas, bagaimanapun, gula
masih merupakan barang yang sangat mewah.
Para apologis bagi kapitalisme selalu menunjukan pada pengurangan
harga-harga dan meluasnya pasar bagi keseluruhan produk sebagai keuntungan yang
dibawa oleh sistem tersebut. Argumentasi ini adalah benar. Hal tersebut adalah
salah satu aspek dari apa yang disebut Marx sebagai “misi membawa peradaban
dari Kapital.” Untuk menjadi yakin bahwa kita peduli dengan dialektika tetapi
fenomena nyata adalah dimana nilai tenaga kerja memiliki tendensi untuk jatuh
berdasarkan pada fakta bahwa industri kapitalis menghasilkan komoditi yang
senilai dengan upah dengan kecepatan yang terus meningkat sementara dia secara
serempak memiliki kecenderungan untuk meningkat berdasarkan pada fakta bahwa
nilai tenaga kerja tersebut semakin mengambil nilai keseluruhan komoditas yang
telah menjadi barang-barang konsumsi massal, sementara sebelumnya komoditas
disediakan untuk bagian kecil populasi
Pada dasarnya, keseluruhan sejarah perdagangan antara abad keenambelas dan
duapuluh adalah sejarah perubahan progresif dari perdagangan dalam
barang-barang mewah menjadi perdagangan dalam barang-barang konsumsi massal;
menjadi perdagangan dimana barang-barang ditujukan untuk bagian populasi yang
terus meningkat. Adalah hanya dengan pembangunan jalur kereta, alat untuk navigasi
yang cepat, telegraf, dsb, bahwa menjadi mungkin bagi seluruh dunia untuk
disusun kedalam pasar potensial nyata untuk setiap produsen kapitalis yang
besar.
Ide pasar yang tidak terbatas, oleh karena itu, tidak hanya menyatakan
ekspansi geograri, tetapi ekspansi ekonomi, tersedianya daya beli,. Mengambil
contoh baru-baru ini: kenaikan luar biasa dalam produksi barang-barang konsumen
tahan lama dalam produksi kapitalis dunia selama limabelas tahun terakhir tidak
sepenuhnya karena ekspansi geografi pasar kapitalis; bertentangan dengannya,
hal tersebut diiriingi oleh penurunan geografik pasar kapital, sejak
serangkaian negeri kehilangannya selama periode tersebut. Terdapat sedikit,
jika ada, mobil dari pabrik milik Perancis, Itali, Jerman, Inggris, Jepang atau
Amerika yang diekspor ke Uni Soviet, Cina, Vietnam Utara, Kuba, Korea Utara,
atau negeri-negeri Eropa Timur. Meskipun begitu, ekspansi tersebut memang
terjadi, diakibatkan fakta bahwa pecahan lebih besar dari daya beli yang
tersebut, yang telah meningkat juga sepenuhnya, digunakan untuk membeli
barang-barang konsumsi tahan lama tersebut.
Bukanlah sebuah kebetulan bahwa ekspansi tersebut diiringi oleh krisis
pertanian yang sedikit banyak permanen dalam negeri-negeri industri maju,
dimana konsumsi keseluruhan kelompok produk pertanian tidak hanya berhenti
meningkat pada dasar relatif tetapi bahkan mulai menunjukan penurunan absolut:
sebagai contoh, konsumsi roti, kentang, dan buah-buahan yang umum seperti apel,
pir, dsb.
Produksi untuk pasar yang tidak terbatas, dibawah kondisi persaingan,
menghasilkan peningkatan produksi, untuk sebuah peningkatan dalam produksi
memungkinkan pengurangan dalam biaya dan mendapatkan cara untuk memukul pesaing
dengan menjual lebih murah dari dia.
Jika kita melihat perubahan jangka panjang dalam nilai semua komoditas yang
dihasilkan dalam skala besar di dunia kapitalis, tidak dapat diragukan lagi
bahwa nilai komoditas tersebut sangat menurun. Pakaian, pisau, sepasang sepatu,
atau buku tulis murid sekolah hari ini memiliki nilai jam-an atau menit-an
kerja yang jauh lebih rendah dari pada nilainya limapuluh atau seratus tahun
yang lalu.
Jelas sekali nilai produksi harus dibandingkan dan bukan harga jual, yang
termasuk distribusi besar maupun pengeluaran penjualan atau keuntungan super
monopolis yang membesar. Sebagai contoh bahan bakarm terutama sekali bensin
yang didistribusikan di Eropa dan berasal dari Timur Tengah, kita menemukan
bahwa biaya produksinya sangat rendah, tidak mencapai 10 persen harga
penjualannya.
Dalam semua kejadian, tidak dapat diragukan mengenai fakta bahwa kejatuhan
dalam nilai telah sepenuhnya terjadi. Pertumbuhan dalam, produktivitas kerja
berarti pengurangan nilai barang-barang, karena barang-barang tersebut
diproduksi dengan kuantitas waktu kerja yang terus berkurang. Disanalah
terdapat alat praktis yang dimiliki kapitalisme untuk memperbesar pasarnya dan
mengalahkan pesaingnya
Metode praktis apa yang dimiliki kapitalis untuk memotong dengan tajam
biaya produksinya dan secara serempak meningkatkan produksinya? Adalah
perkembangan mekanisasi, perkembangan alat produksi, mekanisasi instrumen kerja
yang semakin kompleks, awalnya bertenaga uap, kemudian bensin atau solar, dan
akhirnya bertenaga listrik.
II. 5 Pertumbuhan Komposisi Organik Kapital
Semua produksi kapitalis dapat diwakili dalam nilai dengan rumus: C+V+S.
Nilai setiap komoditas terdiri atas dua bagian: satu bagian mewakili nilai yang
terkandung didalamnya dan yang lainya nilai yang baru diciptakan. Tenaga kerja
memiliki fungsi ganda, sebuah nilai guna ganda: fungsi untuk menjaga semua
nilai yang ada dalam alat kerja, mesin-mesin, bangunan-bangunan, sementara
memasukan sebagian nilai tersebut kedalam produksi saat itu; dan fungsi
menciptakan nilai baru, yang mengandung nilai lebih, keuntungan, sebagai salah
satu komponennya. Bagian lain nilai baru tersebut menjadi milik pekerja, dan
mewakili nilai pengganti upah pekerja itu. Porsi nilai lebih diambil oleh
kapitalis tanpa nilai pengganti apapun.
Kita menyebut kapital yang digunakan untuk membayar upah sebagai kapital
variabel dan ditandai dengan huruf V. Kenapa hal tersebut merupakan kapital?
Karena, sebetulnya, kapitalis menyodorkan dahulu nilai tersebut; nilai tersebut
tersusun, oleh karena itu, dari bagian kapital para kapitalis, yang dikeluarkan
sebelum ada nilai komoditi yang dihasilkan oleh pekerja.
Kita menyebut bagian kapital yang dirubah menjadi mesin-mesin, bangunan,
bahan baku, dsb, yang nilainya tidak ditingkatkan oleh produksi tetapi hanya
dijaga olehnya, sebagai kapital konstan dan ditandai dengan huruf C. Bagian
kapital yang disebut kapital variabel, V, bagian yang digunakan oleh kapitalis
untuk membeli tenaga kerja, disebut seperti itu karena bagian tersebut adalah
satu-satunya bagian kapital yang memungkinkan kapitalis meningkatkan kapitalnya
dengan memakai nilai lebih.
Karena hal diatas adalah pokok persoalannya, apakah logika ekonomi dari
persaingan, dari rangsangan untuk meningkatkan produktivitas, untuk
meningkatkan alat-alat mesin, kerja mesin? Logika rangsangan tersebut, yaitu,
kecenderungan pokok dari sistem kapitalis, adalah untuk meningkatkan penekanan
di C, penekanan pada kapital konstan, berkaitan dengan kapital variabel. Dalam
bagian C/V, C cenderung meningkat, yaitu, bagian kapital total yang tersusun
atas mesin-mesin dan bahan baku, tetapi bukan pada upah, cenderung meningkat
seiring kemajuan mekanisasi dan dimanapun persaingan mendorong kapitalisme
untuk meningkatkan produktivitas kerja.
Kita menyebut bagian C/V sebagai komposisi organik kapital: hal tersebut
oleh karenanya merupakan rasio antara kapital konstan dan kapital variabel, dan
kita mengatakan bahwa dalam sistem kapitalis komposisi organik tersebut
memiliki kecenderungan yang meningkat.
Bagaimana para kapitalis mendapatkan mesin-mesin baru? Apakah arti
pernyataan bahwa kapital konstan terus meningkat?
Operasi pokok dari ekonomi kapitalis adalah produksi nilai lebih. Tetapi
selama nilai lebih hanya diproduksi belaka, nilai lebih tetap tersimpan dalam
komoditi dan para kapitalis tidak dapat menggunakannyas; sepatu yang tidak
terjual tidak dapat dirubah menjadi mesin-mesin baru, menjadi produktivitas
yang lebih besar. Dalam rangka untuk membeli mesin-mesin baru, para
industrialis yang menghasilkan sepatu harus menjual sepatu-sepatu tersebut, dan
sebagian pendapatan dari penjualan tersebut dapat digunakan untuk membeli
mesin-mesin baru, sebagai tambahan kapital konstan.
Dinyatakan dengan kata lain: merealisasi nilai lebih adalah kondisi yang
dibutuhkan untuk akumulasi kapital, dan akumulasi kapital merupakan
kapitalisasi nilai lebih.
Untuk mendapatkan nilai tidak hanya berarti penjualan barang-barang, tetapi
juga penjualan barang-barang dibawah kondisi dimana nilai lebih yang didapatkan
dapat benar-benar direalisasi didalam pasar. Semua usaha yang berjalan pada
produktivitas rata-rata dalam masyarakat – yang produksi totalnya berhubungan
dengan kerja kebutuhan secara sosial – seharusnya bertujuan untuk mendapatkan
nilai total dan nilai lebih yang dihasilkan di pabrik mereka, banyak atau
sedikit, ketika barang-barang mereka terjual. Kita sebelumnya telah melihat
bahwa perusahaan-perusahaan tersebut yang berada diatas rata-rata dalam
produktivitas mereka akan mendapatkan bagian nilai lebih yang dihasilkan di
perusahaan lain, sementara perusahaan-perusahaan yang beroperasi lebih rendah
daripada produktivitas rata-rata tidak akan mendapatkan bagian nilai lebih yang
dihasilkan di pabrik mereka tetapi harus menyerahkannya kepada pabrik yang lain
yang secara teknologi berada didepan mereka. Akibatnya, upaya untuk mendapatkan
nilai lebih berarti penjualan barang-barang dibawah kondisi dimana semua nilai
lebih yang dihasilkan oleh pekerja di pabrik manufaktur komoditi sebenarnya
dibayar oleh para pembelinya.
Seiring stok barang-barang dihasilkan dalam periode tertentu telah terjual,
para kapitalis mendapatkan ganti pengeluarannya atas sejumlah uang yang
menyusun nilai pengganti kapital konstan yang dikeluarkan untuk mendapatkan
produksi tersebut, yaitu, bahan baku yang digunakan bersama dengan bagian nilai
mesin-mesin dan barang-barang yang dilunasi oleh produksi tersebut. Dia juga
telah mendapatkan ganti pengeluarannya atas nilai pengganti upah yang dia
ajukan diawal dalam rangka untuk mengadakan produksi tersebut. Sebagai
tambahan, para kapitalis mendapatkan kepemilikan nilai lebih yang dihasilkan
oleh para pekerjanya.
Apa yang terjadi dengan nilai lebih tersebut? Sebagian darinya dikonsumsi
secara tidak produktif oleh para kapitalis, karena dia harus hidup, harus juga
membuat keluarganya hidup bersama dengan rombongannya; dan semua yang dia
keluarkan untuk tujuan tersebut sepenuhnya diambil dari proses produksi.
Bagian kedua dari nilai lebih diakumulasikan dan digunakan dengan dirubah
menjadi kapital. Nilai lebih yang diakumulasikan adalah, akibatnya, keseluruhan
bagian nilai lebih yang tidak dikonsumsi secara tidak produktif untuk memenuhi
kebutuhan pribadi klas berkuasa, dan yang dirubah menjadi kapital, entah itu
kedalam tambahan kapital konstan, yaitu, tambahan kuantitas (lebih tepat lagi:
sebuah nilai) bahan baku, mesin-mesin, bangunan; atau menjadi tambahan kapital
variabel, yaitu, alat untuk menyewa lebih banyak pekerja.
Kita sekarang memahami kenapa akumulasi kapital adalah kapitalisasi nilai
lebih, yaitu, perubahan sebagian besar nilai lebih menjadi kapital tambahan.
Dan kita juga memahami bagaimana proses pertumbuhan dalam komposisi organik
kapital mewakili sebuah rangkaian tidak terinterupsi dari proses kapitalisasi,
yaitu, produksi nilai lebih oleh pekerja dan perubahannya oleh kapitalis
menjadi tambahan bangunan-bangunan, mesin-mesin, bahan baku dan pekerja.
Sebagai akibatnya adalah tidak tepat untuk mengatakan bahwa kapitalis yang
menciptakan pekerjaan, karena adalah para pekerja yang menciptakan nilai lebih,
yang dikapitalisasi oleh para kapitalis, dan digunakan, diantara untuk yang
lainnya, untuk menyewa lebih banyak pekerja. Dalam kenyataan, keseluruhan
jumlah kekayaan tetap yang kita lihat didunia, keseluruhan pabrik-pabrik,
mesin-mesin, jalan-jalan, jalan kereta, pelabuhan, bandara udara, dsb, dsb,
semua kekayaan besar tersebut tidak lain adalah materialisasi nilai lebih besar
yang diciptakan oleh para pekerja, oleh kerja yang tidak mendapatkan ganti yang
telah dirubah menjadi kepemilikan pribadi, menjadi kapital untuk para
kapitalis. Yaitu, sebuah bukti kolosal eksploitasi yang terus berlanjut yang
dijalankan oleh klas pekerja sejak asal mula masyarakat kapitals.
Apakah semua kapitalis semakin lama semakin menambah mesin-mesin,
meningkatkan kapital konstan mereka dan komposisi organik kapital mereka?
Tidak, peningkatan dalam komposisi organik kapital terjadi secara antagonistik,
dengan jalan perjuangan kompetitif yang diatur oleh sebuah hukum yang
digambarkan oleh pelukis ternama Flemish, Peter Breughel dalam sebuah pahatan:
ikan besar memakan ikan kcil.
Perjuangan kompetitif oleh karena itu diiringi oleh konsentrasi terus
menerus kapital oleh penyingkiran sejumlah besar pengusahaan skala kecil, dan
oleh perubahan sejumlah tertentu pengusaha mandiri menjadi teknisi, manajer,
mandor, dan bahkan personil pegawai yang subordinat dan pekerja.
II. 6 Persaingan Menuju pada Konsentrasi dan Monopoli
Konsentrasi kapital adalah hukum permanen lainnya dari masyarakat kapitalis
dan diiringi oleh proletarisasi sebagian klas borjuis, penyingkiran sejumlah
tertentu borjuis oleh sejumlah kecil borjuis. Itulah mengapa Manifesto Komunis
Karl Marx dan Engels menekankan fakta bahwa kapitalisme, yang menyatakan
mempertahankan kepemilikan pribadi, dalam kenyataan adalah penghancur dari
kepemilikan pribadi tersebut, dan menjalankan pengambilalihan konstan, permanen
terhadap sejumlah besar pemilik oleh relatif sejumlah kecil pemilik lainnya.
Terdapat beberapa cabang industri dimana konsentrasi sangatlah jelas:
perusahaan pertambangan batu bara memiliki ratusan perusahaan selama abad
kesembilanbelas di negeri seperti Perancis (terdapat hampir dua ratus di
Belgia); industri mobil memiliki seratus lebih perusahaan diawal abad ini di
negeri-negeri seperti Amerika Serikat dan Inggris, semetara hari ini jumlah
mereka telah berkurang menjadi empat, lima atau enam perusahaan paling banyak.
Tentu saja, terdapat industri-industri dimana konsentrasi tersebut tidak
dijalankan terlalu jauh, seperti industri tekstil, industri makanan, dsb.
Secara umum, semakin besar komposisi organik kapital dalam sebuah cabang industri,
semakin besar konsentrasi kapital, dan sebaliknya, semakin kecil komposisi
organik kapital, semakin kecil konsentrasi kapital. Kenapa? Karena semakin
kecil komposisi organik kapital, semakin sedikit kapital yang dibutuhkan pada
awal dalam rangka untuk memasuki cabang industri tersebut dan mendirikan sebuah
kongsi baru. Adalah jauh lebih mudah mengumpulkan satu juta atau dua juta
dollar yang dibutuhkan untuk membangun sebuah pabrik tekstil baru ketimbang
untuk mengumpulkan ratusan juga dollar yang dibutuhkan untuk mendirikan bahkan
pabrik besi yang relatif kecil
Kapitalisme dilahirkan dari persaingan bebas dan tidak dapat dipahami tanpa
persaingan. Tetapi persaingan bebas menghasilkan konsentrasi dan konsentrasi
mengahsilkan lawan persaingan bebas, disebut dengan, monopoli. Dimana terdapat
sedikit produsen, mereka dapat mencapai kesepakatan bersama, yang dibebankan
pada konsumen, dalam pembagian pasar dan mencegah penurunan harga.
Jadi dalam jangka satu abad, seluruh dinamika kapitalis muncul dengan telah
merubah sifatnya. Pertama kita mendapatkan gerakan yang berjalan dalam arah
kejatuhan terus menerus harga-harga karena kenaikan terus menerus dalam
produksi dan perkalian terus menerus jumlah perusahaan. Pada titik tertentu,
semakin tajamnya kompetisi membawa dengannya sebuah konsentrasi perusahaan dan
pengurangan jumlah perusahaan. Perusahaan sisanya sekarang mampu mencapai
kesepakatan bersama untuk menghindari pengurangan harga yang lebih jauh dan
kesepakatan semacam itu hanya dapat didapatkan, tentu saja, dengan membatasi
produksi. Era kapitalisme monopoli kemudian menggantikan era kapitalisme
perdagangan bebas pada permulaan dari akhir seperempat abad kesembilanbelas.
Tentu saja, ketika kita berbicara mengenai kapitalisme monopoli, kita harus
tidak mengasumsikan sebuah kapitalisme yang telah sepenuhnya menghilangkan
kompetisi. Tidak mungkin ada hal semacam itu. Maksud kita adalah sebuah
kapitalisme yang tingkah laku dasarnya telah dirubah, yaitu, kapitalisme yang
tidak lagi berjuang untuk penurunan terus menerus harga dengan memakai
peningaktan terus menerus dalam produksi; kapitalisme yang menggunakan teknik
pembagian pasar, mendirikan kuota pasar. Tetapi proses tersebut berakhir dalam
paradoks. Kenapa kapitalis yang mulai sebagai kompetitor sekarang beralih
kepada aksi yang disetujui bersama dalam rangka untuk membatasi persaingan
tersebut dan juga untuk membatasi produksi? Jawabannya adalah hal tersebut
adalah sebuah metode untuk meningkatkan keuntungannya. Mereka melakukan hal
tersebut hanya jika hal tersebut membawa keuntungan yang lebih banyak.
Membatasi produksi memungkinkan kenaikan harga-harga, membawa keuntungan yang
lebih besar dan akibatnya meningkatkan akumulasi kapital.
Kapital yang baru tidak dapat lagi diinvestasikan dicabang yang sama, karena
hal ini akan berarti sebuah peningkatan dalam kapasitas produksi, menghasilkan
peningkatan produksi, dan menuju pada penurunan harga. Kapitalisme telah
terjebak dalam kontradiksi tersebut yang dimulai pada akhir seperempat abad
kesembilanbelas. Kapitalisme tiba-tiba mendapatkan sebuah kualitas yang
diprediksi hanya oleh Marx dan yang tidak dipahami oleh ekonom seperti Ricardo
atau Adam Smith; tiba-tiba, corak produksi kapitalis mengambil peran
misionaris. Corak produksi kapitalisme mulai menyebar diseluruh dunia dengan
memakai eksport kapital, yang memungkinkan perusahaan kapitalis agar didirikan
di negeri-negeri atau sektor-sektor dimana monopoli belum memasukinya.
Konsekwensi monopoli dalam cabang-cabang tertentu dan penyebaran
kapitalisme monopoli di negeri-negeri tertentu adalah bahwa corak produksi
kapitalis telah direproduksi dalam cabang-cabang yang masih bebas dari kontrol
monopoli dan di negeri-negeri yang belum menjadi kapitalis. Ini adalah
bagaimana kolonialisme dalam semua variasinya mampu, menuju permulaan abad
keduapuluh menyebar seperti debu hanya dalam beberapa dekade, dimulai dari
bagian kecil dunia dimana corak produksi kapitalis terbatas, dan akhirnya
mencakup seluruh dunia. Setiap negeri di dalam peta kemudian dirubah menjadi
sebuah lingkungan pengaruh dan lahan investasi untuk kapital.
II. 7 Tendensi Nilai Rata-rata Keuntungan untuk Menurun
Kita telah melihat bahwa nilai lebih yang dihasilkan oleh para pekerja
disetiap pabrik tetap “terkunci” dalam produksi, dan bahwa pertanyaan apakah
nilai lebih tersebut akan direalisasi oleh pemilik pabrik kapitalis diputuskan
oleh kondisi pasar, yaitu, oleh kemungkinan bagi pabrik tersebut untuk menjual
produknya pada harga yang memungkinkan semua nilai lebih tersebut direalisasi.
Dengan menerapkan hukum nilai yang telah dikembangkan dibagian awal tulisan
ini, kita dapat menentukan peraturan-peraturan sebagai berikut: semua
perusahaan yang berproduksi pada tingkat produktivitas rata-rata akan, dalam
garis besarnya, merealisasi nilai lebih yang dihasilkan oleh para pekerjanya,
yaitu, mereka akan menjual produknya pada harga yang sama dengan nilai produk
tersebut.
Tetapi hal tersebut diatas tidak akan berkaitan dengan dua kategori
perusahaan: perusahaan yang beroperasi dibawah dan perusahaan yang beroperasi
diatas tingkat rata-rata produktivitas.
Apakah kategori perusahaan yang beroperasi dibawah tingkat rata-rata
produktivitas? Hal ini hanyalah generalisasi pembuat sepatu yang malas yang
telah kita sebutkan sebelum ini. Hal ini, sebagai contoh, sebuah pabrik besi
yang menghasilkan 500.000 ton besi dalam 2,2 atau 2,5 atau 3 juta jam kerja
manusia, ketika rata-rata nasional untuk produksi tersebut adalah 2 juta jam
kerja manusia. Hal tersebut oleh karenanya menyia-nyiakan waktu kerja sosial.
Nilai lebih yang dihasilkan oleh para pekerja dalam pabrik tersebut tidak akan
direalisasikan secara keseluruhan oleh pemilik pabrik tersebut; pabrik tersebut
akan bekerja pada keuntungan dibawah angka rata-rata keuntungan untuk semua
perusahaan di negeri tersebut.
Tetapi jumlah total nilai lebih yang dihasilkan dalam masyarakat adalah
jumlah tetap, tergantung dalam analisa terakhir pada jumlah total jam kerja
yang dilakukan oleh semua pekerja yang terlibat dalam produksi. Hal ini berarti
bahwa jika terdapat jumlah tertentu perusahaan yang tidak merealisasi semua
nilai lebih yang dihasilkan oleh para pekerja mereka karena perusahaan tersebut
beroperasi dibawah tingkat rata-rata produktivitas dan oleh karena itu
menyia-nyiakan waktu kerja sosial maka kemudian tersedia sebuah keseimbangan
nilai lebih yang tidak dibelanjakan yang diambil oleh pabrik yang beroperasi
diatas tingkat rata-rata produktivitas. Karena lebih ekonomis dalam waktu kerja
sosial, pabrik yang beroperasi diatas tingkat rata-rata produktivitas diberikan
imbalan oleh masyarakat.
Penjelasan teoritis ini adalah demonstrasi umum dari mekanisme yang
menentukan gerakan harga-harga dalam masyarakat kapitali. Bagaimana mekanisme
tersebut bergerak dalam praktek?
Mari kita nyatakan bahwa rata-rata harga penjualan sebuah lokomotif adalah
satu juta dolar. Apa kemudian yang akan menjadi perbedaan antara sebuah pabrik
yang beroperasi dibawah rata-rata produktivitas kerja dan pabrik yang
beroperasi diatasnya? Pabrik yang beropersi dibawah rata-rata produktivitas
kerja akan membelanjakan, kita sebut saja, $900.000 untuk memproduksi sebuah
lokomotif, dan keuntungannya adalah $100.000. Disisi yang lain, pabrik yang
menghasilkan diatas tingkat rata-rata produktivitas kerja, akan membelanjakan,
kita sebut saja, $750.000 dan akan mendapatkan keuntungan $250.000, itu adalah
33 persen dari produksi saat itu, sementara angka rata-rata keuntungan adalah
18 persen dan perusahaan yang bekerja pada produktivitas kerja sosial rata-rata
tersebut akan menghasilkan lokomotif dengan biaya $850.000, merealisasikan
keuntungan sebesar $150.000, yaitu, 18 persen
Dengan kata lain, kompetisi kapitalis menyokong perusahaan-perusahaan yang
maju secara teknologi; perusahaan-perusahaan tersebut merealisasi keuntungan
super dibandingkan dengan rata-rata keuntungan. Rata-rata keuntungan pada
dasarnya adalah sebuah ide yang abstrak, persis sekali seperti nilai. Dia
adalah rata-rata yang disekelilingnya angka keuntungan nyata dari berbagai
cabang dan perusahaan berfluktuasi. Kapital mengalir menuju cabang dimana
terdapat keuntungan super dan mengalir keluar dari cabang-cabang dimana
keuntungan dibawah rata-rata. Berdasarkan atas barkurang dan aliran masuk
kapital dari satu cabang ke cabang yang lainnya, angka keuntungan cenderung
untuk tepat pada tingkat rata-rata, tanpa pernah sepenuhnya mencapai tingkat
rata-rata dalam jalan yang absolut dan mekanis.
Ini adalah jalan yang kemudian mempengaruhi penyeimbangan angka keuntungan.
Terdapat cara sangat sederhana untuk menentukan angka keuntungan rata-rata yang
abstrak tersebut: kita mengambil jumlah total nilai lebih yang dihasilkan oleh
semua pekerja pada tahun tertentu dan di negeri tertentu, dan mengambil
rasionya berbanding dengan jumlah total investasi kapital dalam negeri
tersebut.
Apakah rumus untuk angka keuntungan? Rumus tersebut adalah rasio antara
nilai lebih dan kapital total. Oleh karenanya rumus tersebut adalah S/(C+V).
Juga masih terdapat rumus lainnya yang harus dipertimbangkan: ini adalah angka
nilai lebih, lebih baik lagi, angka eksploitasi klas pekerja. Hal tersebut
menspesifikasi jalan dimanan nilai yang baru dihasilkan dibagi antara pekerja
dan kapitalis. Jika, misalnya, S/V sama dengan 100 persen ini berarti bahwa
nilai yang baru dihasilkan dibagi kedalam dua bagian yang sama, satu bagian
bagi para pekerja dalam bentuk upah, bagian yang lainnya bagi klas borjuis
dalam bentuk keuntungan, saham, dividen, dsb.
Ketika angka eksploitasi klas pekerja adalah 100 persen, maka 8 jam kerja
yang dilakukan pekerja terdiri dari dua bagian yang sama: 4 jam kerja dimana
pekerja menghasilkan nilai pengganti upah mereka, dan 4 jam dimana mereka
memberikan kerja tak beralasan, kerja yang tidak dibayarkan oleh para kapitalis
dan produknya diambil alih oleh para kapitalis.
Sekilas, terlihat bahwa jika komposisi organik kapital C/V meningkat, angka
keuntungan S/(C+V) akan menurun, karena C menjadi semakin besar berhubungan
dengan V, dan S adalah produk dari V dan bukan C. Tetapi terdapat sebuah faktor
yang dapat menetralisir efek peningkatan dalam komposisi organik kapital:
adalah tepat sekali sebuah peningkatan dalam angka nilai lebih.
Jika S lebih besar dari V, angka nilai lebih meningkat, ini berarti bahwa
dalam bagian S/(C+V), baik angka pembilang maupun pembagi meningkat, dan dalam
kasus ini nilai bagian dapat tetap sama, dibawah kondisi dimana kedua
peningkatan terjadi dalam bagian yang sama.
Dengan kata lain, sebuah peningkatan dalam angka nilai lebih dapat
menetralisir efek sebuah peningkatan dalam komposisi organik kapital. Mari kita
mengasumsikan bahwa nilai produksi C+V+S meningkat dari 100C+100V+100S hingga
200C+100V+100S. Komposisi organik kapital oleh karena itu akan meningkat dari
100 ke 200 persen, angka keuntungan akan jatuh dari 50 ke 33 persen. Tetapi
jika pada saat yang sama nilai lebih meningkat dari 100 ke 150, yaitu, angka
nilai lebih meningkat dari 100 hingga 150 persen, maka angka keuntungan 150/300
tetap pada 50 persen: peningkatan dalam angka nilai lebih menetralisir efek
peningkatan dalam komposisi organik kapital.
Dapatkah kedua gerakan terjadi tepat dalam bagian yang dibutuhkan oleh
kedua gerakan tersebut untuk saling menetralisir? Disini kita menyentuh
kelemahan dasar, Achilles heel (titik lemah) dari sistem kapitalis. Kedua
gerakan tersebut tidak dapat berkembang sebanding dalam jangka panjang. Tidak
terdapat batasan dalam peningkatan komposisi organik kapital. Untuk V terdapat
batasan teoritis yaitu nol, dengan menganggap adanya otomatisasi total. Tetapi
dapatkah S/V juga meningkat dengan tidak terbatas, tanpa batasan apapun? Tidak,
untuk menghasilkan nilai lebih dibutuhkan adanya pekerja yang bekerja, dan ini
adalah persoalannya, bagian hari kerja dimana pekerja menghasilkan upahnya
sendiri tidak dapat jatuh hingga nol. Bagian tersebut dapat dikurangi dari 8
jam menjadi 7 jam, dari 7 jam menjadi 6 jam, dari 6 jam menjadi 5 jam, dari 5
jam menjadi 4 jam, dari 4 jam menjadi 3 jam, dari 3 jam menjadi 2 jam, dari 2
jam menjadi 1 jam, dari 1 jam menjadi 50 menit. Hal tersebut akan menjadi
sebuah produktivitas yang fantastis yang akan memungkinkan para pekerja untuk
menghasilkan nilai ganti seluruh upahnya dalam 50 menit. Tetapi para pekerja
tidak akan pernah menghasilkan nilai ganti upahnya dalam nol menit dan nol
detik. Terdapat sisa dimana eksploitasi kapitalis tidak akan pernah dapat
menekannya.
Hal ini berarti bahwa dalam jangka panjang kejatuhan dalam angka rata-rata
keuntungan tidak dapat dihindari, dan saya pribadi percaya, bertentangan dengan
ide banyak Marxis, bahwa kejatuhan tersebut juga ditunjukan dalam statistik,
yaitu bahwa angka keuntungan rata-rata keuntungan hari ini didalam negeri
kapitalis besar adalah jauh lebih rendah dibanding 50, 100 atau 150 tahun yang
lalu.
Tentu saja, jika kita meneliti periode yang lebih singkat, terdapat
fluktuasi naik dan turun; terdapat sangat banyak faktor yang mempengaruhi (kita
akan mendiskusikannya nanti, ketika berbicara mengenai neokapitalisme). Tetapi
dalam jangka panjang, gerakan tersebut sangat jelas, untuk suku bunga maupun
angka keuntungan. Kita harus menunjukan, selain itu, bahwa diantara semua kecenderungan
pembangunan dari kapitalisme, hal tersebut diatas adalah yang paling jelas
dirasa oleh para teoritikus kapitalisme sendiri. Ricardo membicarakannya; John
Stuart Mill menekankannya; Keynes sangat sadar akan hal tersebut. Terdapat
sebuah pepatah di Inggris pada akhir abad kesembilanbelas yang sebenarnya
sangat populer, pepatah tersebut menyatakan: kapitalisme dapat menahan apapun
kecuali kejatuhan dalam rata-rata suku bunga hingga 2 persen, karena hal
tersebut akan membunuh insentif investasi.
Pepatah tersebut jelas sekali mengandung kesalahan tertentu dalam
rasionalisasinya. Perhitungan persentase, angka keuntungan, memiliki nilai
nyata, tetapi meskipun begitu, masih berhubungan dengan kapitalis. Apa yang
menarik para kapitalis bukan semata-mata persentase yang dia hasilkan dari
kapitalnya, tetapi juga jumlah total yang dia hasilkan. Dan jika 2 persen bukan
berarti mendapatkan $100.000 tetapi mendapatkan $100 juta, hal tersebut masih
mewakili $2 juta, dan para kapitalis akan memikirkan banyak hal sebelum dia
akan mengatakan bahwa dia lebih menghendaki membiarkan kapitalnya menganggur
ketimbang untuk menerima keuntungan menjijikan yang hanya $2 juta pertahun.
Pada prakteknya, kita melihat oleh karena itu bahwa tidak ada penghentian
total dalam aktivitas investasi akibat kejatuhan dalam angkat keuntungan dan
suku bunga tetapi lebih merupakan melambatnya sebanding dengan kejatuhan dalam
angka keuntungan dalam sebuah cabang industri. Disisi yang lainnya, ketika
terdapat sebuah ekspansi yang lebih cepat dan meningkatnya kecenderungan angka
keuntungan di cabang industri tertentu atau dalam periode tertentu, kemudian
aktivitas investasi melanjutkan, mempercepat, gerakan terlihat seperti menelan
dirinya sendiri, dan ekspansi tersebut nampak tidak memiliki batasan hingga
saat ketika kecenderungan tersebut sekali lagi dibalik.
II. 8 Kontradiksi Pokok dalam Sistem Kapitalis dan Krisis Periodik
Overproduksi
Kapitalisme memiliki tendensi untuk memperluas produksi tanpa batasan,
untuk memperluas arena aktivitasnya keseluruh dunia, untuk melihat semua umat
manusia sebagai konsumen potensial. (sambil lalu, terdapat sebuah kontradiksi
yang berharga untuk diungkapkan, yang pernah dinyatakan oleh Marx: setiap
kapitalis selalu menyukai melihat kapitalis yang lainnya meningkatkan upah para
pekerja mereka, karena upah para pekerja tersebut adalah daya beli untuk
barang-barang kapitalis yang lainnya. Tetapi dia tidak dapat mengijinkan upah
para pekerjanya sendiri untuk naik, karena itu tentu saja akan mengurangi keuntungannya
sendiri).
Akibatnya dunia distrukturkan dalam cara yang luar biasa, telah menjadi
sebuah unit ekonomi dengan saling ketergantungan antara bagian-bagian berbeda
yang sangat sensitif. Anda mengetahui semua kata klise yang telah digunakan
untuk menggambarkan hal tersebut: jika seseorang bersin di Pasar Saham New
York, 10.000 petani hancur di Malaysia.
Kapitalisme menghasilkan sebuah ketergantungan luar biasa dalam pendapatan
dan sebuah unifikasi dalam rasa untuk semua umat manusia. Manusia tiba-tiba
menjadi sadar atas kemungkinan kekayaan manusia, sementara dalam masyarakat pra
kapitalis, dia tertutup dalam kemungkinan alam yang kecil dalam sebuah daerah
tunggal. Pada Abad Pertengahan, nanas tidak dimakan di Eropa, hanya buah yang
tumbuh secara lokal, tetapi hari ini kita memakan nanas yang mungkin telah
dihasilkan dari berbagai penjuru dunia dan bahkan mulai memakan buah dari Cina
dan India yang sebelum perang dunia kedua kita tidak terbiasa memakannya.
Sebagai akibatnya terdapat hubungan mutual yang didirikan diantara produk
dan diantara manusia. Diekspresikan dalam ungkapan yang lain, terjadi
sosialisasi progresif dari semua kehidupan ekonomi, yang menjadi kumpulan
tunggal, susunan tunggal. Tetapi keseluruhan gerakan saling ketergantungan
tersebut hanya berpusat pada sebuah jalan gila disekitar kepemilikan pribadi,
pengambil alihan pribadi, oleh sejumlah kecil kapitalis yang kepentingan
pribadinya, tambah lagi, semakin bertabrakan dengan kepentingan miliaran umat
manusia yang termasuk dalam kumpulan tunggal tersebut.
Adalah dalam krisis ekonomi kontradiksi antara sosialisasi progresif
produksi dan pengambil alihan pribadi yang berfungsi sebagai tenaga
penggeraknya dan pendukungnya, meletus pada cara yang sangat luar biasa. Bagi
para kapitalis krisis ekonomi adalah fenomena luar biasa seperti sebuah hal
yang belum pernah terjadi. Krisis ekonomi tersebut bukanlah krisis kekurangan,
seperti semua krisis pra kapitalis; krisis tersebut adalah krisis overproduksi.
Pengangguran mati kelaparan bukan karena terlalu sedikit makanan tetapi karena
terdapat suplai bahan makanan yang relatif terlalu besar.
Pada pandangan pertama hal diatas terlihat tidak dapat dipahami. Bagaimana
seseorang mati karena terdapat surplus makanan, karena terdapat surplus
barang-barang? Tetapi mekanisme sistem kapitalis membuat hal tersebut yang
terlihat paradoks menjadi dapat dipahami. Barang-barang yang tidak dapat
menemukan pembeli tidak hanya tidak merealisasikan nilai lebih mereka tetapi
mereka bahkan tidak mendapatkan kembali kapital mereka yang telah
diinvestasikan. Kemerosotan dalam penjualan oleh karena itu memaksa pengusaha
untuk menunda operasi mereka. Mereka oleh karena itu dipaksa untuk
memberhentikan pekerja mereka dan karena pekerja yang diberhentikan tidak
memiliki cadangan untuk bertahan hidup, karena mereka dapat bertahan hidup
hanya ketika mereka menjual tenaga kerjanya, pengangguran tentu saja
menakdirkan mereka pada kemiskinan paling melarat dan hal tersebut terjadi
tepat sekali karena kelimpahan relatif barang-barang yang dihasilkan dari
kemerosotan penjualan.
Faktor krisis ekonomi periodik adalah inheren dalam sistem kapitalis dan
tetap tidak dapat diatasi. Kita akan melihat lebih jauh dalam hal bahwa faktor
krisis ekonomi periodik tetap benar dalam rejim neokapitalis dimana kita hidup
sekarang, bahkan jika krisis tersebut sekarang disebut “resesi”. Krisis adalah
manifestasi terjelas dari kontradiksi pokok dalam sistem dan sebuah pengingat
periodik bahwa sistem tersebut ditakdirkan untuk mati cepat atau lambat. Tetapi
sistem tersebut tidak akan pernah mati secara otomatis. Akan selalu dibutuhkan
untuk memberinya sedikit dorongan sadar untuk mempengaruhi kematiannya, dan
adalah tugas kita, tugas dari gerakan klas pekerja, untuk melakukan dorongan
tersebut.
III. Neo Kapitalisme
III. 1 Asal Usul Neo Kapitalisme
Krisis ekonomi besar pada tahun 1929 pertama merubah sikap borjuasi dan
para ideolog-nya terhadap negara, kemudian hal tersebut merubah sikap borjuasi
yang sama terhadap masa depan sistemnya sendiri.
Beberapa tahun yang lalu pengadilan yang terkenal terjadi di Amerika
Serikat, pengadilan terhadap Alger Hiss, yang sebelumnya menjabat sebagai
asisten di Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat saat terjadi perang. Dalam
pengadilan Hiss, salah satu teman baiknya, seorang jurnalis di publikasi Luce
bernama Whittaker Chambers, merupakan saksi kunci dalam tuntutan atas kesaksian
palsu, sebenarnya karena sebagai seorang Komunis yang menurut dugaan mencuri
dokumen dari Departemen Dalam Negeri dan memberikannya kepada Uni Soviet. Si
Chambers, yang agak neurotic (menderita gangguan emosi), telah menjadi seorang
Komunis saat sepuluh tahun pertama kehidupan dewasanya dan berakhir menjadi
editor religius pada majalah mingguan Time. Dia menulis pengakuan panjang
dengan judul Witness. Dalam buku tersebut terdapat kalimat yang menyatakan
kira-kira sebagai berikut mengenai periode 1929-1939: “Di Eropa para pekerja
adalah sosialis dan borjuasi adalah konservatif; di Amerika, klas menengah
adalah konservatif, pekerja adalah demokrat, dan borjuasi adalah komunis”.
Tentu saja adalah absurd untuk menyatakan periode tersebut dengan cara yang
kasar seperti itu. Tetapi tidak dapat diragukan bahwa tahun 1929 dan periode
yang mengikuti krisis besar 1929-1939 merupakan pengalaman traumatis bagi borjuasi
Amerika yang merupakan satu-satunya klas kapitalis diseluruh dunia yang
diilhami oleh keyakinan penuh dan buta pada masa depan sistem “perdagangan
bebas”. Sistem tersebut menderita guncangan mengerikan selama krisis 1929-1939,
sebuah periode yang secara umum sama bagi masyarakat Amerika, berkaitan dengan
menjadi sadar akan pertanyaan sosial dan dipertanyakannya sistem kapitalis,
dengan periode yang dialami Eropa pada saat kelahiran gerakan pekerja sosialis,
periode dari 1865 hingga 1890 di abad yang lalu.
Bagi borjuasi, krisis tersebut mempertanyakan berbagai bentuk sistem dalam
skala dunia. Borjuasi mengambil bentuk usaha untuk mengkonsolidasikan
kapitalisme melalui fasisme dan percobaan otoritarian lainnya di negeri-negeri
tertentu di Eropa Barat, Tengah dan Selatan. Borjuasi mengambil bentuk yang
sedikit kurang kasar di Amerika Serikat, dan adalah masyarakat Amerika tersebut
pada tahun 1932-1940 yang membayangkan apa yang disebut hari ini dengan
neokapitalisme.
Kenapa bukan perluasan dan penjeneralisiran pengalaman fasis yang
memberikan neokapitalisme ciri khas pokok, tetapi melainkan pengalaman sebuah
“idyllic detente” (“pengurangan hubungan tegang idilis”) dalam ketegangan
sosial? Sistem fasis adalah sebuah rejim krisis ekstrim dalam sosial, ekonomi
dan politik, rejim ketegangan ekstrim dalam hubungan klas, yang dalam analisa
terakhir, ditentukan oleh periode panjang stagnasi ekonomi, dimana kesempatan
untuk diskusi dan negosiasi antara klas pekerja dan borjuasi sebenarnya
dikurangi hingga nol. Sistem kapitalis telah menjadi tidak sesuai dengan sisa
apapun dari gerakan klas pekerja yang sedikit banyak independen.
Dalam sejarah kapitalisme kita dapat membedakan antara krisis periodiknya
yang terjadi setiap 5, 7, atau 10 tahun dan siklus jangka panjangnya, yang
pertama kali didiskusikan oleh ekonom Rusia Kondratief dan yang dapat disebut
dengan siklus jangka panjang setiap 25 atau 30 tahun. Siklus jangka panjang
dicirikan oleh angka pertumbuhan yang tinggi sering diikuti oleh siklus jangka
panjang yang dicirikan oleh angka pertumbuhan yang semakin rendah. Terlihat
jelas bagi saya bahwa periode 1913 hingga 1940 merupakan salah satu dari siklus
stagnasi jangka panjang dalam produksi kapitalis, yang didalamnya termasuk
semua siklus berturut-turut dari krisis 1913 hingga 1920, dari krisis 1920
hingga 1929, yang ditandai depresi yang sangat parah karena fakta bahwa trend
jangka panjang merupakan stagnasi.
Siklus jangka panjang yang dimulai dengan perang dunia kedua, dan dimana
kita masih tetap – mari kita menyebutnya siklus 1940-1965 atau siklus 1940-1970
– mengalami, bertentangan dengannya, dicirikan oleh ekspansi, dan karena
ekspansi tersebut, kesempatan untuk negosiasi dan diskusi antara borjuasi dan
klas pekerja telah diperbesar. Kesempatan kemudian diciptakan untuk penguatan
sistem pada dasar penjaminan konsesi untuk para pekerja, sebuah kebijakan yang
dijalankan dengan skala internasional di Eropa Barat dan Amerika Utara dan
mungkin bahkan diperluas kepada beberapa negeri di Eropa Selatan pada masa yang
akan datang. Kebijakan neokapitalis tersebut lebih berdasarkan pada kolaborasi
dekat antara borjuasi ekspansif dan kekuatan konservatif gerakan pekerja dan
secara pokok ditopang oleh kecenderungan meningkat dalam standar hidup para
pekerja.
Meskipun begitu, di latar belakang seluruh perkembangan tersebut terdapat
tanda tanya terhadap sistem, keraguan terhadap masa depan sistem kapitalis, dan
keraguan tersebut tidak perlu lagi diragukan. Dalam semua lapisan penting dari
borjuasi, keyakinan terdalam yang merajalela bahwa otomatisme ekonomi dari dan
oleh dirinya sendiri, “mekanisme pasar” tidak dapat menjamin keberlangsungan
hidup sistem, bahwa tidak mungkin lagi untuk mengandalkan fungsi internal
otomatis dari ekonomi kapitalis, dan bahwa sebuah intervensi sadar dan meluas,
semakin lama semakin teratur dan sistematis dalam karakter, dibutuhkan dalam
rangka menyelamatkan sistem tersebut.
Pada tingkat bahwa borjuasi sendiri tidak lagi yakin bahwa mekanisme
otomatis dari ekonomi kapitalis akan menopang tatanannya, kekuatan lain harus
mengintervensi untuk penyelamatan jangka panjang sistem, dan kekuatan tersebut
adalah negara. Neokapitalisme adalah kapitalisme yang ciri khas unggulnya
adalah perkembangan intervensi oleh negara kedalam kehidupan ekonomi. Juga dari
titik pandang tersebut, pengalaman neokapitalis saat ini di Eropa Barat
hanyalah perluasan dari pengalaman Roosevelt di Amerika Serikat.
Untuk memahami asal usul neokapitalisme hari ini, bagaimanapun, kita juga
harus memperhitungkan faktor kedua untuk menjelaskan perkembangan intervensi
oleh negara dalam kehidupan ekonomi, dan faktor kedua itu adalah perang dingin.
Secara umum hal ini dapat dilihat sebagai tantangan dimana keseluruhan kekuatan
anti kapitalis menghadapinya dalam dunia kapitalisme. Iklim tantangan tersebut
membuat perspektif krisis ekonomi serius lainnya seperti tipe krisis 1929-1933
sepenuhnya tidak dapat ditoleransi oleh kapitalisme. Bayangkan apa yang akan
terjadi di Jerman jika terdapat lima juta pengangguran di Jerman Barat
sementara kekurangan pekerja terjadi di Jerman Timur. Adalah mudah untuk
melihat bagaimana tidak dapat ditoleransinya hal tersebut dari cara pandang
politik, dan itulah mengapa intervensi negara kedalam kehidupan ekonomi
negeri-negeri kapitalis adalah diatas semuanya antisiklus, atau, jika kau suka,
antikrisis dalam karakter.
III.2 Revolusi Teknologi Permanen
Mari kita berkutat sesaat pada fenomena ekspansi jangka panjang tersebut.
Tanpa hal ini neokapitalisme khusus yang telah kita saksikan di Eropa Barat
selama 15 tahun tidak dapat dimengerti.
Siklus jangka panjang dimulai di Amerika Serikat bersamaan dengan perang
dunia kedua. Dalam rangka memahami penyebab fenomena tersebut kita harus
mengingat bahwa dalam kebanyakan siklus meluas yang lainnya dalam sejarah
kapitalisme kita menemukan elemen umum sama yang berulang: revolusi teknologi.
Adalah bukan sebuah kebetulan bahwa ekspansi yang bersifat siklus dari jenis
yang sama mendahului periode stagnasi dan krisis 1913-1940. Akhir abad
kesembilanbelas merupakan sebuah periode yang sangat damai dalam sejarah
kapitalisme, dan saat itu tidak terdapat perang, atau hampir tidak ada, kecuali
perang kolonial, dan saat itu rangkaian penelitian teknologi dan penemuan dari
tahapan sebelumnya mulai menemukan aplikasinya. Dalam periode ekspansi sekarang,
kita menyaksikan sebuah percepatan kemajuan teknis, sebuah revolusi teknologi
asli, yang untuknya ekspresi “revolusi industri kedua” atau “revolusi industri
ketiga” hampir tidak memadai. Kita menemukan diri kita sendiri, pada fakta,
sebuah perubahan teknik produksi yang tidak terinterupsi. Fenomena tersebut
sebetulnya merupakan hasil sampingan dari perlombaan senjata permanen, dari
perang dingin dimana kita telah terlibat sejak akhir perang dunia kedua.
Sesungguhnya, jika kau meneliti asal usul 99 persen perubahan teknologi
yang diterapkan pada produksi, kau akan melihat bahwa perubahan tersebut adalah
militer, kau akan melihat bahwa perubahan tersebut merupakan hasil sampingan
dari teknologi baru yang pertama menemukan penerapan mereka dalam bidang
militer. Hanyalah kemudian, setelah jangka waktu yang lebih lama ataupun
singkat, perubahan teknologi dalam bidang militer masuk kedalam daerah publik
pada tingkat tertentu dan diterapkan dalam bidang produksi sipil.
Begitu benar fakta tersebut sehingga pendukung kekuatan penyerang Perancis
(kekuatan nuklir) menggunakan fakta tersebut sebagai argumentasi utama hari
ini. Mereka menjelaskan bahwa jika kekuatan penyerang tersebut tidak
dikembangkan, teknik yang akan menentukan bagian penting dari proses produktif
industri dalam 15 atau 20 tahun tidak akan dikenal di Perancis, karena semua
itu merupakan hasil sampingan dari teknik nuklir dan teknik yang berkaitan pada
tingkat industri.
Disini saya tidak ingin memperdebatkan tesis tersebut yang saya anggap tidak
dapat diterima dalam hal-hal yang lainnya; saya hanya akan menggaris bawahi
bahwa hal tersebut menegaskan, bahkan dalam gaya “ekstrimis”, bahwa kebanyakan
revolusi teknologi yang terjadi dalam bidang industri dan dalam teknik
produktif umumnya merupakan hasil sampingan dari revolusi teknik dalam bidang
militer.
Pada tingkatan bahwa kita terlibat dalam perang dingin permanen, yang
dicirikan oleh penelitian permanen untuk perubahan teknik dalam bidang alat
perang, kita memiliki faktor baru disini, boleh dikatakan, sumber tambahan
diluar ekonomi, yang menghidupi perubahan terus menerus ke dalam teknik
produktif. Di masa lampau, ketika otonomi dalam penelitian teknologi tidak ada,
ketika otonomi tersebut secara esensiil merupakan produk perusahaan industrial,
terdapat faktor utama yang menentukan siklus kemajuan penelitian tersebut. Para
industrialis akan mengatakan: kita harus memperlambat inovasi sekarang, karena
kita memiliki instalasi yang sangat mahal yang pertama harus diangsur biayanya.
Instalasi tersebut harus menguntungkan, biaya instalasi harus ditutup, sebelum
kita dapat memulai tahapan lain dari perubahan teknologi.
Hal ini adalah benar bahkan ekonom seperti Schumpeter, sebagai contoh,
telah menggunakan irama siklus dalam revolusi teknik tersebut sebagai
penjelasan dasar untuk siklus ekspansi jangka panjang berturut-turut, atau
untuk siklus stagnasi jangka panjang.
Hari ini motif ekonomi tersebut tidak bergerak dijalan yang sama. Pada
tingkatan militer, tidak ada alasan yang valid untuk menghentikan penelitian
untuk senjata baru. Bertentangan dengannya, keberadaan bahaya yang ada
dimana-mana bahwa musuh akan menjadi yang pertama menemukan senjata baru.
Akibatnya terdapat rangsangan nyata untuk penelitian permanen, tidak
terinterupsi dan hampir-hampir tanpa pertimbangan ekonomi apapun (setidaknya
untuk Amerika Serikat), jadi gerakan tersebut mengalir sebenarnya tanpa
halangan. Hal ini berarti bahwa kita melewati sebuah era perubahan teknologi
yang hampir tidak terinterupsi dalam bidang produksi. Kau hanya perlu mengingat
apa yang telah dihasilkan selama 10-15 tahun terakhir, dimulai dengan
digunakannya tenaga nuklir dan dilanjutkan dengan otomatisasi, perkembangan
komputer elektronik, miniaturisasi, laser dan serangkaian fenomena dalam rangka
untuk mendapatkan perubahan tersebut, revolusi teknologi tak terinterupsi
tersebut.
Istilah “revolusi teknologi terus menerus” sekarang hanyalah cara lain
untuk mengatakan bahwa periode pembaruan kapital tetap telah dipersingkat. Hal
ini menjelaskan ekspansi kapitalisme ke seluruh dunia. Seperti setiap ekspansi
jangka panjang dalam sistem kapitalis, batasan ekspansi saat ini ditentukan
oleh jumlah investasi tetap.
Pembaruan cepat kapital tetap juga menjelaskan pengurangan dalam jarak dari
siklus ekonomi dasar. Siklus tersebut normalnya ditentukan oleh usia kapital
tetap.
Hingga tingkatan bahwa kapital tetap tersebut sekarang diperbarui dalam
kecepatan yang lebih cepat, jarak siklus tersebut juga dipersempit. Kita tidak
lagi memiliki krisis setiap tujuh atau 10 tahun melainkan resesi setiap empat
hingga lima tahun. Kita telah memasuki rangkaian jauh lebih cepat dari siklus
dengan durasi yang jauh lebih singkat dibanding yang terjadi sebelum perang
dunia kedua.
Akhirnya, untuk menyimpulkan penelitian dari kondisi dimana neokapitalisme
sekarang berkembang, terdapat perubahan yang cukup penting terjadi dalam skala
dunia dalam kondisi dimana kapitalisme berada dan berkembang.
Disisi yang lainnya, terdapat pembesaran dari apa yang disebut dengan kamp
sosialis, dan disisi yang lainnya lagi, revolusi kolonial. Dan sementara
keseimbangan, sepanjang berkaitan dengan meluasnya “kamp sosialis”, secara
efektif mewakili sebuah kekalahan dari cara pandang kapitalisme dunia – kalah
dalam bahan baku, kesempatan investasi untuk kapital, pasar, dan pada tingkat
yang lainnya – keseimbangan tersebut, sepanjang berkaitan dengan revolusi
kolonial, dapat terlihat bersifat paradoks, hingga kini belum menghasilkan
sebuah kekalahan penting dalam dunia kapitalis. Bertentangan dengannya, salah
satu faktor yang cocok menjelaskan skala ekspansi ekonomi dari negeri-negeri
imperialis yang terjadi di dalam tahapan ini, adalah fakta bahwa, sepanjang
revolusi kolonial tetap dalam kerangka pasar dunia kapitalis (kecuali dia
menghasilkan kembali apa yang disebut dengan negara sosialis), revolusi
kolonial berfungsi sebagai stimulus bagi produksi dan ekspor peralatan
industrial, produk industri berat di negeri-negeri imperialis.
Hal ini berarti bahwa industrialisasi negeri-negeri kurang berkembang,
neokolonialisme, perkembangan borjuasi baru di negeri-negeri kolonial, semua
menyusun dukungan lebih jauh, bersama dengan revolusi teknologi, untuk trend
ekspansi jangka panjang di dalam negeri-negeri kapitalis maju. Karena hal
tersebut secara pokok memiliki efek yang sama, hal tersebut juga menuju pada
pertumbuhan dalam produksi untuk industri berat dan untuk industri-industri
yang bergerak dalam konstruksi mekanis dalam pembuatan mesin. Sebagian mesin
tersebut berfungsi untuk mempercepat pembaruan kapital tetap dalam negeri-negeri
kapitalis maju, bagian yang lainnya berfungsi untuk industrialisasi, mekanisasi
dari negeri-negeri kolonial yang baru merdeka.
Dalam mendekati subjek dengan jalan ini, kita mampu untuk memahami makna
yang lebih dalam dari tahapan neokapitalisme yang sekarang kita saksikan, yang
merupakan ekspansi kapitalisme jangka panjang, sebuah periode yang saya percaya
terbatas dalam waktu, seperti periode serupa dimasa lalu. Saya tidak sedikitpun
percaya bahwa periode ekspansi tersebut akan berlangsung selamanya dan bahwa
kapitalisme telah menemukan batu penjurunya yang memungkinkan kapitalisme untuk
menghindari tidak hanya krisis bersifat siklusnya tetapi juga siklus ekspansi
yang relatif berturut-turut dan stagnasi. Tetapi adalah tahapan ekspansi ini
yang sekarang dihadapi oleh gerakan klas pekerja Eropa Barat dengan persoalan
khususnya.
Mari kita sekarang berbicara mengenai ciri khas pokok dari intervensi
pemerintah kedalam ekonomi kapitalis.
III.3 Pentingnya Pengeluaran Belanja Militer
Fenomena objektif pertama yang merupakan faktor hebat dalam memfasilitasi
pertumbuhan intervensi pemerintah dalam bidang ekonomi negeri-negeri kapitalis
adalah tepat sekali keabadian perang dingin dan keabadaian dalam perlombangan
senjata. Untuk mengatakan keabadian perang dingin, keabadian perlombaan
senjata, keabadian sebuah anggaraan militer yang sangat tinggi, juga berarti
mengatakan kontrol negara terhadap bagian penting dari pendapatan nasional.
Jika kita membandingkan ekonomi semua negeri-negeri kapitalis yang maju hari
ini dengan negeri-negeri kapitalis sebelum perang dunia pertama, kita dapat
dengan segera melihat perubahan struktural yang sangat penting tersebut yang
telah terjadi dan yang independen dari setiap pertimbangan dan penelitan
teoritis. Hal tersebut merupakan konsekwensi dari kenaikan dalam anggaran
militer. Sementara sebelum tahun 1914 total anggaran militer negara sebesar 5
persen, 6 persen, 4 persen, 7 persen dari pendapatan nasional, anggaran negara
kapitalis hari ini mewakili 15 persen, 20 persen, 25 persen atau bahkan dalam
beberapa kasus 30 persen dari pendapatan nasional.
Jika untuk sementara kita tidak menganggap semua pertimbangan
intervensionisme, fakta peningkatan dalam pengeluaran belanja alat perang
permanen menunjukan bahwa negara telah mengkontrol bagian penting dari
pendapatan nasional.
Saya telah menyatakan bahwa perang dingin ini akan tetap permanen dalam
periode panjang. Itu adalah pendirian pribadi saya. Perang dingin adalah
permanen karena kontradiksi klas antara kedua kamp yang saling berhadapan dalam
skala dunia adalah permanen. Karena tidak ada alasan logis untuk mengasumsikan,
dalam jangka panjang ataupun pendek, bahwa borjuasi internasional akan secara
suka rela melucuti senjata dihadapan musuh global atau dihadapan Uni Soviet dan
Amerika Serikat akan mencapai perjanjian yang akan memungkinkan pengurangan
cepat dalam pengeluaran belanja alat perang sebesar setengah atau dua pertiga
atau tiga perempatnya.
Kita oleh karena itu mulai dari titik bahwa pengeluaran belanja militer
permanen cenderung meningkat dalam jumlah dan pentingnya berkaitan dengan
pendapatan nasional, atau menjadi distabilkan, yaitu, peningkatan pada
tingkatan bahwa pendapatan nasional akan meningkat selama tahap ini. Dan adalah
fakta dari ekspansi dalam pengeluaran militer menciptakan peran penting yang
dimainkan oleh pemerintah dalam kehidupan ekonomi.
Anda mungkin mengetahui artikel ditulis oleh Pierre Naville yang
diterbitkan dalam Nouvelle Revue Marxiste beberapa tahun yang lalu. Dalam
artikel tersebut dia menulis ulang serangkaian jumlah yang diberikan oleh
direktur anggara (Perancis) pada tahun 1956, menunjukan hal penting praktis
dari pengeluaran militer untuk serangkaian cabang-cabang industri. Terdapat
banyak cabang-cabang industri, yang menempati ranking sangat tinggi dalam hal
pentingnya dan termasuk diantara pemimpin dalam perkembangan teknologi, yang
bekerja terutama atas kontrak dengan negara dan yang akan ditakdirkan mengalami
kebangkrutan awal jika kontrak-kontrak negara tersebut hilang: aeronotika, elektronik,
konstruksi kapal, telekomunikasi dan bahkan pekerjaan teknik mesin dan tentu
saja, industri nuklir.
Di Amerika Serikat situasinya serupa, tetapi pada tingkatan bahwa
cabang-cabang industri yang memimpin tersebut jauh lebih berkembang dan bahwa
ekonomi Amerika dalam skala yang lebih besar, cabang-cabang tersebut menyusun
poros ekonomi untuk seluruh daerah geografik. Dapat dikatakan bahwa California,
negara bagian yang menjalani ekspansi terbesar, sebagian besar hidup dari
anggaran militer Amerika. Jika negara bagian California harus melucuti senjata
dan tetap kapitalis, hal tersebut akan menjadi bencana baginya, dimana industri
peluru kendali, industri penerbangan militer dan industri elektronik semua
terkonsentrasi disitu. Adalah tidak perlu untuk memberi bayangan untuk
mengilustrasikan efek politik dari situasi khusus tersebut pada sikap politisi
borjuis California: kau akan sangat sulit menemukan mereka di garis depan
perjuangan untuk pelucutan senjata!
Fenomena kedua dari tahapan meluas tersebut yang pada awalnya muncul untuk
berkontradiksi dengan yang pertama adalah peningkatan dalam apa yang dapat
disebut dengan pengeluaran belanja sosial, itu adalah, semua yang berkaitan
sedikit banyak dekat dengan jaminan sosial. Pengeluaran tersebut terus menerus
meningkat dalam anggaran pemerintah secara umum, dan menyusun bagian penting
dari pendapatan nasional selama 25-30 tahun terakhir.
III.4 Bagaimana Krisis “Diselesaikan” oleh Resesi
Pertumbuhan dalam belanja kesejahteraan sosial adalah hasil dari beberapa
fenomena yang bersamaan.
Yang pertama, tekanan gerakan klas pekerja, yang selalu bertujuan untuk
memperbaiki salah satu ciri khas yang paling jelas dari kondisi proletar:
ketidakamanan (insecurity). Karena nilai tenaga kerja hanya kira-kira menutupi
kebutuhan pemeliharaan hidup hari ini dari klas pekerja, setiap gangguan dalam
penjualan tenaga kerja tersebut – yaitu, setiap kecelakaan yang mengganggu
pekerjaan normal para pekerja: pengangguran, sakit, kecelakaan kerja, usia tua
– melemparkan proletar kedalam jurang kemiskinan. Saat permulaan sistem
kapitalis, hanya terdapat “sumbangan”, pribadi atau publik, yang mana pekerja
yang menganggur dapat gunakan saat keadaan sukar, dengan hasil material yang
tidak signifikan dan dengan harga pukulan mengerikan bagi martabat
kemanusiannya. Sedikit demi sedikit, gerakan klas pekerja telah menetapkan
prinsip jaminan sosial, pertama suka rela, kemudian wajib, terhadap serangan
nasib: asuransi kesehatan, kompensasi pengangguran, asuransi usia tua. Dan
perjuangan akhirnya berpuncak pada prinsip jaminan sosial, yang secara teoritis
akan melindungi para pekerja upahan dari semua kehilangan pendapatan saat ini.
Kemudian terdapat kepentingan tertentu dari negara. Institusi yang menerima
dana dalam jumlah besar yang digunakan untuk mendanai program jaminan sosial
tersebut sering memiliki jumlah dana cair yang besar. Mereka dapat
menginvestasikan dana tersebut dalam obligasi pemerintah, membuat pinjaman bagi
negara (obligasi jangka pendek, sebagai syarat). Rejim Nazi menggunakan teknik
ini dan kemudian menyebar ke kebanyakan negeri-negeri kapitalis.
Ukuran dana jaminan sosial yang semakin membesar telah, selain itu, membawa
situasi khusus, mengajukan persoalan teoritis dan praktis bagi gerakan klas
pekerja. Gerakan klas pekerja secara tepat menganggap bahwa semua dana yang
dibayarkan kedalam dana jaminan sosial – entah oleh para pengusaha, atau oleh
negara, atau dengan pemotongan pajak dari upah para pekerja itu sendiri –
hanyalah menyusun bagian upah, sebuah “upah tidak langsung”, atau “upah yang
ditunda”. Ini adalah titik pandang masuk akal, dan yang sejalan, selain itu,
dengan teori nilai Marxis, karena semua yang diterima oleh pekerja sebagai
ganti tenaga kerja mereka harus dianggap sebagai ganti harga tenaga kerjanya,
tanpa menghiraukan apakah hal tersebut dibayarkan segera kepada para pekerja
(upah langsung), atau dibayarkan kemudian (upah yang ditunda). Oleh karena
alasan ini, “manajemen keseimbangan” (serikat pengusaha, atau serikat negara)
dari dana jaminan sosial harus dilihat sebagai pelanggaran dari hak para
pekerja. Karena dana-dana tersebut merupakan milik para pekerja, campur tangan
tidak beralasan apapun dalam manajemen mereka oleh kelompok sosial diluar
serikat buruh harus ditolak. Pekerja seharusnya tidak lagi mengijinkan
“manajeman keseimbangan” dari upah mereka seperti para kapitalis tidak akan
mengijinkan “manajemen keseimbangan” dari rekening bank mereka.
Tetapi ukuran pembayaran yang semakin besar kedalam jaminan sosial telah
mampu menciptakan “ketegangan” tertentu antara upah langsung dan upah yang
ditunda, karena upah yang ditunda kadang kala mencapai 40 persen dari total
upah. Banyak pusat serikat buruh menentang peningkatan lebih jauh dalam “upah
yang ditunda” dan ingin mengkonsentrasikan untuk memiliki setiap capaian dalam
bentuk capaian segera dengan pembayaran langsung bagi para pekerja. Hal
tersebut harus dimengerti, bagaimanapun juga, bahwa dibawah fakta “upah yang
ditunda” dan jaminan sosial terdapat prinsip solidaritas klas. Sesungguhnya,
dana untuk kesehatan, kecelakaan, dsb, tidaklah didasarkan pada prinsip
“keuntungan individual”, (setiap pekerja pada akhirnya menerima semua yang dia
atau pengusaha atau negara telah bayarkan untuk tanggungannya), tetapi
didasarkan pada prinsip asuransi. Mereka yang tidak mengalami kecelakaan
membayar sehingga mereka yang mengalaminya dapat sepenuhnya ditanggung
biayanya. Prinsip pokok dalam praktek tersebut adalah solidaritas klas, yaitu,
kepentingan pekerja untuk menghindari penciptaan sub proletariat, yang tidak hanya
akan merusak militansi dari massa pekerja (setiap individu takut terdorong
kedalam sub proletariat cepat atau lambat) tetapi juga mewakili bahaya
kompetisi untuk pekerjaan dan ancamannya terhadap upah. Dibawah kondisi
tersebut, daripada mengeluh tentang “skala berlebihan dalam upah yang ditunda”,
kita seharusnya menunjukan ketidakcukupan yang menyedihkan, karena hal tersebut
membawa sebuah penurunan mengerikan dalam standar hidup dari kebanyakan pekerja
tua, bahkan di kebanyakan negeri-negeri kapitalis makmur.
Jawaban efektif untuk persoalan “ketegangan” antara upah langsung dan upah
yang ditunda adalah tuntutan untuk menggantikan prinsip solidaritas yang
terbatas hanya pada klas pekerja oleh prinsip solidaritas yang diperluas untuk
memasukan semua penduduk, perubahan jaminan sosial menjadi layanan nasional
(kesehatan, lapangan kerja penuh, usia tua) didanai oleh pajak progresif untuk
pendapatan. Hanya dengan jalan ini “upah yang ditunda” berakhir sebagai sebuah
peningkatan penting sejati dalam upah dan sebuah redistribusi sejati dari
pendapatan nasional yang menguntungkan pekerja upahan.
Hal tersebut harus dipahami sepenuhnya bahwa hingga saat ini hal tersebut
belum dicapai dalam skala besar dibawah sistem kapitalis, dan bahkan perlu
untuk mengajukan pertanyaan apakah hal tersebut dapat direalisasi tanpa
memprovokasi reaksi kapitalis dengan karakter yang segera kita temukan dalam
periode krisis revolusioner. Sebetulnya, pengalaman yang paling menarik dengan
jaminan sosial, seperti yang diberlakukan di Perancis setelah tahun 1944 dan
lebih khusus lagi, Layanan Kesehatan Nasional di Inggris setelah tahun 1945,
didanai dengan besar oleh memberikan pajak kepada para pekerja itu sendiri
(terutama sekali dengan meningkatkan pajak tidak langsung dan oleh peningkatan
pajak bahkan terhadap upah yang sedang, seperti di Belgia sebagai contoh)
ketimbang menarik pajak dari borjuasi. Itulah mengapa kita tidak pernah melihat
redistribusi sejati dan radikal dari pendapatan nasional dengan pajak dalam
sistem kapitalis; hal tersebut tetap merupakan salah satu “mitos” besar dari
reformisme.
Terdapat aspek yang lain dalam pertumbuhan penting dari “upah yang
ditunda”, dari asuransi sosial, dalam pendapatan nasional negeri-negeri
kapitalis industri: adalah ciri khas antisiklus mereka. Disini kita menemukan
alasan lain kenapa negara borjuis, neokapitalisme, mempunyai kepentingan dalam
meningkatkan volume “upah yang ditunda” tersebut. Adalah karena upah yang
ditunda tersebut memainkan peran sebagai bantalan peredam getaran untuk mencegah
kejatuhan tiba-tiba dan keras dalam pendapatan nasional saat terjadi krisis.
Sebelumnya ketika pekerja kehilangan pekerjaannya, pendapatannya jatuh
menjadi nol. Ketika seperempat angkatan kerja di sebuah negara menganggur,
pendapatan pekerja upahan secara otomatis menurun seperempat. Konsekwensi buruk
dari kejatuhan dalam pendapatan, kejatuhan dalam “permintaan total”, bagi
ekonomi kapitalis secara umum telah sering digambarkan. Hal tersebut memberikan
krisis kapitalis kemunculan reaksi berantai, yang terus terjadi dengan logika
dan keadaan tidak dapat dihindari yang mengerikan.
Mari kita mengasumsikan bahwa krisis terjadi di sektor yang menghasilkan
mesin-mesin dan bahwa sektor ini terpaksa untuk menutup pabriknya dan
memberhentikan para pekerjanya. Kehilangan pendapatan yang dialami oleh para
pekerja secara radikal mengurangi kemampuan mereka untuk membeli barang-barang
konsumsi. Karena hal tersebut, dengan cepat terjadi overproduksi didalam sektor
yang membuat barang-barang konsumsi, yang kemudian, dipaksa untuk menutup
pabriknya dan memberhentikan para pekerjanya. Kembali, oleh karena itu, terjadi
kejatuhan lebih jauh dalam penjualan barang-barang konsumsi, dan sebuah
peningkatan dalam inventarisir. Pada waktu yang sama, pabrik yang menghasilkan barang-barang
konsumsi, akan mengalami pukulan keras, akan mengurangi atau membatalkan
pesanan mereka untuk mesin-mesin, yang akan membawa penutupan tiba-tiba semakin
banyak perusahaan yang bekerja dalam industri berat, akibatnya, pemberhentian
kelompok pekerja yang lainnya, diikuti oleh kejatuhan baru dalam daya beli
untuk barang-barang konsumsi, dengan konsekwensi penajaman dalam krisis di
sektor industri ringan, yang kemudian akan menciptakan pemecatan baru, dsb.
Tetapi seketika sistem asuransi pengangguran yang efektif telah didirikan,
efek kumulatif dari krisis diperkecil: semakin besar kompensasi pengangguran,
semakin kuat efek memperlemahnya terhadap krisis.
Mari kita kembali kepada penggambaran terhadap awal mula krisis. Sektor
yang membuat mesin-mesin mengalami overproduksi dan dipaksa untuk
memberhentikan beberapa pekerjanya. Tetapi ketika jumlah kompensasi
pengangguran kita sebutkan saja sebesar 60 persen dari upahnya, pemecatan
tersebut tidak lagi berarti kehilangan total pendapatan bagi para pengangguran,
tetapi hanya merupakan pengurangan sebesar 40 persen dari pendapatannya.
Sepuluh persen pengangguran dalam sebuah negeri tidak lagi berarti kejatuhan
keseluruhan dalam permintaan sebesar 10 persen tetapi hanya empat persen; 25
persen pengangguran sekarang berarti tidak lebih dari 10 persen kejatuhan dalam
pendapatan. Dan efek kumulatif dari pengurangan tersebut (yang angka-angkanya
dihitung dalam ilmu ekonomi akademik dengan menerapkan perkalian pada
pengurangan tersebut dalam permintaan) akan juga dikurangi berkaitan dengannya;
krisis tidak akan memukul sektor barang-barang konsumsi dengan keras, sektor
barang-barang konsumsi oleh karena itu akan memberhentikan jauh lebih sedikit
pekerja, sektor tersebut akan mampu untuk melanjutkan beberapa pesanannya untuk
mesin-mesin, dsb. Secara singkat, krisis tidak meluas dalam bentuk spiral;
krisis tersebut “dihentikan” di pertengahan jalan. Kemudian krisis tersebut
mulai dipecahkan.
Apa yang sekarang kita sebut dengan “resesi” hanyalah sebuah krisis
kapitalis klasik yang telah diredakan, terutama dengan memakai asuransi sosial.
Dalam buku saya berjudul Teori Ekonomi Marxis, saya menyebutkan data
mengenai resesi Amerika terakhir yang secara empiris menegaskan analisa
teoritis tersebut. Faktanya, menurut angka-angka tersebut, menunjukan bahwa
resesi tahun 1953 dan 1957 mulai dengan ketajaman ekstrim dan memiliki luas
yang sebanding dalam setiap hal dengan krisis paling parah dari kapitalisme
dimasa lalu (1929 dan 1938). Tetapi bertentangan dengan krisis pra perang dunia
kedua tersebut, resesi pada tahun 1953 dan 1957 berhenti meluas setelah
beberapa bulan tertentu, sebagai akibat dihentikan dipertengahan jalan,
kemudian mulai surut. Kita sekarang telah memahami salah satu penyebab pokok
dalam perubahan dari krisis menjadi resesi.
Dari titik pandang distribusi pendapatan nasional antara kapital dan kerja,
ukuran anggaran militer yang semakin membesar memiliki efek berlawanan terhadap
kenaikan serupa dalam “upah yang ditunda”, karena dalam setiap kasus sebagian
dari “upah yang ditunda” selalu berasal dari pembayaran tambahan oleh para
borjuasi. Tetapi dari titik pandang efek antisiklusnya, ukuran anggaran militer
yang semakin membesar (dari pengeluaran publik secara umum) dan ukuran asuransi
sosial yang semakin membesar memainkan peran yang identik dalam “meredam”
kerasnya krisis, dan memberikan neokapitalisme salah satu aspek khususnya.
Permintaan agregat dapat dibagi menjadi dua kategori: permintaan untuk
barang-barang konsumsi dan permintaan untuk barang-barang produksi (mesin-mesin
dan peralatan). Ekspansi dalam dana jaminan sosial membuat kemungkinan untuk
menghindari kejatuhan ekstrim dalam belanja (dalam permintaan) untuk
barang-barang konsumsi setelah pecahnya krisis. Ekspansi dalam belanja publik
(terutama sekali dalam belanja militer), membuat kemungkinan untuk menghindari
kejatuhan ekstrim dalam belanja (dalam permintaan) untuk barang-barang
produksi. Demikian, ciri khusus neokapitalisme beroperasi dalam kedua sektor,
tidak dalam menekan kontradiksi kapitalisme – krisis terjadi seperti yang
sebelumnya pernah terjadi, kapitalisme belum menemukan cara untuk memastikan
sebuah pertumbuhan yang sedikit banyak harmonis dan tidak terinterupsi – tetapi
dalam mengurangi luas dan keseriusan kontradiksi tersebut, setidaknya
sementara.
Kerangka kerja untuk proses ini harus merupakan periode jangka panjang dari
pertumbuhan yang dipercepat tetapi dengan biaya inflasi permanen.
III.5 Kecenderungan Mengalami Inflasi Permanen
Salah satu akibat dari semua fenomena yang telah kita diskusikan, yang
kesemuanya antisiklus dalam efeknya, adalah yang dapat disebut dengan
kecenderungan mengalami inflasi permanen. Kecenderungan tersebut telah menjadi
manifestasi jelas dalam dunia kapitalis sejak tahun 1940, sejak permulaan
perang dunia kedua.
Penyebab pokok dari inflasi permanen tersebut adalah kepentingan dari
sektor militer, dari sektor persenjataan, dalam ekonomi dari kebanyakan
negeri-negeri kapitalis. Produksi persenjataan memiliki ciri khas sebagai
berikut: produksi persenjataan menciptakan daya beli dalam jalan yang sama
dilakukan oleh produksi barang-barang konsumsi atau produksi barang-barang
produksi – upah dibayar di pabrik yang membuat tank atau roket, seperti yang
juga dibayarkan di pabrik yang membuat mesin-mesin atau tekstil, dan pemilik
kapitalis dari pabrik-pabrik tersebut mendapatkan keuntungan seperti juga
kapitalis pemilik pabrik besi atau pabrik tekstil – tetapi sebagai ganti untuk
daya beli tambahan tersebut, tidak terdapat barang dagangan tambahan yang
berkaitan yang di jual dipasar. Serupa dengan penciptaan daya beli dalam dua
sektor pokok dalam ekonomi klasik, sektor barang-barang konsumsi dan sektor
barang-barang produksi, adalah kemunculan sejumlah barang dagangan di pasar,
yang mampu untuk menyerap daya beli tersebut. Bertentangan dengannya,
penciptaan daya beli dalam sektor persenjataan tidak memiliki peningkatan
sebagai pengganti dalam sejumlah barang dagangan, entah itu barang-barang
konsumsi atau barang-barang produksi, yang penjualannya dapat diserap oleh daya
beli yang telah diciptakan.
Kondisi satu-satunya dimana pengeluaran militer tidak akan bersifat inflasi
adalah bila pengeluaran tersebut sepenuhnya dibayar dengan pajak, dan dalam
perbandingan yang akan memungkinkan berjalannya rasio yang tepat sama antara
daya beli pekerja dan kapitalis disatu sisi dan antara nilai barang-barang
konsumsi dan barang-barang produksi disisi yang lainnya. Situasi tersebut tidak
terjadi dimanapun, bahkan di negeri-negeri dimana bagian pajak termasuk yang
terbesar. Di Amerika Serikat, khususnya, total belanja militer tidak seluruhnya
ditutup oleh pajak, oleh pengurangan dalam daya beli tambahan, supaya terdapat
kecenderungan yang berkaitan menuju inflasi permanen.
Terdapat juga fenomena sifat struktural dalam ekonomi kapitalis dalam
periode monopoli yang memiliki efek yang sama, yaitu, kekakuan (rigidity) harga
sepanjang berkaitan dengan penurunan manapun.
Fakta bahwa trust monopolistik besar sebenarnya atau sepenuhnya mengkontrol
serangkaian pasar, terutama sekali pasar barang-barang produksi dan
barang-barang konsumsi, menunjukan sebuah ketiadaan kompetisi harga dalam makna
klasik dari istilah tersebut. Kapanpun penawaran lebih rendah dari permintaan,
harga meningkat, sementara ketika penawaran melebihi permintaan, harga tidak
jatuh tetapi tetap stabil atau jatuh sangat sedikit. Ini merupakan fenomena
yang telah dicatat dalam industri besar dan dalam pasar barang-barang konsumsi
tahan lama (durable) selama hampir 25 tahun. Hal tersebut lebih lagi merupakan
sebuah fenomena yang berkencederungan berkaitan dengan siklus jangka panjang
yang sebelumnya telah kita bicarakan, untuk hal tersebut harus terus terang
diakui bahwa kita tidak dapat memperkirakan perubahan dalam harga barang-barang
konsumsi tahan lama setelah akhir dari periode ekspansi jangka panjang
tersebut.
Hal tersebut tidak dapat ditiadakan bahwa ketika industri mobil akan
meningkatkan kelebihan kapasitas produktifnya, hal tersebut akan bermuara pada
perjuangan kompetitif baru atas harga dan dengan penurunan hebat. Adalah
mungkin untuk mempertahankan tesis bahwa krisis otomobil yang terkenal
diperkirakan selama paruh kedua dekade ini (1965, 1966, 1967), dapat diserap
relatif mudah di Eropa Barat, jika harga penjualan kendaraan kecil diturunkan
separuh. Jika saatnya tiba ketika sebuah Citroen 4CV atau 2CV akan terjual
senilai 200.000 atau 250.000 franc, maka kemudian akan terjadi peningkatan
dalam permintaan sehingga kelebihan kapasitas tersebut akan hilang dengan jalan
yang normal. Hal ini tidak terlihat mungkin didalam kerangka kerja perjanjian
saat ini, tetapi jika kita melihat persoalan dalam makna sebuah periode panjang
selama lima atau enam tahun kompetisi yang saling mematikan, sesuatu yang
sepenuhnya mungkin di industri otomobil Eropa, maka pada kondisi akhirnya tidak
dapat ditiadakan,
Mari kita segera menambahkan bahwa terdapat kemungkinan keadaan kondisi
akhir, satu yang dimana kelebihan kapasitas produktif ditekan dengan menutup
dan penghilangan serangkaian firma-firma, yang dalam kasus itu penghilangan
kelebihan kapasitas tersebut akan mencegah kejatuhan penting apapun dalam
harga-harga. Itu adalah reaksi normal terhadap situasi semacam itu dalam sistem
kapitalisme monopoli. Reaksi yang lain harus tidak sepenuhnya diabaikan, tetapi
hingga saat ini kita belum menyaksikan itu dalam bidang apapun. Dalam industri
minyak, sebagai contoh, fenomena potensi overproduksi telah terjadi selama enam
tahun, tetapi penurunan harga diijinkan oleh trust-trust besar, yang beroperasi
pada angka keuntungan sebesar 100 persen atau 150 persen, adalah setitik air
dalam lautan: pengurangan harga sejumlah 5 atau 6 persen, sementara trust
tersebut dapat menurunkan harga bensin sebesar 50 persen jika mereka mau.
III.6 “Perencanaan Ekonomi”
Sisi lain dari neokapitalis berkaitan dengan tubuh fenomena yang telah
diistilahkan dalam ungkapan “ekonomi terencana”, “pemrograman ekonomi”, atau
lebih jauh lagi “perencanaan indikatif”. Hal tersebut adalah bentuk lain dari
intervensi sadar dalam ekonomi, bertentangan dengan semangat klasik kapitalisme,
tetapi hal tersebut merupakan intervensi yang dicirikan oleh fakta bahwa hal
tersebut bukan lagi terutama sebuah tindakan pemerintah tetapi lebih merupakan
sebuah tindakan kolaborasi, integrasi, antara pemerintah disatu sisi dan
kelompok-kelompok kapitalis disisi yang lainnya.
Bagaimana kita menjelaskan kecenderungan umum tersebut pada “perencanaan
indikatif, pada “pemrograman ekonomi”, atau pada “ekonomi terencana”?
Kita harus mulai dari kebutuhan nyata dari kapital besar, sebuah kebutuhan
yang berasal tepat sekali dari fenomena yang telah kita gambarkan dalam bagian
pertama diskusi kita. Kita berbicara dibagian tersebut tentang sebuah
percepatan dalam ritme pembaruan instalasi mekanik, atau sebuah revolusi
teknologi yang sedikit banyak permanen. Tetapi ketika kita berbicara mengenai
sebuah percepatan dalam ritme pembaruan kapital tetap, kita hanya dapat merujuk
pada kebutuhan penggantian pengeluaran investasi yang terus meluas dalam
periode waktu dimana terus menjadi lebih singkat. Tentu saja penggantian tersebut
harus direncanakan dan diperhitungkan dengan cara yang sebisa mungkin akurat,
agar menjaga ekonomi dari fluktuasi jangka pendek, yang mengandung bahaya
menciptakan kekacauan luar biasa dalam perusahaan yang beroperasi menggunakan
jutaan dolar. Fakta pokok tersebut adalah penyebab pemrograman ekonomi
kapitalis untuk menuju sebuah ekonomi terencana.
Kapitalisme hari ini dari monopoli-monopoli besar mengumpulkan puluhan juta
dolar dalam investasi yang harus diganti dengan cepat. Dia tidak dapat lagi menanggung
resiko fluktuasi periodik penting. Dia akibatnya membutuhkan jaminan bahwa
biaya penggantiannya akan tertutup dan asuransi bahwa penghasilannya akan terus
berlanjut, setidaknya selama periode waktu rata-rata berkaitan sedikit banyak
dengan periode penggantian kapital tetapnya, periode yang sekarang semakin
panjang antara empat dan lima tahun.
Lebih lagi, fenomena telah muncul secara langsung dari dalam perusahaan
kapitalis itu sendiri, dimana kompleksitas yang selalu meningkat dari proses
produktif berakibat meningkatnya usaha perencanaan yang tepat dalam rangka agar
perusahaan-perusahaan kapitalis tersebut berfungsi secara keseluruhan.
Pemrograman kapitalis adalah, dalam analisa terakhir, tidak lebih dari
perluasan, atau lebih tepatnya, koordinasi pada tingkat nasional mengenai apa
yang telah terjadi pada tingkat perusahaan-perusahaan kapitalis besar atau
kelompok-kelompok kapitalis seperti trust atau kartel yang mencakup sebuah
kelompok perusahaan.
Apakah ciri khas pokok dari perencanaan indikatif tersebut? Perencanaan
tersebut secara esensiil berbeda dalam sifat dari perencanaan sosialis.
Perencanaan tersebut tidak terutama berkaitan dengan menyusun serangkaian
tujuan dalam gambaran produksi dan memastikan pencapaian dari tujuan-tujuan
tersebut. Kepentingan utamanya adalah dengan mengkoordinasikan rencana
investasi yang telah dibuat oleh firma-firma swasta dan dengan mempengaruhi
kebutuhan koordinasi tersebut dengan mengajukan, paling-paling, tujuan-tujuan
tertentu yang dianggap memiliki prioritas pada tingkat pemerintahan. Hal
tersebut, tentu saja, tujuan-tujuan yang berkaitan dengan kepentingan umum klas
borjuis. Didalam negeri seperti Belgia atau Inggris, operasi tersebut telah
dipengaruhi dalam jalan yang cukup kasar, di Perancis, dimana semua hal terjadi
dalam tingkat intelektual yang lebih dihaluskan, dan sejumlah besar kamuflase
digunakan, sifat klas dari mekanisme tersebut kurang jelas. Meskipun begitu
identik dengan pemrograman ekonomi dari negeri-negeri kapitalis lainnya. Dalam
esensi, aktivitas “komisi perencanaan, “biro perencanaan”, “biro program”,
terdiri dari perwakilan konsultasi berbagai kelompok pengusaha, meneliti proyek
investasi mereka dan ramalan pasar, dan “mengharmoniskan” antara ramalan
berbagai sektor, dan berusaha keras untuk menghindari kemacetan dan duplikasi.
Gilbert Mathieu menerbitkan tiga artikel bagus mengenai persoalan tersebut
dalam Le Monde (2, 3 dan 6 Maret 1962), dimana dia menunjukan bahwa berlawanan
dengan 280 anggota serikat buruh yang berpartisipasi dalam kerja berbagai
komisi dan sub komisi perencanaan, terdapat 1.280 kepala perusaan atau
perwakilan asosiasi pengusaha. “Dalam praktek, Tuan Francois percaya, rencana
Perancis sering didirikan dan dioperasikan dibawah pengaruh yang lebih besar
dari perusahaan-perusahaan besar dan institusi keuangan”. Dan Leb Brun,
meskipun termasuk salah satu pemimpin serikat buruh yang paling moderat,
menyatakan bahwa perencanaan Perancis “adalah secara esensial diatur antara
agen lebih tinggi dari kapital dan pejabat sipil berpangkat tinggi, agen
tersebut normalnya memiliki kekuasaan lebih besar dari pada pejabat”.
Konfrontasi dan koordinasi dari keputusan-keputusan firma-firma tersebut,
lebih lagi, sangat berguna bagi pengusaha kapitalis; hal tersebut menyusun
semacam pendapat mengenai pasar dalam skala nasional dan dalam jangka panjang,
sesuatu yang sangat sulit dicapai dengan teknik hari ini. Tetapi dasar untuk
semua penelitian tersebut, semua perhitungan tersebut, masih tetap gambaran
yang diajukan sebagai ramalan oleh para pengusaha.
Akibatnya terdapat dua aspek ciri pokok dari jenis pemrograman atau
“perencanaan indikatif” ini.
Disatu sisi, hal tersebut secara sempit terpusat pada kepentingan para
pengusaha yang merupakan elemen awal dalam perhitungan. Dan ketika kita
mengatakan pengusaha, kita tidak bermaksud semua pengusaha, tetapi lebih
merupakan lapisan dominan dari klas borjuis, yaitu, para monopolis dan pemilik
trust-trust. Pada tingkatan bahwa konflik kepentingan antara
monopolis-monopolis kuat kadang kala dapat terjadi (ingat konflik tahun 1962 di
Amerika antara trust produsen besi dan trust konsumen besi berkaitan dengan
harga besi), pemerintah memainkan peran tertentu sebagai wasit antara
kelompok-kelompok kapitalis. Hal tersebut, dalam beberapa hal, sebuah dewan administratif
dari klas borjuis yang bertindak atas nama seluruh pemegang saham, seluruh
anggota klas borjuis, tetapi dalam kepentingan kelompok yang dominan ketimbang
kepentingan demokrasi dan jumlah yang mayoritas.
Disisi yang lainnya, ada ketidakpastian yang terdapat pada dasar dari semua
perhitungan tersebut, sebuah ketidakpastian yang muncul dari fakta bahwa
pemrograman tersebut berdasarkan murni pada ramalan dan dari fakta tambahan
bahwa pemerintah tidak memiliki cara untuk menjalankan pemrograman semacam itu.
Sesungguhnya, demikian juga dengan kepentingan swasta tidak memiliki jalan
apapun untuk memastikan pemenuhan ramalah mereka.
Pada tahun 1956-60, “programer-programer” the Communauté Européenne du
Charbon et de l’Acier (Komunitas Batu Bara dan Besi Eropa) demikian juga mereka
dari Kementerian Ekonomi Belgia, dua kali mengalami kesalahan dalam ramalan
mereka terhadap konsumsi batu bara untuk Eropa Barat dan terutama sekali untuk
Belgia. Pertama kali, sebelum dan selama krisis dalam penawaran yang disebabkan
oleh kejadian Suez, mereka meramalkan peningkatan penting dalam konsumsi pada
tahun 1960 dan sebagai akibat peningkatan dalam produksi batu bara, dengan
produksi Belgia tumbuh dari 30 juta ton batu bara pertahun menjadi 40 juta ton.
Dalam kenyataan, penawaran tersebut jatuh dari 30 menjadi 20 juta ton selama
tahun 1960; para “programer” sebagai akibatnya telah melakukan sebuah kesalahan
gabungan dari bagian yang cukup penting. Tetapi sebelum kesalahan tersebut
sempat dicatat mereka telah membuat kesalahan yang lain dalam arah yang
berlawanan. Sementara kejatuhan dalam konsumsi batu bara terjadi, mereka
memperkirakan bahwa kecenderungan akan terus berlanjut dan menyatakan bahwa
masih dibutuhkan untuk meneruskan penutupan tambang batu bara. Bagaimanapun, kejadian
yang berlawanan terjadi antara tahun 1960 dan 1963: konsumsi batu bara Belgia
naik dari 20 menjadi 25 juta ton pertahun, dengan hasil yang didapatkan setelah
menghentikan kapasitas produktif Belgia dalam batu bara sebesar sepertiga,
terjadi kekurangan parah dalam batu bara, terutama sekali selama musim dingin
pada tahun 1962-1963, sehingga dibutuhkan untuk mengimpor batu bara dengan
cepat, bahkan dari Vietnam !
Hal tersebut memberikan kita sebuah gambaran hidup dari teknik yang diambil
oleh para “pemrogram” hingga sembilan puluh persen waktu ketika membuat
perhitungan mereka terhadap sektor industri. Hal tersebut hanyalah sebuah
proyeksi ke masa depan dari kecenderungan saat ini, yang dapat dikoreksi
paling-paling oleh sebuah faktor yang menyatakaan elastisitas dalam permintaan,
yang kemudian berdasarkan atas ramalan angka umum dari ekspansi.
III.7 Jaminan Keuntungan oleh Negara
Aspek yang lain dari “ekonomi terencana” tersebut, yang memberikannya
sebuah karakter yang terutama sekali berbahaya berkaitan dengan gerakan klas
pekerja. Adalah ide bahwa “program sosial” atau “kebijakan pendapatan”
selengkapnya ada dalam “pemrograman ekonomi”. Dimungkinkan untuk menjamin
stabilitas trust-trust dalam pengeluaran dan pendapatan mereka selama periode lima
tahun, waktu yang dibutuhkan untuk mengganti peralatan baru mereka, tanpa
secara bersamaan menjamin stabilitas pengeluaran upah mereka. Adalah tidak
mungkin untuk “merencanakan biaya” jika “biaya kerja” tidak dapat
“direncanaikan” pada saat yang sama, yaitu, jika peningkatan upah tidak dapat
diantisipasi dan ditahan.
Pengusaha dan pemerintah telah mencoba untuk menetapkan kecenderungan
semacam itu pada serikat buruh di seluruh negeri-negeri Eropa Barat. Usaha
tersebut direfleksikan dalam perpanjangan masa kontrak; undang-undang yang
membuat mogok kerja lebih sulit atau membubarkan pemogokan yang tidk sah; dan
dalam keseluruhan propaganda kegemparan yang mendukung “kebijakan pendapatan”
yang terlihat sebagai “jaminan satu-satunyua” terhadap “ancaman inflasi”.
Ide tersebut yang harus kita orientasikan dalam memandang “kebijakan
pendapatan”, adalah angka peningkatan upah tidak dapat dihitung dengan tepat,
dan bahwa kita harus dalam jalan itu menghindari biaya tak terduga akibat
pemogokan “yang tidak menghasilkan apapu bagi siapapun, entah itu pekerja
ataupun bangsa”; ide tersebut juga telah meluas di Perancis. Selengkapnya dalam
hal itu adalah ide integrasi mendalam serikat buruh kedalam sistem kapitalis.
Dari sudut ini, serikat buruhisme pada dasarnya berhenti menjadi senjata
perjuangan para buruh untuk merubah distribusi pendapatan nasional. Serikat
buruh menjadi penjamin ”kedamaian sosial”, penjamin pada para pengusaha akan
stabilitas selama proses terus menerus dan tidak terinterupsi dari kerja dan
reproduksi kapital, penjamin bagi penggantian kapital tetap selama keseluruhan
proses pembaruannya.
Tentu saja hal itu merupakan jebakan bagi pekerja dan gerakan pekerja.
Terdapat banyak alasan kenapa seperti itu dan saya tidak dapat berkutat
padanya. Tetapi satu alasan dasar datang dari sifat ekonomi kapitalis itu
sendiri, ekonomi pasar secara umum, dan Tuan Masse, direktur perencanaan
Perancis saat ini, mengakui hal tersebut dalam pidato baru-baru ini di
Brussels.
Dibawah sistem kapitalis, upah adalah harga tenaga kerja. Harga ini
bervariasi mengikuti nilai tenaga kerja tersebut berkesesuaian dengan hukum
permintaan dan penawaran. Apa kemudian, yang merupakan perkembangan normal
dalam hubungan kekuatan, dalam berjalannya permintaan dan penawaran bagi kerja,
selama siklus ekonomi dalam ekonomi kapitalis? Selama periode resesi dan
pemulihan, terdapat pengangguran, yang secara merugikan mempengaruhi upah, dan
pekerja sebagai akibatnya menjalani perjuangan untuk peningkatan upah yang
substansial sebagai sebuah perjuangan yang sangat sulit.
Dan apakah tahapan dalam siklus yang paling menguntungkan bagi perjuangan
untuk peningkatan upah? Buktinya adalah tahapan dimana terdapat pekerjaan penuh
(full employment) dan bahkan sebuah kekurangan dalam pekerja, yaitu, tahapan
boom terakhir, puncak konjuktural atau “titik didih”.
Itu adalah tahapan dimana pemogokan untuk kenaikan upah paling mudah
dilaksanakan dan dimana pengusaha memiliki kecederungan terbesar untuk
mengabulkan kenaikan upah bahkan tanpa pemogokan, dibawah tekanan kekurangan
pekerja. Tetapi setiap teknisi konjungtur kapitalis akan mengatakan kepadamu
bahwa tepat pada saat tahapan ini, dari titik pandang “stabilitas”, tetap
berada didalam batasan yang dibutuhkan oleh angka keuntungan kapitalis (karena
pernyataan tersebut selalu merupakan dasar dari alasan semacamnya!), bahwa
adalah sangat “berbahaya” untuk menyerukan pemogokan dan mendapatkan kenaikan
upah. Karena jika kau meningkatkan permintaan total ketika tingkat pekerjaan
penuh terjadi di seluruh “faktor dalam produksi”, kemudian permintaan tambahan
secara otomatis menjadi bersifat inflasi.
Dengan kata lain, keseluruhan logika ekonomi terencana tepat sekali adalah
untuk menghindari pemogokan dan usaha perbaikan selama satu-satunya tahap dari
siklus dimana hubungan kekuasaan klas menguntungkan klas pekerja. Ini merupakan
tahapan satu-satunya dari siklus, tahapan tersebut dimana permintaan untuk
pekerja melebihi dengan besar penawaran, dimana upah dapat melompat keatas dan
membalikan kecenderungan merugikan dalam distribusi pendapatan nasional antara
upah dan keuntungan atas biaya upah.
Hal ini berarti bahwa “manajemen” ditujukan untuk mencegah apa yang disebut
dengan peningkatan bersifat inflasi dalam upah selama tahapan khusus dari
siklus tersebut dan hanya menyelesaikannya dengan mengurangi angka keseluruhan
dari peningkatan upah untuk keseluruhan siklus. Sebuah siklus kemudian
diamankan dimana bagian relatif upah dalam pendapatan nasional akan memiliki
kecenderungan permanen untuk jatuh. Dia telah memiliki kecenderungan untuk
jatuh selama periode kebangkitan ekonomi, karena periode tersebut merupakan
periode peningkatan angka keuntungan menurut definisi (jika tidak, tidak akan
ada kebangkitan!); dan jika pekerja dicegah dari membenarkan kecenderungan
tersebut selama periode puncak, berarti bahwa kecenderungan menuju pemburukan
dalam distribusi pendapatan nasional akan kekal.
Terdapat, tambah lagi, demonstrasi praktis dari akibat sebuah kebijakan
yang sepenuhnya kaku pada pendapatan dibawah kontrol negara dengan kolaborasi
serikat buruh; hal tersebut telah dipraktekan di Belanda sejak tahun 1945 dan
hasilnya telah direkam. Terdapat penandaan sebuah penurunan dalam rasio upah
banding pendapatan nasional, yang tidak ditemukan dimanapun di Eropa, bahkan
tidak ditemukan di Jerman Barat.
Tambah lagi, terdapat dua argumentasi menentukan pada tingkat yang murni
“teknik” melawan penganjur-penganjur “kebijakan pendapatan”.
Jika kau meminta pada dasar “konjungtural” bahwa peningkatan upah tidak
melebihi peningkatan dalam produktivitas selama periode pekerjaan penuh, kenapa
kau tidak meminta peningkatan upah yang jauh lebih besar dalam periode adanya
pengangguran. Pada basis konjungtural, peningkatan semacam itu akan dibenarkan
pada waktu itu karena pengingkatan tersebut akan menstimulasi ekonomi dengan
meningkatkan permintaan total ...
Bagaimana sebuah “kebijakan pendapatan” dapat dipraktekan dengan
keefektifan yang bahkan kecil jika pendapatan dari upah merupakan satu-satunya
pendapatan yang diketahui? Tidakkah setiap “kebijakan pendapatan” meminta
sebagai prasyarat kontrol pekerja atas produksi, membuka buku perusahaan, dan
penghilangan rahasia perbankan, untuk mengetahui pendapatan yang tepat dari
kapitalis, dan peningkatan tepat dalam produktivitas?
Selain itu, hal ini sama sekali tidak berarti bahwa kita harus menerima
persetujuan teknis dari ekonom borjuis. Adalah sepenuhnya salah untuk
mengatakan bahwa peningkatan upah melebihi peningkatan dalam produktivitas
secara otomatis bersifat inflasi dalam periode pekerjaan penuh. Hal ini benar
hanya pada tingkatan bahwa angka keuntungan dianggap stabil dan utuh. Jika kita
mengurangi angka keuntungan karena intervensi bersifat tirani terhadap
kepemilikan pribadi, seperti dikatakan dalam Manifesto Komunis, maka tidak akan
terdapat inflasi apapun; kita akan mengambil daya beli dari kapitalis dan
memberikannya pada para pekerja. Keberatan satu-satunya yang dapat diungkapkan
adalah bahwa hal tersebut memicu resiko menurunkan investasi. Tetapi kita dapat
menggunakan teknik kapitalis melawan penciptanya sendiri dengan mengatakan
kepada mereka bahwa bukanlah suatu hal yang buruk untuk mengurangi investasi
ketika terdapat periode pekerjaan penuh dan sebuah boom pada “titik didihnya;
bahwa bertentangan dengannya, pengurangan tersebut dalam investasi telah
berjalan saat ini, dan bahwa dari titik pandang kebijakan antisiklus, adalah
lebih cerdas untuk mengurangi keuntungan dan menaikan upah. Hal ini akan
memungkinkan permintaan dari upah pekerja, dari konsumen, untuk menolong
investasi dengan kepentingan untuk menjaga konjungtur tetap pada tingkat yang
tinggi, sebuah konjungtur yang mana terancam oleh kecenderungan tidak dapat
dihindari dari investasi produktif untuk jatuh pada tahapan tertentu.
Kita dapat menggambarkan dari semua ini kesimpulan sebagai berikut:
intervensi negara dalam kehidupan ekonomi, ekonomi terencana, pemrograman
ekonomi, perencanaan indikatif, sedikitpun tidak netral dari titik pandang
sosial. Hal tersebut merupakan alat intervensi kedalam ekonomi yang berada
ditangan klas borjuis atau kelompok berkuasa dalam klas borjuis, dan dalam
makna apapun bukanlah wasit antara borjuasi dan proletariat. Keadilan nyata
yang dijalankan oleh pemerintahan kapitalis adalah sebuah keadilan antara
kelompok-kelompok kapitalis yang berbeda didalam klas kapitalis.
Sifat alami dari neokapitalisme, dari pertumbuhan intervensi pemerintah
dalam kehidupan ekonomi, dapat disingkat dalam rumus berikut ini: semakin lama
semakin, sistem kapitalis menyerahkan otomatisme ekonominya sendiri menjalankan
resiko melenyap dengan cepat, dan semakin meningkat negara jadinya sebagai
penjamin keuntungan kapitalis, penjamin keuntungan bagi lapisan monopolistik
berkuasa dari borjuasi. Negara menjamin hal tersebut dalam langkah-langkah
bahwa negara mengurangi luas siklus fluktuasi. Negara menjamin hal tersebut
dengan tata tertib negara, militer atau paramiliter, menjadi semakin penting.
Negara menjamin hal tersebut juga dengan teknik ad hoc yang membuat kemunculan
mereka tepat sekali didalam kerangka kerja ekonomi terencana. “Kontrak –
pura-pura” di Perancis mengilustrasikan hal tersebut. Mereka merupakan jaminan
tegas dari keuntungan untuk membenarkan disekuilibrium tertentu dalam
pembangunan, entah regional dalam karakter atau antara cabang-cabang industri.
Negara mengatakan kepada para kapitalis: “Jika kau menginvestasikan kapitalmu
dalam daerah ini atau itu, atau di cabang ini atau itu, kita akan menjaminmu
enam persen atau tujuh persen dari kapitalmu terlepas dari pembangunan, bahkan
jika sampahmu terbukti tidak terjual, bahkan jika kau gagal”. Ini adalah bentuk
tertinggi dan terjelas dari jaminan negara terhadap keuntungan monopoli tetapi
ini bukanlah penemuan teknisi perencanaan Perancis, karena Messrs. Schacht,
Funk dan Goering sebelumnya telah menerapkan itu didalam kerangka kerja ekonomi
persenjataan Nazi dan rencana persenjataan empat tahunnya.
Dalam analisa terakhir, jaminan keuntungan oleh negara tersebut, seperti
semua teknik antisiklus yang sejati efektif dalam sistem kapitalis, mewakili
sebuah redistribusi dari pendapatan nasional yang menguntungkan
kelompok-kelompok monopolistik ternama melalui agensi dari negara. Hal tersebut
dipengaruhi oleh distribusi subsidi, oleh pengurangan pajak dan oleh penjaminan
kredit dengan suku bunga yang dikurangi. Semua teknik tersebut berpuncak dalam
kenaikan di angka keuntungan, dan, dengan kerangka kerja ekonomi kapitalis yang
berfungsi secara normal, terutama sekali dalam tahapan ekspansi jangka
panjangnya, kenaikan dalam angka keuntungan tersebut jelas sekali menstimulus
investasi dan bekerja menurut harapan perancang proyek-proyek tersebut.
Entah seseorang berdiri secara jujur didalam kerangka kerja sistem
kapitalis dengan dasar yang sepenuhnya logis dan konsisten, dan akibatnya
menerima fakta bahwa satu-satunya jalan untuk menjamin kenaikan terus menerus
dalam investasi dan kebangkitan industri berdasarkan peningkatan semacam itu
dalam investasi adalah melalui peningkatan angka keuntungan.
Atau seseorang yang menolak, mengambil posisi sosialis, menolak jalan
peningkatan angka keuntungan, dan menganjurkan satu-satunya jalan alternatif,
yang merupakan perkembangan sektor publik yang kuat dalam industri,
berdampingan dengan sektor swasta. Ini merupakan jalan keluar dari kerangka
kapitalis dan logikanya, dan melewati arena apa yang kita sebut dengan
reformasi struktural anti kapitalis.
Dalam sejarah gerakan klas pekerja Belgia beberapa tahun terakhir, kita
telah mengalami konflik tersebut dalam orientasi yang menunggu Perancis dalam
tahun-tahun kedepan, sesaat setelah dia mengalami kenaikan pertama dalam
pengangguran.
Beberapa pemimpin sosialis yang kejujuran personalnya tidak ingin saya
pertanyakan telah sebenarnya mengatakan, dan dalam cara yang sebrutal dan sinis
yang telah saya katakan sesaat yang lalu: “Jika kau ingin menyerap pengangguran
dalam periode singkat didalam sistem yang ada, tidak ada jalan lain untuk
melakukannya selain dengan meningkatkan angka keuntungan”. Mereka tidak
menambahkan, meskipun tidak perlu dikatakan lagi, bahwa hal tersebut termasuk
sebuah redistribusi pendapatan nasional dengan biaya dari pekerja upahan. Dalam
kata lain, jika kau tidak menipu rakyat, kau tidak mungkin mengharapkan
ekspansi ekonomi yang lebih cepat, yang dibawah kapitalisme termasuk sebuah
peningkatan dalam investasi swasta, dan secara serempak menuntut redistribusi
dari pendapatan nasional yang menguntungkan pekerja upahan. Dalam kerangka
kerja sistem kapitalis, kedua tujuan tersebut sepenuhnya bertentangan,
setidaknya dalam periode berjangka pendek dan menengah.
Gerakan klas pekerja oleh karena itu berhadapan dengan pilihan pokok antara
sebuah kebijakan reformasi dalam struktur neokapitalis, yang termasuk sebuah
integrasi serikat buruh dalam sistem kapitalis sehingga mereka dirubah menjadi
gendarmes (polisi) bagi penjagaan kedamaian sosial selama tahapan penggantian
kapital tetap, dan sebuah kebijakan yang pada dasarnya anti kapitalis, dengan
sebuah program reformasi struktural anti kapitalis jangka pendek.
Tujuan pokok dari reformasi tersebut adalah untuk mengambil tingkat
kepemimpinan dalam ekonomi dari kelompok-kelompok finansial, trust-trust dan
monopoli dan menempatkan mereka di tangan bangsa, untuk menciptakan sebuah
sektor publik tekanan menentukan dalam kredit, industri dan transportasi, dan
untuk mendasarkan semuanya dalam kontrol pekerja. Hal ini akan menandai
kemunculan kekuasaan ganda pada tingkat perusahaan dan dalam seluruh ekonomi
dan akan secara cepat berpuncak pada kekuasaan politik ganda antara klas
pekerja dan pemimpin-pemimpin kapitalis.
Tahapan ini kemudian dapat dipakai dalam penaklukan kekuasaan oleh pekerja
dan pendirian pemerintahan klas pekerja yang dapat melanjutkan pembangunan
demokrasi sosialis bebas dari eksploitasi dan semua setan-setannya.