Pembangunan Ekonomi Indonesia Saat Ini, Konsep vs Implementasi
Setahun sudah MP3EI ( Masterplan
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) direalisasikan. Satu
bentuk perencanaan utama yang muncul di bulan Mei tahun 2011 atas inisiatif
Kementerian Koordinator Perekonomian dalam rangka meningkatkan pembangunan
Ekonomi Indonesia. Berbagai tanggapan positif dan negatif muncul dari berbagai
kalangan, termasuk mahasiswa.
Sejak dulu semua orang tahu,
bahwa negara kita sudah punya blueprint pembangunan yang secara konsep
dan teori sudah benar secara ilmiah, dari sejak dulu konsep Repelita yang
begitu didengungkan di zaman orde baru, hingga kini berganti menjadi Rencana
Pembangunan jangka Menengah maupun Panjang. Kemudian datanglah MP3EI, Pro
kontra seketika muncul didalamnya, banyak yang meragukan ini hanya menjadi
sekeder dokumen perencanaan bentuk lain yang hanya akan menjadi dokumen di atas
kertas lainnya yang menemani dokumen perencaan sentral lainnya yang sudah lebih
dahulu muncul seperti Rencana Tata Ruang Nasional, Rencana Pembangunan
Nasional,dan lain-lainnya yang begitu baik,ideal, dan menjanjikan.
Harus diakui semua dokumen yang
telah dibuat sebelumnya, begitu lemah dalam implementasi. Para pelaksana di
daerah dan lapangan begitu kebingunan bahkan mengindahkan dokumen-dokumen yang
telah memiliki kekuatan hukum tetap tersebut. Banyak yang skeptis,
rencana-rencana ini tidak realistis, sulit dicapai, utopis, dan tidak berpengaruh
apa-apa.
MP3EI menawarkan salah satu
bentuk implementasi dalam tataran skala nasional, bagaimana Rencana Pembangunan
dan Rencana Tata Ruang yang ada bukan untuk saling bertindihan, namun menjadi
pelengkap dari Rencana-rencana strategis tersebut dalam hal implentasi dan
mendetailkan tahapan-tahapan pembangunan yang ada. Bukan hanya menjadi dokumen
normatif namun juga implementatif bagi pembangunan yang ada, khususnya mengenai
infrastuktur yang dapat menjadi panduan bagi pengambil kebijakan di daerah
serta investor-investor yang ada.
Percepatan,
Pertumbuhan Global dan Perkembangan Ekonomi Nasional
Mengapa harus percepatan? Saat
ini kita terus berpacu dengan persaingan global yang semakin terbuka,
perdagangan bebas dan kemajuan teknologi informasi menuntut kita untuk terus
berpacu dalam membangun perekonomian. Semenjak negara kita dilanda krisis
ekonomi 1998, perekomian kita jatuh, ditinggalkan para investor dan stabilitas
keamanan, sosial, investasi yang sangat rawan digoyang. Kemudian seiring
bangkitnya perekonomian kita kembali, tidak cukup kita hanya bangkit karena
disaat yang sama negara-negara lain terus berkembang. Diperlukan usaha lebih
untuk menjadikan negara kita kembali menjadi Macan Asia, bahkan dunia.
Mau tidak mau, pro maupun kontra
dengan konsep yang dibawa MP3EI ini menawarkan sesuatu yang sedikit banyak
memberikan perubahan yang signifikan dibandingkan dengan konsep lama yang
diterapkan di Indonesia, yaitu Trickle Down Effect dimana menciptakan pusat
pertumbuhan sentralistik yang terus dikembangkan yang tadinya diharapkan akan
memberikan efek tetesan-tetesan perkembangan ekonomi ke orde yang lebih rendah,
kemudian begitu seterusnya tetesan ini akan sampai pada orde terendah. Namun
kenyataannya tetesan ini menetes begitu lambat, bahkan sudah habis atau tidak
sampai pada orde terendah karena terlalu ideal dan memakan proses yang panjang.
Sementara kita harus terus berpacu dengan pertumbuhan global yang terus
mendesak kita untuk terus bersaing.
MP3EI menawarkan babak baru yang
menjanjikan, percepatan dilakukan dalam berbagai hal. Percepatan ini dibangun
melalui industrialisasi yang spesifik, industriailisasi dalam hal ini adalah
bagaimana membangun economic base yang mampu mengolah dan memberi nilai tambah
bagi setiap sumber daya yang dianggap strategis bagi masing-masing kawasan.
Sehingga economic base ini akan menjadi faktor kunci yang kemudian akan mampu
menarik economic non base yang berfungsi sebagai pendukung dari base itu
sendiri. Misalnya industri pertanian yang akan dikembangkan di sulawesi, akan
menjadi economic base yang kemudian akan mengenerate perekonomian pendukung
(non basic) seperti kebutuhan akan industri pembuatan mesin pertanian, pupuk,
pengangkutan, hingga perdagangan kebutuhan dasar dari pekerjanya. Industri
pariwisata di kawasan Bali Nusa Tenggara, diharapkan mampu mengenerate ekonomi
masyarakat lokal melalui kegiatan penyedian industri terkait seperti hotel,
transportasi, rumah makan, sampai pada tergeraknya perekonomian mikro seperti
pembuatan souvenir lokal khas yang dilakukan oleh penduduk setempat.
Setahun berjalan, MP3EI mampu
menarik dan mempercepat investasi baik yang berupa investasi dalam bentuk
infrastuktur maupun sektor rill. Selama setahun 39 proyek infrastuktur bernilai
Rp 195,9 Triliun berhasil dijalankan. Sementara investasi di sektor riil
sejumlah 50 proyek bernilai Rp 294,8 Triliun di seluruh enam koridor yang ada.
Hal ini tentunya memberi angin positif bagi perekonomian nasional, beberapa
dampak yang sudah mulai dapat dirasakan adalah semakin meningkatkan daya beli
dan proporsi penduduk kelas menengah di Indonesia yang semakin besar.
Perluasan,
Pemerataan, Desentralisasi Ekonomi
Pembangunan ekonomi nasional,
tentunya tidak lepas dengan apa yang disebut dengan pemerataan. Isu ketimpangan
antar daerah, Jawa-non Jawa merupakan isu hal yang sudah kita lama ketahui
bersama. Bagaimana kemudian daerah-daerah perbatasan hanya menjadi daerah
terluar bukan daerah terdepan, ibarat teras dan ruang tamu negara yang
harusnya menjadi perhatian utama bukan dianggap sulit dijangkau dan hampir
menjadi bagian negara tetangga atau bahkan menyatakan siap merdeka.
MP3EI menawarkan apa yang disebut
dengan pemerataan, perluasan, serta desentralisasi bagi daerah untuk membuka
investasi sebesar-besarnya sesuai dengan potensi sumber daya yang dimilikinya.
Enam koridor ekonomi yang mencakup di kawasan-kawasan yang secara geopolitik
berdekatan diharapkan mampu memberikan pemerataan yang kita harapkan. Daerah
perdesaan di Kalimantan akan diarahkan mandiri secara ekonomi dengan sumberdaya
pertambangan melimpah yang dimilikinya, inventasi infrastruktur dan sektor riil
akan menjadi faktor penarik dan pendorong yang fundamental bagi pembangunan
ekonomi di koridor tersebut.
Disamping itu perluasan ini
secara mikro tentunya akan menarik peluang kerja dari proyek-proyek pembangunan
yang dijalankan, pengangguran akan mampu dikurangi secara signifikan baik
secara langsung maupun menjadi kegiatan perekonomian sekunder yang muncul dari
proyek pembangunan ekonomi yang ada. Hal ini tentunya kemungkinan secara makro
akan meningkatkan pendapatan perkapita dari Indonesia disamping Produk Domestik
Bruto yang akan semakin tinggi dan kuat karena memiliki fondasi produksi
industri yang kuat.
Jika kita cermati perjalanan satu
tahun MP3EI dalam hal perluasan, dari 39 proyek infrastuktur yang ada, 12
proyek di Sumatera, 17 proyek di Jawa, 4 proyek di Kalimantan, 2 proyek di
Sulawesi, 3 proyek di Bali-NTT, dan I proyek di Papua-Maluku. Sementara di
sektor rill, 14 proyek di Sumatera, 19 proyek di Jawa, 4 proyek di Kalimantan,
7 proyek di Sulawesi, 3 proyek di Bali-NTT, serta 3 proyek di Papua-Maluku. Hal
ini menunjukan pemerintah saat ini cukup serius menanggapi pemerataan di sektor
ekonomi.
Kompas Sudah
Tepat, Kapal Mulai Berlayar
Memang tentu ada berbagai evaluasi
yang muncul selama keberjalanannya, tapi konsep keseluruhan yang dibawa tidak
perlu disangsikan lagi. Saat ini kita dibutuhkan, khususnya generasi muda dalam
mewujudkan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi itu sendiri. Realisasi
adalah kuncinya, dan yang menjadi kelemahan bangsa kita terbesar saat ini.
Seringkali kita tidak mampu menghubungkan jembatan antara konsep dan realisasi.
Bagaimana pun nantinya modifikasi konsep yang dikembangkan ini, yang harus kita
cermati adalah bagiamana MP3EI ini benar-benar mempercepat pembangunan ekonomi
tetapi tetap menguatkan posisi tawar negara kita sendiri terhadap investor
swasta maupun asing yang ada, misalnya dengan tetap memperkuat BUMN,
perlindungan tenaga kerja, maupun sedikit demi sedikit mengurangi
ketergantungan investasi asing dengan menguatkan investasi dalam negeri. Serta
perluasan yang ada saat ini lebih perlu diperhatikan lagi wilayah timur, karena
jika dibandingkan wilayah barat masih cukup jelas ketimpangan yang terlihat.
Secara filosofis, teoritis,
maupun praktek di lapangan selama setahun terakhir, MP3EI memiliki akar yang
kuat, pohonnya mulai tumbuh dengan subur serta buah dan bunganya mulai
bermekaran. Ibarat kapal yang akan berlayar, bahan bakar, logistik, dan kru
sudah mulai berlayar ke tujuan dengan kompas yang tepat. Tidak ada alasan bagi
kita untuk tidak mendukung program ini. Hanya bagaimana keuletan dan
konsistensi dukungan dari seluruh pihak untuk mensukseskan dan mengawal
realisasi program ini. Jadi, pertanyaannya sekarang adalah kenapa kita harus
takut dan menatap kebelakang saat terus berjalan kedepan?