Menu

Rabu, 19 Juni 2013

jeritan rakyat jelata


BBM MELEJIT, LAGI-LAGI RAKYAT MENJERIT







Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan rakyat Indonesia justru tengah “geger” dengan dikeluarkannya kebijakan pemerintah terkait kenaikkan harga BBM. Mahasiswa berbondong-bondong melakukan demonstrasi besar-besaran guna menolak rencana tersebut. Mengapa selalu demikian? Adanya kenaikan harga BBM selalu saja membuat “panas” kondisi negeri ini.

Rasa Ketidak Adilan
Seruan kontra yang paling tampak terkait kenaikan harga BBM berasal dari rakyat, terutama yang berada dalam kondisi ekonomi menengah ke bawah. Kondisi ini tentunya membuat mereka paranoid, jika ditinjau secara logis kenaikan harga BBM menjelang bulan ramadhan tentunya bukan merupakan waktu yang tepat. Masyarakat dihadapkan pada kondisi di mana kenaikan harga BBM tentunya secara praktis ikut mempengaruhi kenaikan harga sejumlah kebutuhan harga pokok nantinya.
Adanya keadaan semacam ini dirasa kurang adil, sehingga wajar apabila kebijakan ini menggerakkan hati para mahasiswa untuk memperjuangkan aspirasi rakyat, yang dirasa tengah tertindas. Maka, bukan hal yang tabu, apabila mahasiswa melakukan demonstrasi secara besar-besaran, bahkan berbuat anarki sebagai wujud rasa ketidak puasan mereka terhadap kebijakan pemerintah tersebut. Rakyat merasa perlu mempertahankan hak-hak mereka sebagai salah satu pertimbangan pemerintah dalam mengesahkan suatu kebijakan. Tentunya, rakyat tidak mau dirugikan oleh kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.

Perlu Berkaca
Sebenarnya adanya gejolak sosial belakangan ini, tidak akan muncul apabila seluruh lapisan masyarakat mau membenahi diri mereka masing-masing. Mengapa demikian? Pada dasarnya, suatu kebijakan yang dikeluarkan oleh badan pemerintah tentunya ditinjau dari beberapa aspek yang telah diperhitungkan sebelumnya. Meski terkesan “kejam” di mata rakyat, akan tetapi tentunya ada aspek positif yang selaras dengan pembuatan keputusan tersebut.
Pertimbangan yang dirasa positif, misalnya dikarenakan pemerintah ingin menekan APBN Negara yang tersedot habis untuk melakukan subsidi BBM di negeri ini. Sebetulnya, Negara Indonesia merupakan Negara dengan harga BBM terendah dibandingkan negara-negara lain di dunia, namun dengan angka konsumtif tertinggi. Dana APBN yang seharusnya mampu mensejahterakan rakyat melalui bidang lain (pendidikan, pembangunan) justru hanya terfokus pada pemenuhan kebutuhan subsidi BBM yang besar dengan harga yang murah meriah. Bukankah ini merugikan rakyat sendiri? Rakyat yang telah memenuhi kewajibannya membayar pajak tentunya sangat dirugikan. Mereka membayar pajak, namun hasilnya salah sasaran.
Tingkah nakal para konglomerat yang selalu saja mencari-cari untung juga turut memperburuk kondisi negeri ini. Misalnya saja premium. Premium seharga Rp. 4.500,-/liter yang seharusnya merupakan subsidi BBM bagi rakyat kelas menengah ke bawah ternyata salah sasaran. Angka penggunaan premium jauh lebih tinggi dibandingkan BBM non-subsidinya, yakni pertamax. Masyarakat yang sebenarnya berasal dari kelas ekonomi menengah ke atas pun tanpa malu-malu menggunankan BBM bersubsidi sebagai bahan bakar kendaraan mulusnya. Mereka enggan membeli pertamax, karena dirasa terlalu mahal. Bukankah ini sebenarnya jauh lebih menciderakan perasaan rakyat kecil dibandingkan dengan keputusan pemerintah menaikkan harga BBM? Mari berkaca!

Perlu Kesadaran dari Semua Pihak
Masalah pelik terkait kenaikan harga BBM ini, tentunya perlu disikapi dengan bijak oleh seluruh kalangan. Kesadaran diri masing-masing individu merupakan kunci sukses tercapainya kemakmuran suatu negeri. Baik dari dalam diri pemerintah, untuk secara bijaksana membuat suatu kebijakan dan keputusan di dasarkan atas pertimbangan yang matang, sehingga dirasa adil bagi seluruh lapisan masyarakat. Dengan begitu tidak ada yang merasa dirugikan atau menguntungkan salah satu pihak dengan adanya kebijakan tersebut.
Rakyat dalam hal ini, juga perlu untuk memiliki kesadaran diri dari masing-masing kalangan. Sudah sepantasnya hukum homo socius berlaku abadi dalam kehidupan bermasyarakat. Manusia pada dasarnya tidak dapat hidup tanpa bantuan dari orang lain. Rakyat dari kelas menengah ke atas harusnya ikut mengayomi orang dengan kondisi di bawah mereka. Tidak sepantasnya seseorang merebut hak yang bukan miliknya. Sedangkan bagi rakyat yang berasal dari kelas menengah ke bawah juga harus mampu menggunakan sumber daya yang ada dengan sewajarnya, menghormati kebijakan pemerintah dan ikut mensukseskan kebijakan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar