BBM MELEJIT, LAGI-LAGI RAKYAT
MENJERIT
Menjelang
datangnya bulan suci Ramadhan rakyat Indonesia justru tengah “geger” dengan dikeluarkannya kebijakan
pemerintah terkait kenaikkan harga BBM. Mahasiswa berbondong-bondong melakukan
demonstrasi besar-besaran guna menolak rencana tersebut. Mengapa selalu
demikian? Adanya kenaikan harga BBM selalu saja membuat “panas” kondisi negeri ini.
Rasa Ketidak Adilan
Seruan
kontra yang paling tampak terkait kenaikan harga BBM berasal dari rakyat,
terutama yang berada dalam kondisi ekonomi menengah ke bawah. Kondisi ini
tentunya membuat mereka paranoid, jika ditinjau secara logis kenaikan harga BBM
menjelang bulan ramadhan tentunya bukan merupakan waktu yang tepat. Masyarakat
dihadapkan pada kondisi di mana kenaikan harga BBM tentunya secara praktis ikut
mempengaruhi kenaikan harga sejumlah kebutuhan harga pokok nantinya.
Adanya
keadaan semacam ini dirasa kurang adil, sehingga wajar apabila kebijakan ini
menggerakkan hati para mahasiswa untuk memperjuangkan aspirasi rakyat, yang
dirasa tengah tertindas. Maka, bukan hal yang tabu, apabila mahasiswa melakukan
demonstrasi secara besar-besaran, bahkan berbuat anarki sebagai wujud rasa
ketidak puasan mereka terhadap kebijakan pemerintah tersebut. Rakyat merasa perlu
mempertahankan hak-hak mereka sebagai salah satu pertimbangan pemerintah dalam
mengesahkan suatu kebijakan. Tentunya, rakyat tidak mau dirugikan oleh
kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.
Perlu Berkaca
Sebenarnya
adanya gejolak sosial belakangan ini, tidak akan muncul apabila seluruh lapisan
masyarakat mau membenahi diri mereka masing-masing. Mengapa demikian? Pada
dasarnya, suatu kebijakan yang dikeluarkan oleh badan pemerintah tentunya
ditinjau dari beberapa aspek yang telah diperhitungkan sebelumnya. Meski
terkesan “kejam” di mata rakyat, akan
tetapi tentunya ada aspek positif yang selaras dengan pembuatan keputusan
tersebut.
Pertimbangan
yang dirasa positif, misalnya dikarenakan pemerintah ingin menekan APBN Negara
yang tersedot habis untuk melakukan subsidi BBM di negeri ini. Sebetulnya,
Negara Indonesia merupakan Negara dengan harga BBM terendah dibandingkan negara-negara
lain di dunia, namun dengan angka konsumtif tertinggi. Dana APBN yang
seharusnya mampu mensejahterakan rakyat melalui bidang lain (pendidikan,
pembangunan) justru hanya terfokus pada pemenuhan kebutuhan subsidi BBM yang
besar dengan harga yang murah meriah. Bukankah ini merugikan rakyat sendiri?
Rakyat yang telah memenuhi kewajibannya membayar pajak tentunya sangat
dirugikan. Mereka membayar pajak, namun hasilnya salah sasaran.
Tingkah
nakal para konglomerat yang selalu saja mencari-cari untung juga turut
memperburuk kondisi negeri ini. Misalnya saja premium. Premium seharga Rp.
4.500,-/liter yang seharusnya merupakan subsidi BBM bagi rakyat kelas menengah
ke bawah ternyata salah sasaran. Angka penggunaan premium jauh lebih tinggi
dibandingkan BBM non-subsidinya, yakni pertamax. Masyarakat yang sebenarnya berasal
dari kelas ekonomi menengah ke atas pun tanpa malu-malu menggunankan BBM
bersubsidi sebagai bahan bakar kendaraan mulusnya. Mereka enggan membeli
pertamax, karena dirasa terlalu mahal. Bukankah ini sebenarnya jauh lebih
menciderakan perasaan rakyat kecil dibandingkan dengan keputusan pemerintah
menaikkan harga BBM? Mari berkaca!
Perlu Kesadaran dari Semua Pihak
Masalah
pelik terkait kenaikan harga BBM ini, tentunya perlu disikapi dengan bijak oleh
seluruh kalangan. Kesadaran diri masing-masing individu merupakan kunci sukses
tercapainya kemakmuran suatu negeri. Baik dari dalam diri pemerintah, untuk
secara bijaksana membuat suatu kebijakan dan keputusan di dasarkan atas
pertimbangan yang matang, sehingga dirasa adil bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dengan begitu tidak ada yang merasa dirugikan atau menguntungkan salah satu pihak
dengan adanya kebijakan tersebut.
Rakyat
dalam hal ini, juga perlu untuk memiliki kesadaran diri dari masing-masing
kalangan. Sudah sepantasnya hukum homo
socius berlaku abadi dalam kehidupan bermasyarakat. Manusia pada dasarnya
tidak dapat hidup tanpa bantuan dari orang lain. Rakyat dari kelas menengah ke
atas harusnya ikut mengayomi orang dengan kondisi di bawah mereka. Tidak
sepantasnya seseorang merebut hak yang bukan miliknya. Sedangkan bagi rakyat
yang berasal dari kelas menengah ke bawah juga harus mampu menggunakan sumber
daya yang ada dengan sewajarnya, menghormati kebijakan pemerintah dan ikut
mensukseskan kebijakan tersebut.
